8 Fakta Tragedi Ledakan Mortir Tewaskan 3 Warga Bandung Barat

Round Up

8 Fakta Tragedi Ledakan Mortir Tewaskan 3 Warga Bandung Barat

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 10 Jul 2026 10:00 WIB
Kapolsek Cipatat, Kompol D.M.S. Andriani Sapin cek TKP ledakan mortir.
Kapolsek Cipatat, Kompol D.M.S. Andriani Sapin cek TKP ledakan mortir. (Foto: Dok. Polsek Cipatat)
Bandung Barat -

Tragedi memilukan menimpa tiga warga Kampung Ciparang, Desa Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ade (21), Suhri (40), dan Rodiana (40) tewas setelah terkena ledakan benda yang diduga peluru mortir 81 Komando pada Rabu (8/7/2026).

Berikut 8 fakta terkait insiden maut tersebut yang dirangkum detikJabar:

1. Tiga Orang Tergeletak

Insiden ledakan maut tersebut dibenarkan oleh pihak kepolisian. Dua korban langsung meninggal dunia, sementara satu korban yang sempat bernapas akhirnya meninggal pada Rabu petang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Betul kami terima laporan adanya ledakan peluru mortir 81 Komando. Korban tiga orang, warga Kampung Ciparang. Sudah dievakuasi semua korbannya," kata Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra.

ADVERTISEMENT

"Saat saksi yang berprofesi sebagai anggota kepolisian tiba di TKP, didapati tiga orang sudah tergeletak disamping rumah korban. Di lokasi, warga menolong satu korban yang masih bernapas ke Puskesmas Rajamandala. Sementara dua korban lainnya sudah tidak bernapas," jelas Niko.

2. Suara Ledakan Dikira Tembakan Latihan

Saksi mata, Damet (43), awalnya tidak mengira ledakan tersebut menelan korban jiwa karena wilayah tersebut memang dekat dengan area latihan militer.

"Saya lagi di depan rumah, awalnya itu saya kira suara tembakan latihan di Pusdikif, ternyata bukan. Terus ada tetangga yang kasih tahu, ada ledakan di rumah Ade. Saya cek kesana, sudah ramai ibu-ibu dan ada 3 orang tergeletak," kata Damet.

3. Meninggal Dunia Saat Minta Digeser ke Tempat Teduh

Luka parah di sekujur tubuh membuat nyawa korban tak tertolong, meski warga sempat mencoba memberikan bantuan.

"Waktu saya datang, itu masih bernapas malahan Kang Rodiana minta digeser ke temoat teduh. Nah sekitar 3 menitan, dua korban yang sebelumnya bernapas itu meninggal. Memang luka-lukanya sangat parah," kata Damet.

4. Korban Suka Memulung dan Diduga Membongkar Mortir

Berdasarkan temuan warga dan kepolisian di lokasi, korban yang berprofesi sebagai petani memang sering memulung dan diduga sedang mengotak-atik amunisi tersebut dengan alat perkakas.

"Iya memang suka memulung peluru bekas latihan, cuma kalau mulung mortir mungkin baru kali ini ya. Kalau saya lihat, memang sepertinya lagi ngebongkar mortir di rumah Ade, soalnya ada palu sama pahat. Cuma berapa mortir sama peluru yang mereka bawa ke rumah saya enggak tahu," kata Damet.

"Itu kan sudah jelas dilarang, masyarakat tidak boleh masuk ke area latihan TNI dimanapun. Dan untuk ketiga korban ini memang diketahui suka memuling selongsor peluru bekas latihan, dan saat kejadian mereka memulung benda diduga mortir itu," kata Kapolsek Cipatat Kompol D.M.S. Andriani.

5. TKP Diamankan dan Targetkan Investigasi Kepemilikan

Merespons insiden ini, kepolisian dan TNI langsung mengamankan area. Investigasi ditargetkan pada uji lab untuk mengetahui pasti asal kesatuan mana yang memiliki mortir tersebut.

"Saya enggak tahu pastinya ada berapa terus apakah masih aktif semua atau enggak. Soalnya setelah itu langsung diamankan polisi dan TNI semua, sekarang sudah dipasangi garis polisi," kata Damet.

"Saat ini masih dipasangi police line, selanjutnya kami serahkan pada yang lebih berwenang. Soal jenisnya, itu juga bukan kewenangan kami," kata Andriani.

"Saat ini kami menunggu dari tim Gegana Kepolisian untuk menyampaikan hasil uji laboratorium apakah itu granat dari kami (Pusdikif) atau granat dari mana," kata Kepala Departemen Teknis Pusdikif Letkol Inf. Sunarya.

"Yang di sini latihan kan bukan cuma Pusdikif, ada juga Pusdikkav. Makanya kita tunggu dulu saja kepastian jenis dan kepemilikan granatnya (mortir)," tegas Sunarya.

6. TNI Tegaskan Area Latihan Sudah Membunyikan Sirene

Pihak Pusdikif menegaskan bahwa setiap kali latihan yang bersinggungan dengan masyarakat, mereka selalu memberikan tanda peringatan.

"Pasti dibunyikan sirene, mau menembak senapan, mortir, dan lain sebagainya yang sifatnya berbahaya, kemudian bersinggungan dengan masyarakat, maka akan dibunyikan sirene sebagai tanda latihan," kata Sunarya.

"Yang masuk itu tidak bisa terkontrol. Kenapa? Kami kan menguruskan siswa, bukan menguruskan masyarakat. Masyarakat mungkin pada saat istirahat atau bagaimana mereka melaksanakan kegiatan tersebut," ungkap Sunarya.

7. Prosedur Ketat Pemusnahan Amunisi TNI

Menurut prosedur standar militer, amunisi yang gagal meledak seharusnya dihancurkan (disposal), bukan dibiarkan untuk dipungut.

"Karena dari hasil prosedur-prosedur yang ada di militer, apabila granat itu tidak meledak maka dihentikan kegiatan. Dicarikan granat itu, kemudian dilaksanakan disposal (peledakan)," kata Sunarya.

"Selongsong tidak boleh diambil, karena yang pertama selongsong itu diledakkan apabila dia tidak berfungsi. Yang kedua, apabila munisi itu tidak bunyi, maka kita melaksanakan disposal. Langsung kami hentikan kegiatan, kumpulkan granat itu, kemudian kami sendiri yang meledakkan," tegasnya.

"Dan itu (disposal) dilaksanakan terakhir pada tanggal 22 Juni, kita melaksanakan disposal sebanyak 36 butir amunisi yang tidak meledak," ujar Sunarya.

8. Imbauan Mengembalikan Sisa Amunisi ke Pihak Berwajib

Sebagai langkah pencegahan agar tragedi ini tak berulang, polisi mengimbau warga sekitar area latihan TNI untuk segera menyerahkan amunisi yang mungkin masih disimpan.

"Kemudian warga di ciparang, yang masih menyimpan amunisi dan selongsong bekas agar segera mengembalikan kepada pihak berwajib. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang," kata Andriani.

"Tolong kami mengimbau warga yang di area pusdik tempat latihan TNI agar tidak mendekat apalagi sampai memungut selongsong dan amunisi bekas latihan. Meskipun sudah bekas, tapi kita tidak tahu apakah aktif atau tidak, berbahaya atau tidak," imbuhnya.



(sya/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads