Infografis: Saat Bandung Punya Julukan Menyeramkan

Lorong Waktu

Infografis: Saat Bandung Punya Julukan Menyeramkan

Tim detikJabar - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 09:00 WIB
Infografis Bandung berjuluk Kuburan Anak Bayi.
Infografis Bandung berjuluk 'Kuburan Anak Bayi'. (Foto: Olah visual menggunakan ChatGPT)
Bandung -

Bandung hari ini dikenal sebagai Kota Kembang, Paris van Java, hingga Paradise in Exile. Namun, jauh sebelum tumbuh menjadi kota metropolitan, Bandung pernah menyandang julukan yang terdengar jauh lebih kelam, yaitu kinderkerkhof atau 'kuburan anak bayi'.

Julukan itu muncul pada pertengahan abad ke-19, ketika Bandung masih berupa desa kecil yang sunyi. Tingginya angka kematian bayi dan balita membuat banyak kuburan anak ditemukan di sekitar rumah-rumah warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam jurnal Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung karya Nandang Rusnandar berjudul Sejarah Kota Bandung "Bergedessa" (Desa Udik) Menjadi Bandung "Heurin Ku Tangtung" Metropolitan, disebutkan Bandung saat itu dikenal sebagai een kleine berg dessa atau desa pegunungan yang mungil.

Kondisi geografis Bandung turut mempengaruhi kehidupan masyarakat kala itu. Bekas danau purba membuat masih banyak rawa tersebar di berbagai tempat, yang kemudian menjadi lingkungan ideal bagi berkembangnya penyakit seperti malaria dan kolera.

ADVERTISEMENT

"Hal tersebut menjadikan desa ini pun mendapat julukan kinderkerkhof (kuburan anak bayi), terbukti pada waktu itu banyaknya kuburan anak balita di setiap halaman rumah," tulis Nandang dalam jurnalnya, mengutip buku Haryoto Kunto tahun 1996.

Wabah dan Kuburan di Halaman Rumah

Memasuki awal abad ke-20, persoalan kesehatan belum juga sepenuhnya teratasi. Sekitar 1910, Bandung dilanda wabah kolera yang menyebabkan angka kematian kembali tinggi.

Pada masa itu, pemakaman belum tertata seperti sekarang. Jenazah warga kerap dimakamkan di halaman rumah atau lahan kosong karena belum tersedia sistem pemakaman umum yang terorganisasi.

Kondisi tersebut terjadi setelah Bandung ditetapkan sebagai gementee atau kota oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada 1 April 1906. Di tengah pertumbuhan kota, persoalan lingkungan dan kesehatan masih menjadi pekerjaan besar.

Pegiat sejarah Komunitas Aleut, Ariyono Wahyu Widjajadi atau Alex, menjelaskan bahwa menguburkan anggota keluarga di halaman rumah merupakan kebiasaan masyarakat Bandung, terutama pribumi, pada masa tersebut.

Saat itu, tata kota belum mengatur secara jelas lokasi pemakaman. Kondisi lingkungan yang buruk dan minimnya pengetahuan tentang kesehatan juga ikut membuat angka kematian tetap tinggi.

"Angka kematian cukup tinggi. Jadi, menurut saya bukan hanya karena wabah. Faktor lingkungan juga, karena waktu itu belum dikelola dengan baik," kata Alex kepada detikJabar.

Bandung Mulai Berbenah

Pemerintah kemudian mulai membenahi wajah Bandung melalui berbagai aturan penataan kota. Salah satunya adalah Bouwverrordening van Bandoeng, yang mengatur antara lain pengembangan permukiman dan penataan ruang terbuka hijau.

Aturan tersebut turut mendorong hadirnya taman-taman kota serta kompleks pemakaman yang lebih tertata. Warga perlahan diarahkan untuk meninggalkan kebiasaan menguburkan anggota keluarga di halaman rumah.

"Kemudian diatur kebiasaan untuk menguburkan anggota keluarga. Menguburkan itu tidak di area rumah, tapi dalam satu kompleks," kata Alex.

Menurut Alex, perubahan tersebut bukan hanya soal tata ruang, tetapi juga mengubah suasana Bandung yang sebelumnya terasa muram. Kuburan yang tersebar di sekitar rumah membuat lingkungan permukiman terlihat semakin suram.

"Kebiasaan menguburkan keluarga di area rumah, atau tidak dalam satu kompleks Itu yang menurut saya, yang kemudian menjadikan suasana kota suram," ucap Alex menambahkan.

Sejumlah kompleks pemakaman kemudian dibangun berdasarkan kelompok masyarakat pada masa itu. TPU Astanaanyar dan Sirnaraga diperuntukkan bagi pribumi, Pemakaman Pandu bagi warga Eropa, sementara Cikadut digunakan untuk masyarakat Tionghoa.

Seiring pembenahan tata kota dan meningkatnya perkembangan Bandung, kondisi kehidupan masyarakat pun perlahan berubah. Julukan kinderkerkhof yang begitu menyeramkan akhirnya ikut tenggelam bersama perubahan wajah kota.

Dari desa kecil yang dikelilingi rawa dan penyakit, Bandung tumbuh menjadi kota besar dengan ruang publik, kawasan permukiman, serta kompleks pemakaman yang lebih tertata.

Di balik julukan 'kuburan anak bayi' itu, tersimpan cerita tentang sebuah kota yang pernah berjuang menghadapi wabah, lingkungan buruk, dan tingginya angka kematian sebelum akhirnya berkembang menjadi Bandung seperti yang dikenal sekarang.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads