Protes Polusi Debu, Warga Geruduk Pabrik Batu Kapur di Ciburuy KBB

Protes Polusi Debu, Warga Geruduk Pabrik Batu Kapur di Ciburuy KBB

Whisnu Pradana - detikJabar
Sabtu, 25 Jul 2026 14:29 WIB
Warga Kampung Pamucatan geruduk pabrik pengolahan batu kapur di Ciburuy, KBB
Warga Kampung Pamucatan geruduk pabrik pengolahan batu kapur di Ciburuy, KBB (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar).
Bandung Barat -

Puluhan warga Kampung Pamucatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggeruduk salah satu pabrik pengolahan batu kapur yang menimbulkan polusi debu.

Aksi yang dilakukan pada Sabtu (25/7/2026) pagi ini telah mereka rencanakan sebagai tindak lanjut dari serangkaian bentuk protes yang sudah dilakukan beberapa pekan belakangan. Namun, keluhan warga belum mendapatkan respons dari pemilik pabrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menggeruduk pabrik sembari membawa spanduk bertuliskan 'Tidak ada yang sehat di lingkungan yang berdebu'. Lalu spanduk bernada protes lainnya bertuliskan 'Kami berhak hirup udara bersih', serta spanduk lain yang dibawa emak-emak peserta aksi.

Pencemaran debu mikroskopis dari aktivitas industri pengolahan batu kapur di kawasan tersebut sebelumnya diprotes juga melalui spanduk yang dipasang di pinggir Jalan Raya Padalarang.

ADVERTISEMENT

"Kami terdampak polusi debu selama bertahun-tahun. Kemudian sekarang makin parah karena ada getaran dan suara bising dari mesin yang beroperasi 24 jam," kata Lintang, salah seorang warga.

Di rumah-rumah warga Kampung Pamucatan, atap dan teras rumah, dedaunan, hingga permukaan jalan memutih karena paparan debu batu kapur. Tak hanya di bagian luar rumah saja, debu itu masuk ke celah-celah tersempit pintu dan ventilasi sekalipun.

"Kami setiap jam itu harus menyapu lantai, karena kalau didiamkan tumpukan debunya sangat mengganggu. Belum kalau menjemur baju, itu debunya pasti nempel," kata Lintang.

Dampak dari polusi debu itu berpengaruh terhadap kondisi kesehatan. Seperti Ratu, yang anaknya kerap batuk-batuk karena sehari-hari menghirup udara yang mengandung partikel mikroskopis dari aktivitas mesin pengolahan batu kapur dengan bahan bakar batu bara.

"Anak saya batuk-batuk terus, karena memang kebulnya (debu) sampai ke rumah. Belum lagi gatal-gatal karena kan menempel di kulit dan baju," kata Ratu.

Dampak kesehatan dan polusi debu batu kapur itu dikhawatirkan memburuk seiring berjalannya waktu. Terlebih, selama ini tak ada pengecekan kesehatan rutin dari puskesmas setempat terhadap warga di sekitaran perusahaan pengolahan batu kapur.

"Ya pasti khawatir apalagi sampai sekarang enggak ada pemeriksaan kesehatan rutin. Ya atuh minimal sebulan sekali atau dua bulan sekali. Anak saya batuk dicek, yang gatal-gatal diperiksa, kita tidak muluk-muluk minta apa-apa cuma ingin diperhatikan," ujarnya.

Sepekan sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sempat melakukan sidak ke beberapa pabrik pengolahan batu kapur di kawasan Gunungmasigit, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kunjungan KDM itu berkaitan dengan isu pencemaran lingkungan yang ditimbulkan. Pengendara dan masyarakat di kawasan Gunungmasigit mengeluhkan polusi debu mikroskopis. Polusi terlihat dari debu yang beterbangan serupa salju menempel di bangunan dan pepohonan pinggir jalan.

Dalam sidak itu, tak cuma menemukan pelanggaran operasional, namun KDM juga menemukan indikasi pelanggaran ketenagakerjaan. Di mana para pegawai diupah ala kadarnya tanpa jaminan berupa penyediaan fasilitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR), serta kepesertaan BPJS yang ditanggung oleh perusahaan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Aksi Protes soal Polusi Udara di India, Sejumlah Massa Diamankan"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads