Nestapa Makam Guru Bung Karno dan Fotografer Proklamasi di Pandu

Nestapa Makam Guru Bung Karno dan Fotografer Proklamasi di Pandu

Rifat Alhamidi - detikJabar
Sabtu, 22 Agu 2026 08:38 WIB
Makan keluarga Ursone di TPU Pandu Bandung, Jumat (15/8/2026).
Makan keluarga Ursone di TPU Pandu Bandung, Jumat (15/8/2026). (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pandu, Kota Bandung, tak sekadar menjadi tempat persemayaman biasa bagi orang-orang. Di baliknya, area dengan total seluas 8,3 hektare itu menyimpan sejarah panjang, termasuk sejumlah tokoh yang punya pengaruh besar bagi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Satu sosok yang namanya kini abadi di Makam Pandu adalah Alex Impurung Mendur atau Alex Mendur. Pria kelahiran Kawangkoan, Sulawesi Utara, itu bersama adiknya, Frans Mendur, merupakan fotografer yang memotret pembacaan proklamasi oleh Bung Karno di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Namun sayang, makam Alex Mendur di TPU Pandu tampak biasa saja. Posisinya berada di deretan paling depan dekat Jalan Dr. Djunjunan atau Jalan Pasteur, lalu hanya perlu menempuh jalan kaki ke arah barat untuk sampai di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diapit sejumlah makam lain, makam Alex Mendur baru bisa terlihat setelah namanya tertulis di batu nisan, lengkap dengan simbol salib berwarna putih. Kemudian di atasnya, ada kutipan Kitab Injil Mazmur 23: 'Tuhan Adalah Gembalaku'.

ADVERTISEMENT

Yang membedakan hanya ada batu penanda di makam Alex Mendur. Meski warnanya sudah kusam, masih ada tulisan 'Fotografer Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945' yang bisa dibaca lebih dekat.

Fenomena inilah yang mengundang sorotan sejumlah pegiat sejarah dari Sahabat Heritage Indonesia (SHI). Bahkan beberapa waktu yang lalu, SHI menemukan makam Alex Mendur dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

"Ini sebenarnya menggambarkan betapa rendahnya apresiasi kita, masyarakat Bandung, khususnya terhadap peninggalan sejarah yang ada di kota Bandung. Jadi kita di komunitas SHI ini termasuk komunitas yang ingin membangkitkan kembali awareness tersebut," kata pegiat sejarah SHI, M Ryzki Wiryawan saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.

Secara pribadi, Ryzki memang tidak begitu mendalami bagaimana kiprah heroik Alex Mendur semasa hidupnya. Namun berdasarkan sumber sejarah, Alex Mendur, kata dia, menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia, meski belum dianugerahi gelar pahlawan.

Selain Alex Mendur, ada sejumlah tokoh lain yang punya kiprah dalam sejarah Bandung tempo dulu dan dimakamkan di TPU Pandu. Mulai dari C.P. Wolff Schoemaker, mentor sekaligus guru Bung Karno, keluarga Ursone yang berkebangsaan Italia dan merupakan pemilik perusahaan susu sapi yang berlokasi di Lembang, hingga Charles Philippe Marie Mathus Bogaerts dan Johannes Cornelis Pols, pilot dan kopilot pesawat F.C.V 442 yang kecelakaan di Padalarang.

Bagi para pegiat sejarah, nama Schoemaker tentu sudah tidak asing lagi didengar. Dia merupakan guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng, kini ITB, dengan karya arsitektur yang sudah melegenda hingga saat ini seperti Villa Isola, Hotel Preanger hingga Gedung Merdeka.

Namun masalahnya, kata Ryzki, makam tokoh bersejarah di TPU Pandu justru belum dirawat secara optimal. Kondisi ini malah berbeda jauh dengan Ereveld di dekatnya yang merupakan kompleks pemakaman bagi 4.000 tentara Belanda yang gugur, termasuk warga sipil Belanda selama Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Indonesia.

"Kita pernah membersihkan kembali makam-makam, bahkan makam Belanda yang yang kita anggap punya sejarah di Bandung, tapi dia berada dalam keadaan yang kurang terawat. Mereka merupakan bagian dari sejarah Bandung, tanpa harus meihat apakah mereka hitam-putihnya di masa lalu. Tapi yang pasti mereka merupakan tokoh sejarah, dan kita bisa belajar banyak dari dari sejarah hidup mereka," ungkapnya.

"Jadi kita tidak melihat bahwa siapa yang dimakamkan di sana, tapi yang pasti selayaknya lah diberi perhatian pemerintah minimal dengan menjaga makam mereka. Apa salahnya kalau pemerintah kan mungkin tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk bisa mempertahankan. Kalau tidak bisa memperbaiki ya minimal mempertahankan," tuturnya menambahkan.

Menutup perbincangannya dengan detikJabar, Ryzki pun mendorong pemerintah agar lebih peduli merawat makam tokoh-tokoh bersejarah, seperti di TPU Pandu. Sebab menurutnya, sebuah makam jadi perjalanan sejarah pembangunan sebuah kota yang tidak bisa dihilangkan eksistensinya.

"Jadi ketika kita kehilangan makam misalnya, apalagi makam tua di sebuah kota, maka kita juga pelan-pelan menghilangkan sejarah kota tersebut. Jadi kita enggak mau Bandung kehilangan identitas sejarahnya. Bandung saat ini sudah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sudah banyak bangunan yang berubah," pungkasnya.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads