Memasuki musim kemarau 2026, debit sumber air baku di Kabupaten Bandung mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut meningkatkan kerawanan pasokan air bersih bagi sekitar 24 ribu pelanggan Perumda Air Minum Tirta Raharja.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Perumda Air Minum Tirta Raharja menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Upaya tersebut di antaranya mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki serta menempatkan toren di sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak.
"Kondisi kemarau panjang ini berdampak terhadap penurunan air baku kita yang mencapai antara 10 sampai 20 persen. Jadi, kurang lebih 24 ribu pelanggan terdampak. Namun, sejauh ini kondisinya masih relatif dapat kita kendalikan," ujar Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Raharja, Teddy Setiabudi, kepada awak media, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teddy mengatakan, wilayah yang mulai merasakan dampak penurunan debit air tersebar di sejumlah kecamatan, mulai dari Ciwidey, Soreang, Pangalengan, Banjaran, Ciparay, Majalaya, Bojongsoang, Dayeuhkolot, Solokanjeruk, Rancaekek, hingga Cicalengka. Karena itu, masyarakat diimbau tetap tenang dan menghemat penggunaan air selama musim kemarau.
"Wilayah yang mulai terasa dampaknya berada di Kecamatan Ciwidey, Soreang, Pangalengan, Banjaran, sampai ke Ciparay, Majalaya, Bojongsoang, Dayeuhkolot, ke timurnya sampai ke Solokan Jeruk, Rancaekek, dan Cicalengka," katanya.
Meski demikian, Teddy memastikan sekitar 24 ribu pelanggan tersebut masih tetap mendapatkan layanan air bersih melalui pengelolaan jaringan perpipaan. Langkah tersebut dilakukan sesuai arahan Bupati Bandung Dadang Supriatna.
"Jika memasuki status waspada, mitigasi yang kita lakukan adalah memasang 64 toren dengan kapasitas rata-rata 5.000 liter yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar maupun pelanggan. Pasokan air tidak hanya melalui jaringan perpipaan, tetapi juga didistribusikan menggunakan armada mobil tangki yang kami miliki," jelasnya.
Menurut Teddy, dalam kondisi normal debit air baku berkisar antara 1.100 hingga 1.200 liter per detik. Kapasitas tersebut melayani sekitar 96 ribu pelanggan yang telah tersambung ke jaringan perpipaan rumah.
Pada musim kemarau tahun ini, lanjut dia, penurunan debit air berkisar antara 5 hingga 25 persen, bergantung pada masing-masing sumber air.
Teddy menjelaskan, pasokan air baku berasal dari sejumlah sumber, di antaranya Sungai Cisangkuy, Sungai Cisondari, dan Sungai Ciwidey.
Selain itu, Perumda Air Minum Tirta Raharja memiliki sumber cadangan berupa sumur dalam di Rancaekek dan saluran terbuka di Cangkuang untuk menjaga pemenuhan kebutuhan air bersih selama musim kemarau.
"Kami juga memiliki alternatif cadangan dari sumber air sumur dalam di Rancaekek. Kami punya cadangan, termasuk saluran terbuka di Cangkuang. Cadangan air ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau," ungkapnya.
Ia menambahkan, pihaknya telah menerima informasi dari BMKG mengenai potensi musim kemarau panjang di wilayah Bandung Raya yang diperkirakan berlangsung hingga November 2026.
"Jika kapasitas air kita mengalami penurunan lebih dari 40 sampai 50 persen, berarti kondisinya sudah masuk kategori darurat," tegasnya.
Dalam kondisi darurat, Perumda Air Minum Tirta Raharja telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan. Upaya tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, hingga aparat kewilayahan.
"Kita akan berkolaborasi. Jika kondisinya darurat, mobilisasi mobil tangki akan ditingkatkan. Kami juga memiliki sejumlah titik hidran yang dapat dimanfaatkan oleh institusi lain, seperti pemadam kebakaran maupun BPBD. Semuanya harus berjalan secara sinergis," katanya.
Teddy mengungkapkan, musim kemarau pada 2023 menjadi pengalaman paling berat karena penurunan debit air mencapai sekitar 55 persen.
"Mobilisasi saat itu sangat besar dan dampaknya juga cukup luas. Dengan kapasitas yang terbatas, kami melakukan isolasi jaringan. Wilayah yang masih memungkinkan dialiri melalui jaringan perpipaan tetap kami layani, tetapi kami tidak memaksakan distribusi ke lokasi-lokasi yang berada di dataran lebih tinggi," tuturnya.
Meski demikian, Teddy optimistis kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Bandung tetap dapat dipenuhi apabila seluruh pihak terus memperkuat kolaborasi selama musim kemarau.
"Kami optimistis apabila berkolaborasi dengan semua pihak, pelayanan air minum bagi masyarakat Kabupaten Bandung insyaallah tetap dapat kami penuhi selama musim kemarau ini," pungkasnya.
(yum/yum)
