Mentari belum benar-benar menampakkan diri di ufuk timur Kota Tasikmalaya, Senin (13/7/2026). Namun, lorong-lorong SDN Sambongjaya sudah riuh oleh langkah kaki yang terburu-buru. Hari itu adalah gerbang pembuka tahun ajaran 2026/2027, sebuah momen yang bagi sebagian orang tua bukan sekadar mengantar anak, melainkan sebuah 'perjuangan' memperebutkan posisi terbaik.
Sejak subuh, puluhan orang tua siswa baru sudah memadati area sekolah. Pintu-pintu kelas dibuka paksa oleh ambisi, mereka merangsek masuk meski guru belum menampakkan batang hidungnya. Di bawah temaram lampu ruang kelas yang masih menyala, para orang tua ini sibuk memilih meja. Kursi-kursi yang masih tersusun rapi di atas meja segera diturunkan demi mengamankan barisan paling depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada keyakinan lama yang masih mengakar kuat, duduk di depan adalah kunci kecerdasan. "Saya pagi-pagi kaget ke sini mau dapat bangku di depan buat anak saya. Biar anaknya nyerap pelajaran dengan cepat," ujar Fani, salah satu orang tua siswa.
Semangat ini rupanya menular pada siswa senior. Puspa, siswi kelas enam, tak mau kalah start. Ia sengaja datang saat embun masih menempel di dedaunan demi mengamankan "wilayah" kekuasaannya di kelas.
"Saya pagi-pagi datang ke kelas. Saya alhamdulillah dapat bangku paling depan," kata Puspa.
Namun, keriuhan di barisan depan berbanding terbalik dengan pemandangan di ambang pintu kelas satu. Ketika bel masuk berdentang nyaring, drama sesungguhnya dimulai. Alih-alih duduk manis, sejumlah siswa baru justru mematung di pintu, merengek, bahkan nyaris pecah tangisnya. Mereka enggan dilepas dari dekapan orang tua.
Alhasil, para orang tua ini terpaksa "bersekolah" lagi. Mereka duduk bersila di selasar, mengintip dari balik jendela, atau bahkan ikut masuk ke dalam kelas mendampingi buah hatinya mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Ya gimana lagi anak saya mau sekolah tapi pas kesini mungkin belum terbiasa yah. Dia jadi agak sulit," Kata Wiwin, salah satu orang tua yang terpaksa berjaga di lorong agar anaknya tidak histeris.
Pihak sekolah memahami betul gejolak emosi di hari pertama ini. Kepala SDN Sambongjaya, Ipin Mulyana, memberikan kelonggaran bagi para orang tua untuk mendampingi anak-anak mereka, meski hanya untuk sementara.
"Kelas 1 ada 3 rombel, jumlahnya 75 siswa. Yah kalau ditungguin untuk kelas satumah ada toleransi tapi hanya beberapa hari saja," kata Kepala SDN Sambongjaya, Ipin Mulyana.
Terkait perebutan kursi depan, Ipin menenangkan para orang tua dengan kebijakan rotasi.
"Semua siswa nantinya akan merasakan duduk di barisan depan secara bergiliran," tambahnya.
Tahun ini, SDN Sambongjaya menyambut total 85 siswa baru di kelas 1.
Di tengah hiruk-pikuk drama tangisan, ada pula orang tua yang melenggang santai tanpa beban. Weni Herliawati adalah salah satunya. Ibu muda asal Sambongjaya ini punya resep khusus agar hari pertama sekolah berjalan mulus tanpa air mata.
Persiapan Weni dimulai sejak fajar menyingsing. Ia membangunkan anaknya dengan lembut, menyajikan menu sarapan favorit, hingga telaten menyuapi sang buah hati agar mood-nya terjaga. Seragam dan sepatu dipastikan mengkilap sempurna. Namun, kunci utamanya adalah keterlibatan emosional sang anak sejak jauh-jauh hari.
"Jadi ya lumayan sih tantangannya. Tapi memang kita dari awal libatin anak persiapan sekolah. Sampai dia diizinkan beli perlengkapan sekolah kemauan dia. Jadi pas sekolah dia semangat," kata Weni.
Strategi ini terbukti ampuh. Anaknya melangkah ke sekolah dengan penuh percaya diri, meninggalkan drama malas belajar yang biasanya menghantui.
