Indonesia saat ini tengah menghadapi kondisi El Nino kuat yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah. Kondisi tersebut perlu diantisipasi mengingat El Nino diprediksi masih berlangsung hingga 2027.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi El Nino masih dapat menguat hingga mencapai puncaknya sekitar Desember 2026-Januari 2027. Setelah itu, fenomena tersebut berpotensi bertahan hingga kuartal pertama 2027.
Fase El Nino yang berlangsung sekitar 8-9 bulan ini dapat menyebabkan keterlambatan awal musim hujan serta berkurangnya curah hujan hingga Februari 2027.
Hal ini penting diantisipasi karena akan berdampak terhadap pertanian hingga ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Apa saja langkah yang dapat dilakukan individu hingga pemerintah untuk menghadapi ancaman kekeringan?
Tahapan Kekeringan Hidrologis Akibat El Nino
Peneliti Pusat Perubahan Iklim ITB, Fikry Purwa Lugina atau Lugi menjelaskan, kekeringan hidrologis tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah tahapan yang berlangsung sejak curah hujan mulai mengalami penurunan.
"Berkurangnya curah hujan adalah sinyal awal. Setelah hujan berkurang, ada beberapa tahap yang akan terjadi. Kita sudah harus bersiap," ungkap Lugi di ITB, Kamis (13/8/2026).
Setelah defisit curah hujan, hal yang dapat terjadi kemudian adalah berkurangnya kelembapan tanah. Selanjutnya, terjadi penurunan runoff atau aliran permukaan dan recharge atau pengisian kembali air tanah.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyebabkan debit sungai dan muka air tanah ikut menurun. Pada tahap berikutnya, ketersediaan air bagi masyarakat dapat terganggu.
Karena prosesnya berlangsung bertahap, Lugi mengatakan, ancaman kekeringan sebenarnya dapat dipantau dan diantisipasi lebih awal.
3 Langkah Mitigasi Hadapi Kekeringan
Menurut Lugi, terdapat tiga kerangka mitigasi yang perlu dilakukan untuk menghadapi potensi kekeringan, yakni monitor, antisipasi dan adaptasi.
1. Monitor: Pantau Kondisi Air
Tahap pertama adalah mengetahui kebutuhan air dan membandingkannya dengan ketersediaan yang ada.
"Cek kebutuhan kita berapa, ketersediaan berapa. Kalau defisit, kita tidak bisa tergantung satu sumber cadangan saja," kata Lugi.
Menurutnya, air tanah merupakan salah satu cadangan penting. Namun, pengisian kembali air tanah membutuhkan waktu dan tidak bisa secepat pengisian tampungan air permukaan seperti danau.
2. Antisipasi Sebelum Kekeringan
Sebelum kekeringan terjadi, pengendalian konsumsi air perlu dilakukan. Di sisi lain, pemerintah dan pengelola air perlu menyiapkan sumber alternatif, seperti sumur dalam, embung, panen air hujan hingga kemungkinan transfer air.
Distribusi juga harus direncanakan sebelum terjadi krisis. Begitu pula dengan sektor pertanian yang perlu menyesuaikan pola dan kalender tanam berdasarkan perkiraan ketersediaan air.
3. Adaptasi Saat Kekeringan
Ketika kekeringan sudah terjadi, langkah yang dilakukan harus berfokus pada pengurangan kehilangan air dan pemanfaatan sumber daya yang masih tersedia.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengurangan kebocoran jaringan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), panen air hujan, imbuhan air tanah menggunakan sumur resapan dan biopori, serta optimalisasi kapasitas tampungan.
"Sumber air juga perlu didiversifikasi," jelasnya.
(sud/sud)