Bandung Raya bersiap memiliki fasilitas yang mampu mengolah 2.000 ton sampah menjadi energi listrik setiap hari. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung, resmi memasuki tahap konstruksi yang ditandai dengan groundbreaking pada Rabu (29/7/2026).
Fasilitas yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi beban sampah di Bandung Raya yang selama ini masih bergantung pada TPPAS Sarimukti. Selain mengurangi timbunan sampah, PSEL Legok Nangka juga diproyeksikan menghasilkan listrik hingga 42 megawatt.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan seluruh persiapan pembangunan telah memasuki tahap akhir. Saat meninjau lokasi sehari sebelum peletakan batu pertama, Herman memastikan lahan dan infrastruktur pendukung telah siap.
"(Legok Nangka) akan dibangun PSEL atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy). Luas kawasan sekitar 85 hektare, sedangkan instalasi pembangkit listriknya sekitar 20 hektare," kata Herman, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, kawasan PSEL akan berdiri di lahan seluas sekitar 20 hektare dari total area TPPAS Legok Nangka yang mencapai 85 hektare. Sementara area landfill tetap dimanfaatkan sebagai lokasi penampungan residu hasil pengolahan sampah.
"Landfill yang nantinya digunakan sebagai pembuangan residu dari proses pembakaran instalasi pembangkit listrik tenaga sampah," ujarnya.
Menurut Herman, proyek strategis nasional tersebut dirancang mampu mengolah sekitar 2.000 ton sampah setiap hari dan menghasilkan listrik hingga 42 megawatt. Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp6 triliun dengan dukungan Project Development Grant (PDG) dari Kementerian Keuangan sekitar Rp1,3 triliun.
Ia menilai pembangunan PSEL Legok Nangka menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan sampah di Bandung Raya yang setiap hari menghasilkan sekitar 5.000 ton sampah. Hingga kini, sekitar 70 persen di antaranya belum tertangani secara optimal dan masih bergantung pada TPPAS Sarimukti.
"Ini salah satu solusi fundamental untuk penanganan sampah di Bandung Raya. Setiap hari ada sekitar 5.000 ton sampah. Sekitar 70 persen belum terkelola secara optimal, sedangkan yang tertangani selama ini sebagian besar masih bergantung pada TPPAS Sarimukti," katanya.
Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, sebanyak 2.000 ton sampah per hari akan langsung diolah menjadi energi listrik sehingga volume sampah yang dibuang ke landfill dapat ditekan secara signifikan.
"Mudah-mudahan nanti setelah ada PSEL Legok Nangka, sekitar 2.000 ton sampah per hari akan diolah di tempat ini," ujar Herman.
PSEL Legok Nangka menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah dalam percepatan pembangunan fasilitas pengolah sampah menjadi energi listrik sesuai Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Selain melayani kawasan Bandung Raya, fasilitas ini juga dirancang menerima sampah dari Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut.
Herman berharap groundbreaking yang dilaksanakan hari ini menjadi titik awal percepatan pembangunan proyek yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun.
"Mudah-mudahan semua proses berjalan lancar. Kita sudah memasuki fase yang sangat krusial, yakni groundbreaking, sehingga pembangunannya bisa segera berjalan sesuai rencana," katanya.
(bba/sud)
