66 Juta Tahun Menghilang, Ikan Purba Ini Ternyata Masih Hidup

Kabar Internasional

66 Juta Tahun Menghilang, Ikan Purba Ini Ternyata Masih Hidup

Aisyah Kamaliah - detikJabar
Minggu, 16 Agu 2026 22:00 WIB
Ikan coelacanth di Laut Maluku
Ikan coelacanth di Laut Maluku (Foto: Tangkapan layar Scientific Reports dokumentasi Alex Chappuis)
Jakarta -

Selama puluhan juta tahun, para ilmuwan mengira coelacanth telah lenyap dari Bumi. Ikan purba itu tidak lagi ditemukan dalam catatan fosil sejak sekitar 66 juta tahun lalu, hingga sebuah penemuan tak terduga pada 1938 membuktikan bahwa spesies tersebut masih bertahan di laut.

Penemuan itu bermula dari permintaan sederhana seorang kurator museum di Afrika Selatan.

Pada 1930-an, sebagaimana dilansir dari detikInet, Marjorie Courtenay-Latimer yang bekerja di East London Museum meminta para nelayan setempat memberi tahu jika mereka menemukan sesuatu yang tidak biasa dalam hasil tangkapan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Permintaan tersebut kemudian membawa Courtenay-Latimer pada salah satu penemuan zoologi paling mengejutkan pada abad ke-20.

ADVERTISEMENT

Pada 22 Desember 1938, ia menerima telepon dari kapten kapal Nerine. Sang kapten melaporkan adanya ikan aneh di antara hasil tangkapan sampingan kapal.

Courtenay-Latimer yang saat itu sedang menata pameran fosil reptil langsung meninggalkan pekerjaannya. Ia kemudian naik taksi menuju lokasi untuk melihat ikan tersebut.

Begitu melihatnya, ia langsung terpukau.

Courtenay-Latimer menggambarkan ikan tersebut memiliki warna biru pucat keunguan dengan bintik-bintik putih samar. Tubuhnya juga tampak berkilau dengan perpaduan warna perak, biru, dan hijau.

"Ikan itu diselimuti sisik keras, serta memiliki empat sirip yang menyerupai anggota tubuh dan ekor aneh yang mirip ekor anak anjing," ujarnya kepada The Guardian pada 2004.

Ikan tersebut memiliki panjang hampir 1,5 meter. Ukurannya bahkan membuat sopir taksi kebingungan ketika diminta membawa ikan itu di bagasi mobil.

Namun, ketika Courtenay-Latimer membawa spesimen tersebut ke museum, penemuannya belum langsung dianggap istimewa.

Ketua museum justru mengabaikan dugaan Courtenay-Latimer bahwa ikan tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia mengira ikan itu hanyalah rock cod.

Berpacu dengan Waktu

Courtenay-Latimer kemudian mencoba mencari identitas ikan tersebut melalui buku-buku referensi di museum. Namun, ia tidak menemukan jawaban.

Masalah lain segera muncul. Bangkai ikan tersebut harus segera diawetkan sebelum membusuk. Fasilitas setempat tidak dapat membantu menjaga tubuh ikan tetap dingin, sementara Courtenay-Latimer juga belum berhasil menghubungi ahli yang dapat mengidentifikasinya.

Akhirnya, ia memutuskan isi perut ikan dikeluarkan dan tubuhnya diawetkan melalui proses taxidermy.

Titik terang baru muncul setelah spesimen tersebut berhasil diawetkan.

Courtenay-Latimer kemudian mengirim surat beserta sketsa kasar ikan itu kepada James Leonard Brierley Smith dari Rhodes University, Grahamstown, yang kini bernama Makhanda.

Setelah beberapa kali gagal terhubung, Smith akhirnya menerima informasi tersebut. Ia kemudian datang langsung ke museum pada 16 Februari 1939.

Smith mengaku sangat terkejut ketika pertama kali melihat spesimen tersebut.

"Meskipun saya sudah bersiap, pemandangan pertama itu menghantam saya bagaikan semburan panas yang membara dan membuat saya merasa gemetar serta aneh; tubuh saya terasa berdesir," tulis Smith dalam bukunya, Old Fourlegs: The Story of the Coelacanth.

"Saya berdiri mematung seolah-olah berubah menjadi batu. Ya, tidak ada keraguan sedikit pun; mulai dari sisik demi sisik, tulang demi tulang, hingga sirip demi sirip, itu benar-benar seekor coelacanth," tulisnya.

Fosil Hidup yang Muncul Kembali

Identifikasi Smith menggemparkan dunia ilmiah. Coelacanth selama ini dianggap telah punah sekitar 66 juta tahun lalu, ketika catatan fosilnya menghilang setelah periode kepunahan massal yang juga menandai berakhirnya era dinosaurus non-unggas.

Ikan yang ditemukan Courtenay-Latimer tersebut kemudian diberi nama Latimeria chalumnae. Nama genusnya diambil dari nama Courtenay-Latimer, sedangkan nama spesiesnya merujuk pada Sungai Chalumna di dekat lokasi penemuan.

Smith kemudian terlibat dalam pencarian yang menghasilkan penemuan coelacanth kedua sekitar 14 tahun kemudian.

Hingga kini, setidaknya dua spesies coelacanth yang masih hidup diketahui menghuni perairan dunia. Selain L. chalumnae di sekitar Afrika, terdapat Latimeria menadoensis yang dikenal sebagai coelacanth Indonesia atau ikan raja laut.

Spesies tersebut ditemukan di sekitar Manado pada 1997 dan diketahui hidup di perairan dalam Indonesia. Dalam penemuan-penemuan berikutnya, keberadaan ikan purba ini juga terungkap di perairan Maluku Utara.

Meski telah ditemukan kembali, coelacanth masih menyimpan banyak misteri. Ikan ini hidup di laut dalam sehingga sulit diamati secara langsung.

Populasinya juga berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan coelacanth dalam kategori sangat terancam punah.

Lebih dari delapan dekade setelah Courtenay-Latimer menemukan ikan aneh di antara hasil tangkapan nelayan, coelacanth tetap menjadi salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana alam bisa menyimpan kejutan.

Ikan yang selama puluhan juta tahun dianggap telah hilang ternyata masih berenang di laut dalam-menunggu hingga manusia akhirnya menemukannya kembali.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, selengkapnya di sini



(ask/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads