Dampak fenomena El Nino yang datang berdamaan dengan periode puncak musim kemarau panjang di wilayah Kota Sukabumi, Jawa Barat, kian meluas. Krisis air bersih kini mengancam kehidupan sehari-hari belasan ribu warga.
Sumur-sumur warga di permukiman dilaporkan mengering. Kondisi itu mendorong petugas gabungan dari berbagai instansi turun tangan mengalirkan puluhan ribu liter pasokan air bersih darurat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data rekapitulasi pendistribusian air bersih sejak 17 Juni hingga 10 Agustus 2026, akumulasi penerima manfaat bantuan air bersih di Kota Sukabumi telah menembus 11.863 jiwa dari ribuan Kepala Keluarga (KK).
Wilayah terdampak kekeringan ini tersebar merata di enam kecamatan, yakni Lembursitu, Warudoyong, Citamiang, Baros, Cibeureum, hingga Cikole.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi Yoseph Sabaruddin mengonfirmasi bahwa dampak kekeringan tahun ini terasa cukup intensif sehingga memerlukan penanganan sigap dari tim gabungan.
"Fenomena El Nino dan kemarau panjang ini membuat sumber air warga di enam kecamatan mengering. Fokus utama kami bersama tim gabungan saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih dapat terpenuhi secara merata melalui penyaluran armada tangki," ujar Yoseph Sabaruddin kepada detikJabar, Kamis (13/8/2026).
Wilayah Kelurahan Cikundul, khususnya di Kampung Cikundul Hilir, Kecamatan Lembursitu, menjadi salah satu titik krisis paling parah. Di kawasan tersebut, petugas harus melakukan pengiriman armada tangki air secara berulang kali, yakni pada 30 Juni, 14 Juli, 23 Juli, hingga 2 Agustus 2026, demi menyuplai kebutuhan harian lebih dari 1.300 jiwa yang terdampak.
Secara keseluruhan, tim gabungan telah menggelontorkan sedikitnya 93.700 liter air bersih yang terbagi dalam 14 kali aksi penyaluran maraton. Volume pengiriman terbesar dalam satu kali distribusi tercatat pada 30 Juni 2026 di Kampung Cikundul Hilir dengan menyalurkan 20.000 liter air.
Tak hanya kawasan permukiman padat penduduk, krisis air juga menyasar fasilitas pendidikan, seperti SLB Budi Nurani di Kelurahan Sudajaya Hilir, Kecamatan Baros, yang disuplai 3.500 liter air pada pertengahan Juni lalu.
"Aksi tanggap darurat bencana kekeringan ini dilakukan melalui sinergi lintas instansi. Penyaluran air dipelopori oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi, Perumda Air Minum (PDAM), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi," ujarnya.
Selain itu, jajaran Kepolisian dari Satlantas Polres Sukabumi Kota hingga organisasi kepemudaan seperti DPK KNPI dan unsur pemerintah kecamatan serta kelurahan turut dikerahkan mengawal truk-truk tangki ke lokasi yang sulit dijangkau.
"Kami mengimbau warga yang wilayahnya mulai mengalami kekeringan untuk tidak ragu mengajukan permohonan bantuan. Masyarakat bisa menyampaikan surat permohonan ke PMI Kota Sukabumi atau Satlantas Polresta Sukabumi dengan tembusan ke BPBD Kota Sukabumi agar jadwal pengiriman armada tangki air bersih bisa segera diprioritaskan," tutupnya.
(sud/sud)
