Musim kemarau yang melanda sudah berdampak nyata bagi sektor pertanian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Hal ini terlihat dari mulai mengeringnya areal persawahan, terutama di wilayah Pantura Subang.
Pantauan detikJabar, tanah sawah di wilayah Ciasem, Subang sudah menganga akibat tidak teralirinya air sejak beberapa waktu terakhir. Bahkan, kebanyakan tanah sudah mengeras dan tidak bisa dimanfaatkan untuk bertani.
Sasmin, salah satu petani yang sawahnya sudah kering kerontang, menunjukkan tanaman padi yang ia tanam kepada detikJabar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Udah hampir sebulan sawah mulai mengering sekarang udah kayak gini kering banget," ujar Sasmin di areal pesawahan, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, tanaman padi yang ia tanam baru berusia 1,5 bulan. Namun, karena sama sekali tidak mendapatkan pasokan air, tanaman padinya terancam mati. Jika terus dibiarkan, ia dipastikan gagal panen. Padahal, modal yang ia keluarkan tidaklah sedikit.
"Sawah kekeringan, padi mengering tidak ada air. Padahal biaya sudah gede, sekitar Rp7 juta per hektare," katanya.
Ia menjelaskan, para petani sudah menggarap areal persawahan beberapa bulan lalu. Ia memperkirakan air akan tetap terjaga dari irigasi. Namun, bukan hanya tanah sawah yang mengering, sejumlah irigasi mulai berkurang debit airnya dan ada yang sudah mengering. Ia menegaskan jika tidak terantisipasi, petani dipastikan akan mengalami gagal panen.
"Sekarang usia padi baru 1 bulan setengah, kalau begini terus ya gagal panen aja. Total ada sekitar 150 hektare yang terdampak di sini aja, belum tau di tempat lain," keluh Sasmin.
Terlihat para penggembala kambing memanfaatkan padi yang terancam mati, bahkan rumput liar sudah banyak tumbuh di areal sawah kering tersebut.
Kekeringan yang melanda areal persawahan di Subang kian meluas. Jika terus terjadi, maka kekeringan akan semakin parah. Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Subang, sampai saat ini 16 dari 30 kecamatan di Kabupaten Subang sudah mengalami kekeringan dan terancam kekeringan dampak dari musim kemarau.
Menurut Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Subang, Dewi Lestari, kemarau yang melanda Kabupaten Subang telah menyebabkan ribuan hektare areal persawahan mengering.
"Luas kekeringan 1.704,23 hektare dan luas terancam kekeringan 3.026.29 hektare," ujar Dewi saat dikonfirmasi detikJabar melalui pesan singkat, Kamis (16/7/2026).
Berikut 16 kecamatan yang terkena kekeringan dan terancam kekeringan:
1. Kecamatan Pusakanagara
2. Kecamatan Cipeundeuy
3. Kecamatan Pabuaran
4. Kecamatan Legonkulon
5. Kecamatan Subang
6. Kecamatan Cipunagara
7. Kecamatan Cibogo
8. Kecamatan Sagalaherang
9. Kecamatan Pagaden Barat
10. Kecamatan Tanjungsiang
11. Kecamatan Cisalak
12. Kecamatan Compreng
13. Kecamatan Patokbeusi
14. Kecamatan Cikaum
15. Kecamatan Pagaden
16. Kecamatan Dawuan
Menanggapi krisis ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang menyatakan terus bergerak untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan masyarakat. Langkah cepat yang diambil adalah memperkuat koordinasi dengan pengelola sungai dan irigasi primer.
Upaya ini dilakukan agar distribusi air bisa segera dialirkan ke pos-pos persawahan yang kritis, sekaligus menekan agar dampak kekeringan tidak semakin meluas ke wilayah lain.
Ia menyebutkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Pihaknya terus melakukan pemantauan dinamis setiap malam untuk memonitor pergerakan dampak kekeringan ini.
"Kami dari dinas terkait terus berkoordinasi secara intensif dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) dan PJT (Perum Jasa Tirta), Pemprov dan kementerian. Tujuannya agar ketersediaan air bisa dibagi secara merata dan kekurangan air bisa segera diantisipasi, saat ini dilakukan cara gilir air dan pompanisasi," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa Pemkab Subang telah menyiapkan bantuan sosial bagi warga yang terdampak langsung secara ekonomi.
"Bapak Bupati sudah mengeluarkan kebijakan penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPD) berupa beras untuk wilayah yang terdampak bencana kekeringan. Mencegah perluasan area gagal panen agar tidak menimbulkan dampak sosial-ekonomi yang lebih luas di masyarakat," ungkapnya.
"Berdasarkan proyeksi neraca bahan pangan stok beras aman sampai dengan 50 hari kedepan. Kerugian masih dihitung oleh petugas untuk pengajuan asuransi," pungkasnya.
(sud/sud)
