Masa Depan Transportasi, Shuttle Tanpa Sopir Buatan Dosen ITB

Masa Depan Transportasi, Shuttle Tanpa Sopir Buatan Dosen ITB

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 17:30 WIB
Autonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan Industr
Autonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan Industri (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Di sebuah sudut Jalan Cihampelas, Kota Bandung, kesibukan tak biasa terlihat di dalam workshop PT AVS Indonesia. Di ruangan yang lapang itu, sebuah prototipe kendaraan masa depan tengah dipersiapkan. Sejumlah peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama tim industri tampak serius mengutak-atik rangkaian komputer, sementara sebagian lainnya merancang detail interior kabin.

Kendaraan itu bernama AVA, singkatan dari Autonomous Vehicle Adaptive/AI. Ia lahir bukan sekadar dari riset di atas kertas, melainkan dari sebuah pengalaman personal yang melelahkan di gerbang pintu masuk Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr. Augie Widyotriatmo, sosok di balik inovasi ini, masih ingat betul momen saat ia mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada larut malam. Kala itu, ia harus menyaksikan pemandangan yang mengusik nuraninya, para lansia dan ibu yang menggendong bayi terpaksa berjalan jauh menuju terminal karena layanan shuttle sudah berhenti beroperasi.

"Saya pernah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dan dapat gate paling jauh. Di sana saya melihat orang tua dan ibu menggendong bayi harus berjalan sangat jauh karena shuttle tidak bisa digunakan akibat ketiadaan sopir," kenang Augie saat berbincang di tengah kesibukannya pada Agustus 2026 ini.

ADVERTISEMENT

Keterbatasan tenaga manusia di jam-jam krusial itulah yang memicu Augie untuk menciptakan solusi transportasi yang tidak mengenal kata lelah.

"Itu yang membuat saya merasa bahwa ini seharusnya tidak perlu menggunakan tenaga manusia, karena manusia juga jam 12 malam tidak ada yang bekerja lagi menjadi sopir. Sehingga ini bisa dioperasikan dalam 24 jam, memberikan layanan dengan safety yang bisa dipertanggungjawabkan untuk membantu produktivitas manusia," tambahnya.

Persoalan ini rupanya bukan hanya keresahan Augie semata. Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea pun pernah melontarkan keluhan serupa mengenai jauhnya jarak antar-gate di bandara tanpa dukungan transportasi internal yang memadai.

"Latar belakangnya sebetulnya dari kebutuhan. Kebutuhan kita bahwa semakin lama kebutuhan akan transportasi semakin tinggi. Mungkin pernah mendengar Pak Hotman Paris pernah mengeluh bahwa tidak ada yang mengantarkan dari satu gate ke gate lainnya yang jaraknya sangat jauh dikarenakan tidak adanya sopir yang bisa mengantarkan, atau kendaraan shuttle yang bisa mengantarkan," ungkap Augie.

Bisa Dioperasikan 24 Jam Non Stop

Kini, AVA hadir sebagai jawaban. Kendaraan berdesain futuristik ini dirancang untuk bekerja nonstop 24 jam penuh. Tanpa ketergantungan pada sopir, AVA menawarkan fleksibilitas tinggi bagi penumpang yang tiba di bandara pada jam-jam "mati".

"Dengan solusi kendaraan otonom ini, kita tidak membutuhkan adanya sopir sehingga kita langsung bisa menggunakan ini secara otomatis, penumpang juga bisa secara optimal kapan pun. Baik itu di tengah malam misalkan datang di bandara, itu bisa langsung diantarkan ke lokasi yang dituju," jelasnya lagi.

Autonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan IndustrAutonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan Industr Foto: Wisma Putra/detikJabar

Masuk ke dalam kabin AVA, penumpang akan disambut dengan suasana yang jauh dari kesan kaku. Interiornya dirancang menyerupai ruang tamu dengan sofa yang saling berhadapan, lengkap dengan pendingin udara dan layar LED interaktif. Secara kapasitas, kendaraan ini mampu mengangkut satu keluarga kecil.

"Di sini idealnya bisa muat empat orang. Tapi kalau dengan bobot 60 kilogram, itu bisa sampai enam orang," tutur Augie.

Tidak Perlu Sopir

Secara teknis, AVA adalah perpaduan rumit antara sensor dan kecerdasan buatan. Peran pengemudi sepenuhnya digantikan oleh sistem kendali komputer yang terhubung dengan motor listrik.

"Prinsipnya adalah faktor sopirnya diganti dengan controller dan motor listrik. Jadi nantinya aktuatornya atau orang yang mengendalikan digantikan dengan komputer dan motor listrik, sehingga steering dan driving-nya bisa diatur oleh komputer," paparnya.

Sistem ini bekerja dengan menyerap informasi dari berbagai sensor, termasuk kamera, untuk memastikan keamanan selama perjalanan.

"Sehingga nantinya selalu diumpan balikkan dari sensor ke controller, ke aktuator, dan menghasilkan kendaraan yang berjalan sendiri," ujar Augie.

Uniknya, AVA tidak memiliki sisi depan atau belakang yang permanen. Ia bisa bergerak maju maupun mundur dengan fleksibilitas yang sama, mirip dengan cara kerja kereta api.

Autonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan IndustriAutonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan Industri Foto: Wisma Putra

"Tidak ada depannya, jadi bisa maju dan mundur. Nanti penumpang akan berhadapan tempat duduknya, dan ini posisinya di tengah-tengah," terangnya.

Meski saat ini fokus pengembangannya masih menyasar area terbatas seperti bandara dan kawasan wisata, Augie memiliki visi besar untuk membawa AVA ke jalanan yang lebih menantang.

"Saat ini kita masih bergerak pada wilayah yang terbatas (limited area), contohnya di area bandara, kemudian di area pariwisata kita akan lakukan juga implementasi. Lama-kelamaan kita akan cobakan juga untuk wilayah-wilayah yang mixed traffic, jadi lalu lintasnya campur antara kendaraan yang dibawa oleh manusia dan kendaraan otonom," tutupnya optimis.

Halaman 2 dari 2
(wip/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads