Minum kopi hangat pada pagi hari menjadi kebiasaan banyak orang untuk meningkatkan energi dan konsentrasi. Namun, konsumsi kopi secara berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan serius, termasuk pada jantung.
Pengalaman itu dialami Rachel Finley, wanita berusia 32 tahun asal New York, Amerika Serikat. Kebiasaannya mengonsumsi delapan hingga 10 cangkir kopi setiap hari akhirnya berujung pada diagnosis gangguan irama jantung atau aritmia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat berusia awal 20-an, Rachel menjalani aktivitas yang sangat padat. Ia harus membagi waktu antara kuliah, bekerja paruh waktu di restoran hingga larut malam, dan menjalani kehidupan sosial. Untuk menjaga stamina, ia mengandalkan kafein sebagai sumber energi.
"Bekerja di restoran membuat banyak perilaku tidak sehat dinormalisasi. Saya dulu peminum berat dan juga mengonsumsi pil yang mengandung kafein kalau tidak sempat minum kopi di tempat kerja," cerita Rachel dikutip dari Newsweek.
Saat itu, Rachel menganggap kebiasaannya wajar karena banyak teman sebayanya melakukan hal serupa agar tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari. Padahal, batas konsumsi kafein yang umumnya dianggap aman hanya sekitar 400 miligram per hari atau setara empat cangkir kopi.
Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur
Konsumsi kafein dalam jumlah berlebihan mulai memengaruhi kondisi fisik Rachel. Ia sering mengalami jantung berdebar, dada terasa berat, dan kesulitan tidur pada malam hari.
Rachel sempat mengurangi konsumsi kopi. Namun, dampak jangka panjang baru benar-benar muncul beberapa tahun kemudian saat usianya menginjak 26 tahun.
Meski sudah tidur selama delapan hingga 10 jam setiap hari, ia tetap bangun dalam kondisi lemas dan kelelahan. Atas saran rekannya, Rachel menjalani serangkaian pemeriksaan medis hingga akhirnya berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Rachel mengidap aritmia atau gangguan irama jantung. Dokter mengaitkan kondisi tersebut dengan riwayat konsumsi kafein berlebihan yang ia lakukan selama bertahun-tahun.
"Saya menangis tersedu-sedu saat keluar dari ruangan dokter jantung. Dia memberi tahu kalau saya harus merubah gaya hidup atau berisiko meninggal di usia muda. Itu benar-benar tamparan keras bagi saya," kenangnya.
Beralih ke Kopi Decaf
Diagnosis tersebut menjadi titik balik dalam kehidupan Rachel. Kini, ia menghentikan konsumsi kafein dan hanya memilih kopi decaf atau kopi tanpa kafein. Ia juga menjalani pemeriksaan kesehatan jantung secara rutin setiap tahun.
Setelah mengubah pola hidup, berbagai keluhan yang sebelumnya sering muncul berangsur membaik. Rachel mengingatkan masyarakat, terutama anak muda, agar tidak menganggap remeh kebiasaan mengonsumsi kopi atau minuman berenergi secara berlebihan.
Sebagai informasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai efek samping akibat konsumsi kafein yang berlebihan. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain jantung berdebar dengan detak yang meningkat cepat, tekanan darah tinggi, insomnia atau gangguan tidur berat, kecemasan berlebihan, serta sakit perut yang disertai pusing.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.
(sao/sud)
