Imbas Kebakaran Kalimantan, 108 Sekolah di Malaysia Tutup Sementara

Kabar Internasional

Imbas Kebakaran Kalimantan, 108 Sekolah di Malaysia Tutup Sementara

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikJabar
Kamis, 20 Agu 2026 20:00 WIB
Kabut asap lintas batas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, mulai berdampak ke sejumlah wilayah Malaysia, Rabu (12/8/2026). Asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan hingga membuat jarak pandang dan kualitas udara menurun. REUTERS/Hasnoor Hussain
Langit Kuala Lumpur Diselimuti Kabut Asap dari Kalimantan (Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain)
Malaysia -

108 sekolah di wilayah Serian, Serawak, Malaysia ditutup sementara terimbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Indeks Pencemaran Udara (API) di kawasan itu melebihi ambang batas polusi.

Dilansir Bernama, Kamis (20/8/2026) Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) mengatakan bahwa setelah penutupan tersebut, Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) akan dilanjutkan. Pembelajaran di rumah dilakukan agar aktivitas belajar siswa tidak terganggu.

"Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200," kata JPBN Sarawak dalam sebuah pernyataannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk diketahui, indeks API nol hingga 50 menunjukkan kualitas udara yang baik, 51 hingga 100 sedang, 101 hingga 200 tidak sehat, 201 hingga 300 sangat tidak sehat, sedangkan pembacaan di atas 300 berbahaya.

ADVERTISEMENT

JPBN Sarawak menyatakan bahwa kualitas udara di Sarawak menunjukkan tren peningkatan pada pembacaan API sejak 1 Agustus.

"Hingga pukul 4 sore hari ini, dua wilayah mencatat pembacaan API dalam kategori sangat tidak sehat, yaitu 212 di Tebedu dan 202 di Serian, sementara 11 wilayah berada dalam kategori tidak sehat, yaitu Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas," katanya.

JPBN Sarawak juga menyarankan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika indeks kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat atau lebih tinggi.

"Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.

(rdp/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads