Aksi Heroik 67 Polisi dan Perang Cisokan Didesak Masuk Sejarah Nasional

Aksi Heroik 67 Polisi dan Perang Cisokan Didesak Masuk Sejarah Nasional

Ikbal Slamet - detikJabar
Sabtu, 22 Agu 2026 05:00 WIB
Kantor polisi Cianjur yang jadi lokasi pengibaran merah putih pertama di Cianjur
Kantor polisi Cianjur yang jadi lokasi pengibaran merah putih pertama di Cianjur. (Foto: Istimewa)
Cianjur -

Sejarawan mendesak aksi 67 polisi heroik pengibaran bendera pertama dan Perang Cisokan di Kabupaten Cianjur dimasukkan dalam sejarah nasional. Pasalnya, kedua aksi tersebut menjadi sejarah penting dan berkontribusi baik dalam perjuangan hingga mempertahankan kemerdekaan.

Sejarawan perang, Hendi Jo mengatakan 67 polisi tersebut menurunkan bendera Jepang dan mengibarkan Sang Merah Putih saat Indonesia belum secara resmi menyatakan kemerdekaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ini momen luar biasa. Mereka dengan sadar dan berani mengibarkan bendera di 16 Agustus 1945 di markas kepolisian Cianjur yang kala itu masih diduduki Jepang," kata dia usai peringatan Hari Juang Polri di Cianjur, Jumat (21/8/2026).

Menurut dia, tindakan heroik tersebut membakar semangat pemuda dan warga Cianjur untuk turut mengibarkan Merah Putih.

ADVERTISEMENT

"Untuk warga yang tinggal di sekitaran kantor polisi Cianjur, seketika turut mengibarkan merah putih. Sedangkan para pemuda mengibarkan bendera secara resmi di kantor keresidenan Jepang pada 18 Agustus 1945," kata dia.

Hendi mengatakan momen bersejarah tersebut tidak sebatas membuktikan cinta Tanah Air, tetapi pengakuan untuk menyerahkan jiwa raga bergabung dengan Indonesia sebelum merdeka.

"Tentu ini sangat mengharukan. 67 polisi ini sudah mendeklarasikan diri secara tidak langsung mereka bagian dari kepolisian dan NKRI, 6 hari sebelum secara resmi Mohammad Jasin membacakan Proklamasi Polri dan menyatakan diri sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan," kata dia.

Sayangnya, lanjut dia, momen tersebut belum tercatat dalam sejarah Polri ataupun sejarah nasional. Bahkan tak masuk dalam daftar perjuangan yang kerap dibacakan dalam momen Hari Juang Polri.

"Makanya saya mendorong agar sejarah ini turut dimasukan. Kami dari peneliti sejarah akan menyuguhkan dokumen-dokumen penunjang agar nantinya sejarah itu dimasukan. Hari ini sejarah tersebut disampaikan di Polres Cianjur dalam peringatan Hari Juang Polri, dan ke depan kami hadal juga disampaikan di seluruh kepolisian di Indonesia," kata dia.

Di sisi lain, Hendi Jo juga menyinggung terkait peristiwa Perang Cisokan yang juga tak kalah heroik. Berbagai kelompok pejuang bersatu melawan tentara Inggris.

"Momen itu bahkan tercatat dari berbagai buku. Bahkan perlawanan pejuang di Cisokan Ciranjang tersebut membuat Inggris dan pasukannya menganggap Jalur Cianjur sebagai jalur neraka atau jalur kematian," kata dia.

Tetapi, lagi-lagi momen bersejarah mempertahankan kemerdekaan itu tak tercatat di buku sejarah, baik di tingkat lokal ataupun nasional.

"Padahal aksi tersebut berdampak bagi perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Ini rangkaian yang tidak boleh dilupakan. Perjuangan tidak hanya terjadi di kota besar, tapi Cianjur pun terjadi perjuangan yang heroik. Makanya saya juga mendesak sejarah ini dicatat oleh nasional," tegas dia.

Sementara itu, Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho mengatakan terkait aksi heroik 67 polisi, pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk membangun monumen sebagai pengingat dan penghargaan.

"Keluarganya akan kami telusuri dan beri apresiasi. Dan, akan kami bangunkan monumen agar jasa mereka terus diingat. Bahkan rencananya kami akan jadikan buku sejarah Polri di Cianjur," kata dia.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads