Nama KH Abbas Abdul Jamil kembali mencuat seiring proses pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional. Ulama asal Cirebon itu dinilai memiliki jejak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk dalam rangkaian peristiwa yang mengantarkan pecahnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Sosok yang dikenal dengan julukan 'Singa dari Jawa Barat' itu disebut memiliki peran dalam menentukan waktu serangan terhadap pasukan Sekutu di Surabaya. Kiprahnya tidak berhenti di medan pertempuran, tetapi juga dilakukan melalui jaringan pesantren, ulama dan santri.
Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) sekaligus Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Usep Abdul Matin mengatakan, peran KH Abbas dalam Pertempuran Surabaya bermula setelah Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy'ari pada 14 September 1945.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, muncul pertanyaan mengenai kapan serangan terhadap pasukan Sekutu di Surabaya harus dimulai. Bung Tomo kemudian disebut berkomunikasi dengan KH Hasyim Asy'ari terkait rencana tersebut.
Namun, KH Hasyim meminta Bung Tomo menunggu kedatangan KH Abbas dari Cirebon. Sebelum menyerbu pasukan Sekutu, KH Abbas menggelar musyawarah pada 6 November 1945 bersama keluarga, para kiai dan santri.
"Dalam musyawarah itu, KH Abbas kemudian ditunjuk menjadi pemimpin ulama dan santri dari Jawa Barat yang berangkat menuju Surabaya," kata Usep saat diwawancarai detikJabar belum lama ini.
Tiba di Tebuireng, Putuskan Serangan 10 November
Perjalanan rombongan KH Abbas berlanjut ke Tebuireng, Jombang. Mereka tiba pada 9 November 1945, sehari sebelum pecahnya pertempuran besar di Surabaya.
Di sana kembali muncul pembahasan mengenai kapan serangan terhadap pasukan Sekutu dimulai.
Menurut Usep, KH Abbas kemudian mengambil keputusan agar serangan dilakukan pada keesokan harinya.
"KH Abbas mengatakan 'besok subuh harus kita serang'. Artinya besok subuh itu 10 November 1945," ujarnya.
Keputusan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Surabaya.
Menurut Usep, KH Abbas memahami strategi dan posisi pasukan lawan. Ia disebut memimpin umat Islam di bagian tengah Kota Surabaya bersama kekuatan militer Indonesia.
Sementara kelompok kiai, santri dan laskar Muslim bersama tentara Indonesia lainnya bergerak di sejumlah wilayah pinggiran.
Pertempuran Surabaya kemudian menjadi salah satu peristiwa besar dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tanggal 10 November selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Bagi Usep, keterkaitan KH Abbas dengan penentuan waktu serangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam melihat rekam jejak perjuangannya.
"Di situlah jasanya. Jadi, dengan ketetapan tanggal 10 November harus diserang, itu berarti pagi-pagi KH Abbas dan umat Islam sudah harus di Surabaya," ucapnya.
Jejak Perjuangan dari PETA hingga Hizbullah
Perjuangan KH Abbas tidak hanya tercatat dalam peristiwa 10 November 1945. Menurut Usep, KH Abbas memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan melawan penjajahan. Ia disebut terlibat dalam Pembela Tanah Air (PETA), kemudian menjadi Komandan Hizbullah dan Sabilillah.
KH Abbas juga pernah menjadi wakil ulama Jawa Barat di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Perjuangannya dilakukan melalui berbagai jalur. Selain keterlibatan dalam organisasi dan kekuatan perjuangan, KH Abbas memanfaatkan jaringan pesantren, ulama, santri dan Nahdlatul Ulama untuk meraih sekaligus mempertahankan kemerdekaan.
"Jadi sampai akhir hayatnya terus menggunakan jaringan NU, jaringan pesantren, kesejawatan dengan teman-temannya, kiai dan santri untuk meraih kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan," ujar Usep.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa perjuangan KH Abbas tidak hanya berlangsung ketika senjata berhadapan dengan pasukan penjajah. Jaringan sosial-keagamaan yang dibangun melalui pesantren juga menjadi bagian dari perjuangannya.
Perjuangan Tak Berhenti di Medan Perang
Selain dikenal sebagai tokoh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, KH Abbas juga meninggalkan jejak dalam dunia pendidikan pesantren.
Bupati Majalengka Eman Suherman menyebut, KH Abbas sebagai ulama besar sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon.
Menurut Eman, KH Abbas turut mendorong pembaruan pendidikan pesantren sejak dekade 1920-an. Pembaruan itu antara lain dilakukan melalui pengembangan sistem pendidikan klasikal, madrasah serta memasukkan ilmu umum ke dalam kurikulum pesantren.
"Beliau adalah ulama besar, pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, yang oleh sejarah dijuluki Singa dari Jawa Barat," kata Eman.
Bagi Eman, kiprah tersebut memperlihatkan perjuangan KH Abbas memiliki banyak sisi. Ia tidak hanya berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga menjadikan pendidikan sebagai bagian dari perjuangan membangun masyarakat.
Menanti Pengakuan Negara
Jejak perjuangan tersebut menjadi salah satu alasan keluarga mendorong agar KH Abbas mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.
KH Asep Saifuddin Chalim, yang mewakili keluarga KH Abbas Abdul Jamil, mengatakan proses pengusulan telah dilakukan sejak 2024. Pada pengajuan 2025, KH Abbas bahkan dinilai masuk kategori sangat memenuhi syarat karena didukung naskah akademik yang jauh lebih lengkap.
"Sudah diusulkan tahun 2024. Tahun 2025 sudah MS (Memenuhi Syarat). Bahkan Kiai Abbas itu SMS, Sangat Memenuhi Syarat," kata KH Asep.
Menurut KH Asep, kelengkapan data tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat pengusulan KH Abbas.
"Tidak ada yang lain yang bisa memiliki data sampai sekian lengkap ini," ujarnya.
Namun, ia menegaskan pengusulan KH Abbas seharusnya tidak dipandang sebatas kepentingan keluarga. Menurutnya, penetapan gelar tersebut berkaitan dengan upaya mengangkat kembali sejarah perjuangan Jawa Barat.
Menurut KH Asep, pengakuan terhadap KH Abbas juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas sejarah Jawa Barat dan mengenalkan kembali kiprah ulama serta santri dalam perjuangan kemerdekaan.
"Jadi kita sebagai orang Jawa Barat, dan beliau adalah dari Jawa Barat, di mana Jawa Barat itu minim sekali pahlawan nasional. Jadi mudah-mudahan dan kami juga berharap tahun ini beliau dapat gelar pahlawan nasional," katanya.
Sementara itu, pengusulan KH Abbas sempat belum memenuhi syarat pada 2024 karena naskah akademiknya dinilai masih minim. Pengajuan kembali dilakukan pada 2025 dengan naskah akademik yang jauh lebih lengkap.
Ketua TP2GP Usep Abdul Matin menyebut, naskah akademik tersebut didukung 95 sumber, terdiri atas 74 sumber primer dan 23 sumber sekunder.
Pengkajian di tingkat pusat kemudian menghasilkan berita acara yang menyatakan KH Abbas memenuhi syarat sebagai calon Pahlawan Nasional. Namun, keputusan akhir berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
"Jadi sekarang keputusan terakhirnya untuk jadi pahlawan nasional menunggu ketetapan dari Bapak Presiden Prabowo," kata Usep.
Bagi Pemerintah Kabupaten Majalengka, pengakuan terhadap KH Abbas bukan hanya soal pemberian gelar kepada seorang tokoh.
Bupati Eman Suherman menilai pengusulan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Majalengka, saya menyatakan dukungan dan komitmen penuh terhadap upaya pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional," ujarnya.
Kini, jejak perjuangan KH Abbas yang terbentang dari pesantren, organisasi perjuangan hingga Pertempuran Surabaya kembali mendapat perhatian.
Di tengah proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional, sejarah mencatat namanya sebagai salah satu ulama yang ikut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
(yum/yum)
