Di antara deretan makam di TPU Pandu, Kota Bandung, tersimpan jasad seorang lelaki yang kameranya pernah merekam salah satu hari paling penting dalam sejarah Indonesia. Namanya Alexius Impurung Mendur, fotografer yang berada di balik lensa saat republik ini baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Alex Mendur memang bukan nama yang selalu disebut ketika kisah Proklamasi 17 Agustus 1945 diceritakan. Namun bersama adiknya, Frans Mendur, ia menjadi saksi sekaligus pengabadi detik-detik lahirnya Indonesia melalui bidikan kamera.
Puluhan tahun setelah kamera dan ragam kisah perjuangannya berlalu, Alex Mendur justru beristirahat jauh dari hiruk-pikuk sejarah. Di sebuah sudut TPU Pandu, Kota Bandung, namanya terpatri pada sebuah makam yang pernah luput dari perhatian.
detikJabar sempat berkunjung ke makam Alex Mendur beberapa waktu yang lalu. Diantar oleh warga sekitar bernama Dedi Suherman, satu per satu kepingan sejarah tentang Alex Mendur mulai tergambar.
Makam Alex Mendur sendiri nampak biasa saja. Posisinya berada di deretan paling depan dekat Jalan Dr Djunjunan atau Jalan Pasteur, lalu hanya perlu menempuh jalan kaki ke arah barat untuk sampai di sana.
Diapit sejumlah makam lain, makam Alex Mendur baru bisa terlihat setelah namanya tertulis di batu nisan, lengkap dengan simbol salib berwarna putih. Kemudian di atasnya, ada kutipan Kitab Injil Mazmur 23: 'Tuhan Adalah Gembalaku'.
Yang membedakan hanya ada batu penanda di makam Alex Mendur. Meski warnanya sudah kusam, namun masih ada tulisan 'Fotografer Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945' yang bisa dibaca lebih dekat.
Beruntung, Dedi Suherman masih bisa mengingat kepingan kisah Alex Mendur. Meski sehari-hari hanya berjibaku menjadi petugas kebersihan makam, namun Dedi kerap mengantar sejumlah orang ke makam Alex Mendur dan akhirnya mendapat cerita mengenai kiprah hidup sang fotografer.
"Dulu mah, di sini ada spanduk yang menjelaskan Alex Mendur itu siapa. Dari sana bapak tahu sedikit-sedikit, terus banyak orang yang datang ke sini sering cerita kalau ini teh fotografernya Bung Karno saat membacakan teks proklamasi," kata Dedi dalam perbincangannya bersama detikJabar.
Alex Mendur lahir di Kawangkoan Sulawesi Utara, 7 November 1907. Ayahnya bernama August Mendur dan ibunya bernama Ariance Mononimbar yang merupakan warga asli Kawangkoan.
Alex merupakan anak pertama dari sebelas bersaudara. Hubungan Alex dengan adik-adiknya cukup dekat, termasuk dengan Frans Mendur yang menjadi partner-nya dalam upaya mengabadikan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Perkenalan Alex Mendur dengan dunia fotografi dimulai saat saudaranya, Anton Nayoan yang datang dari tanah Jawa. Tanah Jawa sendiri merupakan sebutan yang diberikan orang-orang di luar Pulau Jawa untuk Batavia, atau yang kini disebut Jakarta. Anton sendiri saat itu bekerja di sebuah perusahaan Belanda yang menjual alat-alat keperluan fotografi.
Alex sempat tidak mendapat izin dari kedua orang tuanya lantaran kala itu masih berusia 15 tahun. Namun berkat kesabaran, Alex dan Anton akhirnya bisa berangkat ke Tanah Jawa pada 1922.
Alex mendapat kesempatan untuk belajar mengenai fotografi dan bekerja di tempat Anton hingga 1926. Setelah selesai menimba ilmu di perusahaan Belanda, Alex pergi ke Bandung untuk bekerja di perusahaan fotografi milik Inggris.
Tak lama, Alex kembali ke Jakarta setelah mendapat tawaran dari perusahaan Jerman. Ketika kembali ke Jakarta itulah Alex bertemu dengan Emmy Agustina Wowor dan menikah dengannya pada 1929 di Jakarta.
Karir Alex sempat ia catatkan di di majalah Actueel Wereld Nieuws En Sport In Beeld (Berita Dunia Terkini dan Olahraga dalam Gambar) pada 1931-1934. Pada 1932-1935, Alex juga berkerja di De Java Bode, harian Belanda terkemuka pada zamannya.
Singkatnya, pada periode penjajahan Jepang, Alex sempat menjadi anggota Barisan Pelopor. Namun ia memutuskan berhenti setelah mendapat tugas sebagai Kepala Bagian Fotografi Kantor Berita Domei, sebuah kantor surat kabar era Kekaisaran Jepang pada 1942.
Lalu di suatu pagi pada 17 Agustus 1945, Alexius Mendur mendapatkan kabar dari temannya, Zahrudin, bahwa akan ada suatu kejadian penting di tempat tinggal Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Alex langsung berangkat sembari membawa kamera Leica andalannya.
Ternyata, adik Alex, Frans Mendur, yang pada waktu itu bekerja di Jepang Asia Raya juga mendapat kabar yang sama. Ditambah,kabar Jepang yang telah mengakui kekalahannya sudah tersebar, namun mengenai akan diadakannya pembacaan proklamasi pun masih rahasia.
Namun, situasi menjelang detik-detik proklamasi dibacakan secara terang-terangan tidak mendukung. Tentara Jepang masih berlalu-lalang, memantau aktivitas warga. Bendera hinomaru atau bendera nasional Jepang masih berkibar di mana-mana.
Pukul 10.00 WIB, Soekarno akhirnya membacakan proklamasi kemerdekaan. Upacara pun diadakan dengan sederhana. Hadir pula beberapa wartawan di lokasi, tapi tak ada yang membawa kamera. Hanya Alex dan Frans fotografer yang hadir. Alex membawa senjata andalannya, kamera Leica dan satu roll film kamera penuh. Sedangkan Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film.
Alex mengabadikan banyak momen dalam peristiwa proklamasi tersebut. Sedangkan Frans memilih dengan cerdik momen mana saja yang harus ia abadikan karena plat filmnya terbatas.
Seusai mengabadikan momen, Alex bergegas kembali ke kantornya untuk mencetak foto-foto yang ia ambil. Namun sangat disayangkan, foto-foto tersebut pada akhirnya dirampas Jepang.
Bagi Jepang, foto proklamasi merupakan bukti krusial bahwa Indonesia sudah merdeka. Tanpa foto, tak ada bukti konkret bahwa proklamasi sudah dibacakan. Gambar pada saat itu merupakan sebuah rekaman nyata. Belum ada teknologi secanggih AI. Tidak seperti tulisan, gambar tak bisa dipalsukan. Selain itu, gambar-gambar yang diabadikan oleh para fotografer dianggap ancaman karena bisa membangkitkan dan menyebarkan semangat juang masyarakat.
Bukan hanya Alex, Frans pun sempat didatangi pihak Jepang. Gambar-gambar yang ia tangkap hampir saja direbut. Untungnya, Frans sudah menduga hal itu. Ia dengan cerdas menyembunyikan foto-foto tersebut di bawah pohon kantornya, Asia Raya. Ketika diberondong pertanyaan, Frans mengaku bahwa gambar yang ia tangkap sudah lebih dulu diambil Barisan Pelopor.
Tak sampai di situ, mengutip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang diterbitkan pada 2013, Frans masih harus berusaha diam-diam mencetak foto. Ia dibantu Alex, mengendap-endap di malam hari. Sedikit saja ketahuan bahwa mereka masih menyimpan foto dan sedang berusaha mencetaknya, nyawa keduanya bisa hilang.
Tak ada yang tahu bagaimana nasib foto-foto Alex yang dirampas, ke mana dan apakah sudah dihancurkan. Namun, meski Alex harus kehilangan foto-foto penuh peristiwa bersejarah itu, Indonesia masih punya sisa gambar detik-detik kemerdekaan yang Franstangkap dan tak kalah mahal, seharga kebebasan.
Perjuangan Frans dan Alex tidak sia-sia. Gambar pembacaan proklamasi oleh Soekarno berhasil dimuat pertama kali di harian Merdeka, 7 bulan setelah kemerdekaan, 20 Februari 1946.
Tak hanya itu, kiprah Alex dalam dunia fotografi Indonesia masih berlanjut. Pada 2 Oktober 1946, Alex Mendur, Frans Mendur, J.K. Umbas, F. F. Umbas, dan Alex Mamusung resmi mendirikan Indonesian Press Photo Service (IPPHOS).
IPPHOS tidak dikomersialkan. Untuk menutupi biaya operasional, Alex Mendur dan F. F. Umbas membuka jasa pemotretan pernikahan, dan lain-lain.
IPPHOS pertama kali membuka cabangnya di Jogja pada 1946. Kemudian disusul pada 1948 di Semarang, Palembang, Ujung Padang, dan Surabaya. Manado, Bandung, dan Medan kemudian buka pada 1949.
Tentara Belanda beberapa kali mengobrak-abrik kantor IPPHOS. Mereka juga seringkali menahan para petugas, termasuk Alex dan anaknya, Lexi yang pada saat itu dalam perjalanan pulang dari Jogja.
Belanda menganggap bahwa gambar-gambar yang diambil sangat berbahaya karena dapat menimbulkan semangat juang masyarakat. Hal ini yang menjadi landasan kuat Belanda membubarkan IPPHOS.
Pemerintah pada waktu itu juga sering menyebarluaskan foto yang IPPHOS tangkap, tapi tidak memberikan kredit bahwa IPPHOS yang mengambilnya. Alex tak terlalu menanggapi hal tersebut. Baginya itu hanya buang-buang waktu. Yang Alex tahu, tugasnya adalah mengabadikan. Semuanya ia lakukan sebagai perjuangan bagi bangsa.
Karir Alex di dunia fotografi berhasil membawanya ke Eropa dan Mesir di tahun 1954. Pada 1955, ia diangkat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Alex menerima penghargaan dari PWI atas pengabdiannya terhadap profesi wartawan. Pada 17 Agustus 1983, bersamaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-38, Alex Mendur selaku pemimpin IPPHOS mendapat Bintang Penghargaan Kelas II.
Alex untuk terakhir kalinya menjejakkan kaki di kantor IPPHOS pada 5 Desember 1984. Dua hari setelahnya, penyakit pada saluran kencingnya kambuh. Pada 10 Desember, Alex dibawa ke Bandung atas permintaannya. Hal ini didasari karena ia sudah pernah berobat ke dokter spesialis di kota tersebut.
Alex melakukan operasi prostat pada Kamis (13/12/84). Pada 29 Desember, malam hari, Alex dinyatakan membaik. Keluarga merasa lega. Namun sayangnya, 30 Desember 1984, Alex menghembuskan napas terakhirnya di RS Advent, Bandung pada pukul 04.30 pagi.
Setelah 25 tahun usai kepergiannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009 menganugerahkan gelar Bintang Jasa Utama kepada Alex. Pada 2010, Alex menerima gelar Bintang Mahaputera Nararya. Tiga tahun kemudian, pada 2013, SBY memberikan dedikasi berupa pembangunan patung Alex dan Frans Mendur di Kawangkoan.
Bagi Dedi, kisah Alex Mendur memang hanya ia dapatkan dari percakapan sehari-hari bersama orang-orang yang datang berziarah ke makam. Namun dari lubuk hatinya yang paling dalam, Dedi merasa kiprah sang fotografer jangan sampai dilupakan di tengah gegap gempita kemerdekaan.
"Bapak mah kalau waktu itu enggak ada spanduk, enggak bakal tahu kalau makam ini yang motoin Bung Karno, yah. Soalnya enggak ada papan informasi di sininya, terus beliau juga kan bukan pahlawan," ucapnya.
Untungnya, kata Dedi, keluarga Alex Mendur masih rutin datang berkunjung ke TPU Pandu. Meski belum pernah berbincang dengan mereka, keluarga Alex Mendur tidak pernah lupa untuk merapikan makamnya yang seiring waktu sudah banyak dipenuhi dedaunan hingga rumput liar.
"Alhamdulillah terawat sih, keluarganya juga masih suka ke sini bersihin. Jadi kalau kata saya, bagusnya emang dirawat yah. Orang penting ini soalnya dan banyak yang belum tahu kiprah beliau pas masih hidup," pungkasnya.
Simak Video "Menggugah Selera dengan Kuliner Istimewa di Bogor"
(ral/dir)