Kesaksian Warga Saat Kebakaran Maut Tewaskan 3 Bocah di Sukabumi

Kesaksian Warga Saat Kebakaran Maut Tewaskan 3 Bocah di Sukabumi

Siti Fatimah - detikJabar
Jumat, 24 Jul 2026 12:55 WIB
Lokasi kebakaran maut di Sukabumi
Lokasi kebakaran maut di Sukabumi. (Foto: Siti Fatimah)
Sukabumi -

Isak tangis dan suasana duka mendalam menyelimuti warga Kampung Babakan Bandung, RT 001/RW 006, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, menyusul musibah kebakaran maut yang menghanguskan sebuah rumah panggung pada Kamis malam (23/7/2026).

Peristiwa nahas yang dipicu oleh lilin penerangan saat pemadaman listrik ini merenggut nyawa tiga orang anak kakak beradik yang terjebak di dalam kobaran api tanpa sempat menyelamatkan diri. Mereka adalah AMS (10), SAS (5), serta SAQ (4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua RT setempat, Nandang memberikan kesaksian saat peristiwa itu terjadi. Dia mengatakan, saat kejadian, seluruh rumah di kampungnya mengalami pemadaman listrik sejak pukul 17.30. Azan Magrib yang biasanya dikumandangkan melalui pengeras suara, malam itu hanya menggunakan bedug sederhana.

Saat kejadian sekitar pukul 19.30 WIB, ia tengah berada di masjid sebelum akhirnya mendengar teriakan panik warga yang menyebutkan adanya kebakaran.

ADVERTISEMENT

"Kejadiannya itu jam 19.30. Saya lagi di masjid waktu kejadian tiba-tiba mendengar warga teriak ada kebakaran. Posisi korban itu rumahnya diujung dekat persawahan," ujar Nandang kepada detikJabar, Jumat (24/7/2026).

Menurut Nandang, rumah yang terbakar tersebut dihuni oleh sang nenek berinisial NK (59) bersama cucu-cucunya sehari-hari. Kedua orang tua korban diketahui sudah lama berpisah, sementara sang ibu bekerja di perantauan Jakarta.

Dalam insiden tragis tersebut, dua orang penghuni rumah berhasil selamat dari maut, yakni sang nenek bersama cucu pertamanya yang masih duduk di bangku SMP. "Ketika itu para korban bersama neneknya dan kakaknya yang selamat. Yang selamat dua orang, neneknya sama satu cucunya yang masih SMP," ujarnya.

"Jadi korban itu sehari-hari tinggal di sini sama neneknya. Orang tuanya udah lama cerai, ibunya kerja di Jakarta," sambung Nandang.

Berdasarkan penuturan warga di lokasi, musibah ini dipicu oleh penggunaan lilin sebagai penerangan darurat akibat pemadaman listrik yang melanda kawasan tersebut. "Penyebab kebakarannya dari lilin itu, karena mati lampu ya. Semua padam dan memang sering mati lampu," jelasnya.

Warga sempat bergotong-royong berupaya memadamkan kobaran api dengan peralatan seadanya. Namun, material rumah yang terbuat dari bilik bambu dan kayu membuat api membesar dengan sangat cepat, sehingga ketiga anak tersebut tidak berhasil diselamatkan sebelum akhirnya armada pemadam kebakaran tiba di lokasi setelah api padam.

"Pas kejadian, warga juga bantu tapi karena apinya besar sekali jadi tidak tertolong. Damkar baru tiba setelah api padam," pungkasnya.

Saat ini, kondisi listrik di Kampung Babakan Bandung sudah kembali normal. Namun duka tersebut masih amat memukul keluarga korban. Seluruh korban yang meninggal dunia kini sudah dimakamkan di TPU terdekat.

Bantuan Pemeriksaan Psikologis

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sukabumi, Rina Rosmaniar Japar, mendatangi keluarga korban musibah kebakaran maut yang melanda Kampung Babakan Bandung, RT 001/RW 006, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Didampingi jajaran Dinas Sosial, kedatangan tersebut membawa misi kemanusiaan untuk menguatkan mental keluarga yang ditinggalkan.

"Karena rasa tergugah hati, ingin melihat. Alhamdulillah ada dari dinas sosial memberikan bantuan, bapak tidak bisa ke sini, cuma mendoakan dari warga yang tertimpa diberikan kekuatan, kesabaran," ujar Rina usai meninjau lokasi, Jumat (24/7/2026).

Perhatian khusus lantas diarahkan pada kondisi psikologis dan fisik para penyintas yang mengalami syok berat akibat insiden tragis tersebut. Mengantisipasi potensi trauma mendalam atau depresi pada sang nenek dan anggota keluarga yang selamat, fasilitas pelayanan kesehatan langsung disiagakan secara penuh.

Bagi keluarga yang mengalami keluhan fisik maupun gangguan psikologis akibat tekanan mental pascakebakaran, arahan tegas diberikan agar segera mendatangi RSUD Sekarwangi untuk mendapatkan penanganan medis komprehensif.

"Neneknya dan juga cucu pertamanya ya kalau ada keluhan-keluhan ke RSUD Sekarwangi. Soalnya itu ranah saya di sana. Kalau ada keluhan-keluhan lain, ibunya takut depresi mungkin ya bawa ke psikiater, konsul dengan dokter-dokter lain di sana," tegasnya.

Pendampingan kesehatan mental dipastikan akan berjalan sebagai bentuk kehadiran nyata pemerintah daerah dalam mendampingi warganya. Di tengah situasi yang ada, imbauan kewaspadaan turut diserukan agar masyarakat lebih berhati-hati mengingat kondisi musim kemarau panjang.

"Dan kita pun berharap berhati-hatilah dalam melihat keadaan, sekarang kemarau panjang ya, hati-hati, jaga keluarga kita. Dengan musibah seperti ini mudah-mudahan tidak terjadi lagi," ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati Sukabumi Asep Japar yang berhalangan hadir karena kesibukan kegiatan dinas.

"Ibu berharap masyarakat yang ada di Kabupaten Sukabumi aman, tentram, sejahtera, jadi mohon maaf bapak tidak bisa menengok juga karena ada kegiatan dinas," tutupnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads