Kemarau mulai berdampak signifikan di sejumlah wilayah di Jawa Barat (Jabar). Ancaman kekurangan air bersih pun kini sudah melanda dan dikhawatirkan beberapa permukiman warga di Kota Bandung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satunya dialami pemilik kontrakan di wilayah Dago Elos, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung bernama Jamil. Dalam perbincangannya bersama detikJabar, ia mengatakan kondisi tersebut sudah mulai terjadi satu pekan yang lalu.
Menurut Jamil, kontrakannya selama ini mengandalkan urusan air bersih dari PDAM. Namun belakangan hari ini, aliran air tersebut jadi berkurang dan dikeluhkan penghuni yang menempatinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi udah semingguan yang tinggal di kontrakan saya itu bilang kalau airnya enggak nyala. Nyalanya cuman malam doang," kata Jamil, Kamis (2/7/2026).
Jamil pun tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah tersebut. Paling bantar ia hanya bisa memberi masukan ke penghuni kontrakannya untuk menyetok air bersih saat alirannya sudah normal.
"Paling ya gitu, kalau malam nyala, saya bilang ke yang ngontrak supaya dipenuhin baknya," ungkap Jamil.
Jamil pun berharap masalah ini bisa segera diatasi. Sehingga, aktivitas penghuni kontrakannya kembali normal tanpa gangguan sehari-hari.
"Ya gimana lagi, saya cuma bisa bilang gitu doang ke yang ngontrak. Makanya, mudah-mudahan bisa cepet selesai lah, biar yang tinggal di sana juga enggak was-was terus tiap hari," harapnya.
Sementara itu, dalam keterangannya, Pemkot Bandung kini sedang berupaya meningkatkan cakupan layanan air bersih bagi masyarakat. Saat ini, akses layanan air perpipaan di Kota Bandung baru mencapai sekitar 38 persen dari total kebutuhan warga.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, salah satu langkah yang tengah ditempuh adalah melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan jaringan pipa air baku dari Waduk Saguling dan Cirata menuju Kota Bandung. Menurut Farhan, proyek tersebut direncanakan mampu menyuplai air baku hingga 3.500 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Bandung.
"Kita sedang melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan pipa dari Saguling dan Cirata sebanyak 3.500 liter per detik ke Kota Bandung. Semua sudah siap, tapi sampai hari ini kami belum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power," katanya.
Proses tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait ketersediaan air pada musim kemarau. Menurutnya, ketika debit air di kawasan pembangkit berkurang, pasokan air untuk Kota Bandung pun berpotensi terganggu.
"Dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power (Saguling) kurang, ya kita tidak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali," katanya.
Selain menambah pasokan air baku, Pemkot Bandung juga tengah melakukan inovasi melalui percobaan penyulingan atau filterisasi air Sungai Cikapundung. Air hasil pengolahan tersebut direncanakan dimanfaatkan untuk kebutuhan non-konsumsi.
"Air Sungai Cikapundung akan digunakan sebagai air bersih untuk kepentingan non-konsumsi, seperti untuk bersih-bersih, mandi, dan lain-lain," jelas Farhan.
Terkait target layanan air perpipaan, Farhan menuturkan pemerintah saat ini fokus meningkatkan cakupan dari 38 persen menjadi 40 persen. Menurutnya, peningkatan secara bertahap menjadi pilihan realistis mengingat keterbatasan sumber air baku di Kota Bandung.
"Kalau sekarang kita masih mengejar 40 persen dulu, dari 38 persen ke 40 persen. Kenapa tidak bisa langsung ke 100 persen? Karena sumber air baku di Kota Bandung sudah tidak ada. Kita membeli semuanya dari provinsi dan kabupaten," pungkasnya.
(ral/yum)
