Infografis: Menyingkap Rahasia Ular Naga di Gunung Sanggabuana

Infografis: Menyingkap Rahasia Ular Naga di Gunung Sanggabuana

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 20 Agu 2026 08:00 WIB
Ular Naga (Xenodermus javanicus)
Infografis Ular Naga Jawa di Sanggabuana (Foto: Notebook LM)
Bandung -

Dalam ingatan masyarakat Sunda, nama Naga Antaboga atau Sanghyang Antaboga sangat lekat sebagai sosok dewa dalam mitologi asal-usul padi. Namun, siapa sangka jika sosok "naga" ini benar-benar ada di dunia nyata dan mendiami Gunung Sanggabuana, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Ular yang memiliki nama ilmiah Xenodermus javanicus ini sering dianggap sebagai hewan 'penunggu' Gunung Sanggabuana. Penamaan 'naga' sendiri merujuk pada sisik punggungnya yang menonjol seperti gerigi, sangat mirip dengan penggambaran naga dalam legenda.

Karakteristik Sang Naga: Unik dan 'Aneh'

Secara etimologi, nama Xenodermus berarti 'kulit aneh', sebuah identitas yang pas untuk menggambarkan evolusi unik dari keluarga Xenodermidae ini. Berbeda dengan naga dalam mitos yang berukuran raksasa, panjang tubuh Ular Naga Jawa ternyata tidak sampai 1 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ular ini umumnya tumbuh hingga 50 centimeter, dengan ciri khas tiga baris sisik kasar yang menonjol di punggungnya. Fakta menarik lainnya, ular betina cenderung memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan jantan.

Meskipun namanya mengandung unsur 'Jawa', spesies ini sebenarnya tersebar luas. Dr. Felix Kopstein dalam studinya tahun 1938 mencatat: "Wilayah distribusi yang diketahui saat ini adalah Semenanjung Malaya (Pinang, Perak, Victoria Point), Sumatra, Jawa, dan Kalimantan".

ADVERTISEMENT

Bukan Monster, Melainkan Sosok 'Pemalu'

Banyak yang menduga ular naga adalah predator berbahaya. Faktanya, Ular Naga Jawa sama sekali tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia. Alih-alih menyemburkan api, ular ini justru memangsa hewan kecil seperti katak dan cacing.

Sifatnya pun sangat pemalu dan nokturnal, atau aktif di malam hari. Mereka sangat menyukai habitat yang sejuk dan lembap di atas ketinggian 1.000 mdpl.

Situs Animalia BRIN menyebutkan: "Habitat dengan kondisi udara sejuk, ketinggian di atas 1.000 mdpl serta daerah lembap dekat bebatuan dan aliran air sangat ia sukai. Sebab mereka sering bersembunyi di daerah bebatuan".

Mengapa Tidak Boleh Dipelihara?

Meski bentuknya eksotis, para ahli sangat melarang Ular Naga Jawa dijadikan hewan peliharaan. Hal ini dikarenakan habitat aslinya di hutan lembap dan dekat aliran sungai sangat sulit ditiru dalam lingkungan buatan.

Ular ini dikenal mudah stres jika berada di lingkungan yang tidak sesuai. Oleh karena itu, membiarkannya hidup bebas di alam liar, seperti di kawasan Gunung Sanggabuana, adalah langkah terbaik untuk menjaga kelestarian sang "naga" nyata ini.

Saat ini, International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih menetapkan statusnya dalam kategori least concern atau risiko rendah, yang berarti populasinya masih relatif terjaga di nusantara.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads