5 Salah Kaprah Perawatan Anti-Aging, Dokter Kulit Beberkan Langkah yang Benar

5 Salah Kaprah Perawatan Anti-Aging, Dokter Kulit Beberkan Langkah yang Benar

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Senin, 03 Agu 2026 10:25 WIB
dr Liem Fenny, SpDVE
Foto: dr Liem Fenny, SpDVE
Bandung -

Memiliki kulit yang sehat dan tampak awet muda kini menjadi impian banyak orang. Bahkan, tren perawatan anti-aging kini tak lagi didominasi mereka yang berusia di atas 40 tahun.

Semakin banyak anak muda berusia 20 tahun ke atas mulai menggunakan skincare hingga menjalani berbagai treatment sebagai upaya mencegah penuaan dini. Fenomena tersebut turut dipengaruhi maraknya informasi di media sosial.

Padahal, dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr Liem Fenny, SpDVE mengingatkan bahwa perawatan kulit tidak bisa dilakukan hanya karena mengikuti tren. Menurutnya, memahami kondisi kulit melalui diagnosis menjadi hal penting sebelum memutuskan perawatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Fenny pun membeberkan sejumlah kesalahpahaman yang masih marak beredar di masyarakat terkait perawatan anti-aging. Apa saja? Simak ulasan selengkapnya berikut ini!

5 Salah Kaprah Perawatan Anti-Aging yang Masih Sering Dilakukan

1. Baru Diperlukan Saat Usia 40 Tahun ke Atas

Masih banyak orang yang berpikir perawatan anti-aging baru diperlukan ketika kerutan mulai muncul atau kulit mulai kendur. Padahal, menurut dr Fenny, pencegahan justru akan lebih efektif bila dilakukan lebih awal.

ADVERTISEMENT

"Sekarang semuanya ingin terlihat lebih muda. Walaupun usia sudah 30 tahun, ingin seperti usia 20 tahun. Jadi proses peremajaan kulit memang sebaiknya dimulai sedini mungkin, tentu dengan masalah yang berbeda-beda. Kalau usia 20-an biasanya masalahnya masih sedikit," ungkapnya saat ditemui di sela peresmian Melinda Aesthetic Center (MAC) di Bandung, Selasa (28/7/2026).

Ia menjelaskan, pada usia yang lebih muda fokus perawatan bukan menghilangkan kerutan, melainkan menjaga produksi kolagen agar tetap optimal. Dengan begitu, proses penuaan dapat berlangsung lebih lambat.

2. Tergoda Treatment Viral

Media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengenal berbagai tren treatment baru. Namun, ia mengatakan, tren tersebut juga membuat banyak orang datang dengan permintaan tindakan tertentu hanya karena melihat hasil orang lain di media sosial.

"Sekarang orang-orang ingin pakai alat karena itu yang sedang tren. Mereka datang sudah bertanya treatment A, treatment B, treatment C karena lihat di media sosial. Padahal belum tentu itu yang dibutuhkan kulitnya," katanya.

Menurutnya, setiap orang memiliki kondisi kulit yang berbeda. Sehingga, treatment yang cocok untuk seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.

3. Ingin Kulit Putih

Ia memaparkan, keinginan untuk membuat kulit tampak lebih cerah dan putih masih menjadi tren. Alhasil, banyak masyarakat yang membeli dan menggunakan skincare dengan bahan aktif seperti retinol, vitamin C atau arbutin dengan harapan kulit menjadi "putih".
Padahal, masing-masing zat aktif tersebut memiliki fungsi untuk menghilangkan flek hitam. Sehingga, tak jarang pasien datang dengan kondisi kulit yang terkena efek samping penggunaan zat aktif berlebihan, seperti iritasi.

"Mereka salah indikasi. Misalnya kulitnya enggak apa-apa, tapi dia ingin putih, lalu pakai retinol. Padahal tujuan whitening-nya retinol itu bukan untuk memutihkan ya, tapi untuk menghilangkan melasma dan kerutan," paparnya.

Akibatnya, kulit yang sebelumnya tidak bermasalah justru mengalami iritasi, rasa terbakar hingga kemerahan.

4. Tidak Memahami Kebutuhan Kulit Sendiri

Menurut dr Fenny, flek hitam bukan hanya memiliki satu penyebab. Ada flek akibat bekas jerawat, paparan sinar matahari, perubahan hormon, hingga penggunaan kontrasepsi.

Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak bisa disamakan. Menggunakan produk berdasarkan rekomendasi orang lain justru berisiko memperparah kondisi kulit.

"Ada yang datang karena iritasi, burning, bahkan seperti luka bakar. Ada juga yang fleknya sedikit malah bertambah banyak karena salah memilih produk. Padahal penyebab flek itu macam-macam," jelasnya.

5. Berharap Hasil Instan

Tak sedikit masyarakat yang berharap satu kali treatment sudah cukup membuat wajah tampak lebih muda. Ia mengataka, anggapan tersebut juga merupakan salah kaprah.

"Kami selalu bilang ke pasien, tidak ada proses yang instan. Semua dilakukan bertahap dan dibuat perencanaannya sesuai kondisi kulit masing-masing," katanya.

Ia menambahkan, proses pembentukan kolagen membutuhkan waktu. Hasil terbaik biasanya diperoleh melalui perawatan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten.

Peresmian Melinda Aesthetic Center (MAC) di Bandung, Selasa (28/7/2026)Peresmian Melinda Aesthetic Center (MAC) di Bandung, Selasa (28/7/2026) Foto: Nur Khansa Ranawati

Berbagai kesalahpahaman tersebut menunjukkan bahwa perawatan kulit tidak bisa dilakukan hanya dengan mengikuti tren. Menurut dr Fenny, diagnosis menjadi tahapan paling penting sebelum menentukan jenis skincare maupun treatment yang tepat.

"Kami bukan seperti restoran. Pasien datang bukan langsung memilih treatment tertentu. Kami lihat dulu masalah kulitnya apa, kemudian dibuat planning. Ibu dan anak yang datang bersamaan saja bisa mendapatkan treatment berbeda karena masalah kulitnya juga berbeda," ujarnya.

Pendekatan tersebut juga menjadi konsep yang diterapkan di Melinda Aesthetic Center (MAC) yang baru diresmikan di Bandung. Founder Melinda Hospital Group, dr Susan Melinda, SpOG, mengatakan setiap pasien akan menjalani konsultasi bersama dokter spesialis sebelum mendapatkan rekomendasi treatment.

"Inovasi harus selalu didukung bukti ilmiah, keamanan pasien, dan pendekatan yang personal. Jadi semua treatment di sini harus dengan diagnosa terlebih dahulu oleh SpDVE senior, sehingga lebih komprehensif," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan satu teknologi unggulan yang dihadirkan MAC adalah Morpheus8, yakni alat perawatan kulit wajah dan tubuh yang mengkombinasikan fractional microneedling dengan energi radiofrekuensi. Alat tersebut bekerja membantu merangsang pembentukan kolagen, mengencangkan kulit, sekaligus memperbaiki tekstur kulit pada pasien dengan efek samping sangat minimal.

"Bisa mempertegas kontur wajah tanpa pemulihan yang lama. Kalau bedah plastik mungkin bisa berminggu-minggu, tapi alat ini downtime-nya hanya dua hari," paparnya.

Cara Aman Mencegah Penuaan Dini

Menurut dr Fenny, menjaga kulit tetap sehat dan kencang tidak harus selalu dimulai dengan treatment yang rumit. Langkah paling penting justru dilakukan dari kebiasaan sehari-hari serta memilih perawatan yang sesuai.

Ia menyarankan masyarakat mulai memberikan perhatian terhadap kesehatan kulit sejak usia 25 hingga 30 tahun. Pada rentang usia tersebut, produksi kolagen masih tergolong baik sehingga perawatan lebih berfokus pada upaya mempertahankan kualitas kulit.

"Paling ideal memang mulai usia 25 sampai 30 tahun. Kolagenisasinya masih baik, jadi kita tinggal mempertahankan dan membantu sedikit supaya kualitas kulit tetap terjaga," ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau tidak mudah tergoda membeli skincare hanya karena sedang viral. Bila sudah memiliki masalah seperti flek, bekas jerawat, pigmentasi atau kulit sensitif, pemilihan produk sebaiknya dilakukan dengan pendampingan dokter.

"Kalau krim sebetulnya untuk usia dewasa, silahkan. Sekarang banyak produk retinol yang dijual bebas dan cukup aman. Tapi kalau sudah punya masalah tersendiri, misalnya flek hitam, bekas jerawat, sebaiknya indikasi pemilihan krim itu lebih baik dipandu oleh dokter," jelasnya.

Tak kalah penting, perawatan dari luar juga perlu diimbangi dengan gaya hidup sehat. Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menggunakan sunscreen tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan kulit.

"Kalau untuk pencegahan, perilaku hidup sehat itu memang yang paling penting," pungkasnya.



(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads