Menjelajah Jejak Masa Lampau di Museum Geologi Bandung

Menjelajah Jejak Masa Lampau di Museum Geologi Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Minggu, 12 Jul 2026 20:30 WIB
Museum Geologi di Kota Bandung.
Museum Geologi di Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, sebuah bangunan bersejarah di Jalan Diponegoro kini tengah menjadi magnet bagi ratusan keluarga yang menghabiskan waktu libur sekolah. Ya! Museum Geologi Bandung namanya.

Bangunan dengan aura klasik yang megah ini bertransformasi menjadi ruang kelas raksasa. Terbuka bagi siapa saja yang ingin menyapa sejarah bumi dan segala peninggalan bersejarahnya.

Belum lama ini, detikJabar berkunjung ke Museum Geologi. Suasana di dalam museum terasa hidup, dipenuhi oleh tawa anak-anak dan rasa penasaran orang dewasa yang terpaku menatap saksi bisu dari jutaan tahun yang lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah kaki pengunjung seolah diajak menembus lorong waktu saat memasuki empat ruang pameran utama yang tertata apik. Perjalanan dimulai dari Ruang Geologi Indonesia, di mana lapisan batuan dan mineral tersusun rapi sebagai fondasi pembentuk Nusantara.

ADVERTISEMENT

Tidak jauh dari sana, pengunjung digiring untuk lebih memahami karakter alam Indonesia melalui Ruang Kebencanaan Geologi. Ruangan ini tidak hanya sekadar memamerkan data, tetapi memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kita harus hidup selaras dan siaga di negeri yang kaya akan dinamika geologi ini.

"Jadi Museum Geologi ini tidak terlepas dari penyelidikan geologi di Indonesia. Itu dimulainya dari tahun 1850-an. Nah, tahun 1920-an hasil penelitian itu semakin banyak tapi belum punya tempat khusus memang untuk menyimpan atau misalnya memamerkan dan juga laboratorium. Maka pada tahun 1928 dibangun gedung yang sekarang menjadi Museum Geologi. Nah, itu diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929," kata Humas Museum Geologi Anita saat membuka perbincangan dengan detikJabar.

Daya tarik sesungguhnya menanti di Ruang Sejarah Kehidupan. Di sini, imajinasi pengunjung diajak terbang jauh ke masa lampau. Rekonstruksi gajah purba dari Blora yang megah berdiri tegak, seolah menyambut siapa saja yang datang untuk melihat sisa-sisa kegagahan satwa purba Indonesia.

Museum Geologi di Kota Bandung.Museum Geologi di Kota Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar

"Ini sebenarnya replika, replika dari fosil gajah Blora. Jadi nama latinnya adalah Elephas hysudrindicus. Ditemukan tahun 2009 di Blora. Kami buatkan replikanya karena yang fosil aslinya masih kami simpan, masih di ruang storage dan itu cukup lengkap," ungkap Anita.

"Fosil ini termasuk penemuan fosil spektakuler. Karena dari satu individu gajah yang sama ditemukan kurang lebih 95%. Dan ini juga penemuannya hasil dari para peneliti dari Museum Geologi sendiri," tambahnya.

Tidak hanya itu, deretan fosil badak, harimau Jawa, hingga babi purba endemik Sulawesi yang kini telah tiada, menjadi pengingat betapa luasnya keragaman hayati yang pernah menapak di bumi ini.

"Babi purba yang dilihat sekarang ini adalah babi purba endemik hanya di daerah Sulawesi Selatan aja. Taringnya empat makanya disebut Celebochoerus hekereni, itu salah satu cirinya itu. Jadi selain punya taring yang mengarah ke atas, ada juga juga yang di bawahnya," tuturnya.

Bahkan, jejak laut purba di Padalarang pun tersaji nyata melalui temuan kerang raksasa yang membuktikan bahwa daratan yang kita pijak hari ini menyimpan rahasia samudra di masa lampau.

"Jadi ruangan ini tentang Moluska, juga Foraminifera. Nah, ini yang cukup menarik di ruangan ini ada kerang raksasa. Ini ditemukan di Padalarang," ujarnya.

Bagi para orang tua yang mencari destinasi wisata yang tidak hanya sekadar hiburan, Museum Geologi adalah jawaban yang tepat. Di sini, anak-anak tidak hanya diajarkan untuk sekadar melihat, melainkan untuk menghargai sains dan sejarah alam.

Edukasi mengenai pentingnya melindungi situs-situs fosil, bukan sekadar menjadikannya komoditas atau objek mistis menjadi pesan kuat yang disisipkan di setiap sudut pameran, termasuk saat pengunjung mengagumi jejak manusia purba dari situs Sangiran.

Jadi, bagi warga Bandung maupun mereka yang sedang melintas di Kota Kembang, jangan lewatkan kesempatan untuk membawa keluarga menikmati petualangan ilmiah ini.

(wip/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads