Tragedi memilukan menimpa Ade (21), Suhri (40), dan Rodiana (40), warga Kampung Ciparang, RT 04/RW 07, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Mereka tewas terkena ledakan benda yang diduga mortir pada Rabu (8/7/2026).
Kini, ketiganya telah dimakamkan pada Kamis (9/7/2026) diiringi isak tangis sanak saudara dan tetangga. Usai peristiwa maut itu, polisi bergerak cepat mengamankan lokasi kejadian dan menyelidiki kepemilikan amunisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Damet (43), warga setempat sekaligus saksi mata, menceritakan awalnya ia mendengar suara ledakan yang cukup keras. Damet lalu diminta tolong oleh tetangganya untuk mengecek sumber ledakan tersebut.
"Saya lagi di depan rumah, awalnya itu saya kira suara tembakan latihan di Pusdikif, ternyata bukan. Terus ada tetangga yang kasih tahu, ada ledakan di rumah Ade. Saya cek kesana, sudah ramai ibu-ibu dan ada 3 orang tergeletak," kata Damet saat ditemui di kediamannya, Kamis (9/7/2026).
Ia melihat ketiga korban tergeletak dengan luka parah di sekujur tubuh yang bersimbah darah. Ia kemudian mendekat untuk mengecek kondisi ketiganya dan mendapati mereka masih bernapas. Namun hanya berselang 3 sampai 5 menit, dua orang meninggal dunia.
"Waktu saya datang, itu masih bernapas malahan Kang Rodiana minta digeser ke temoat teduh. Nah sekitar 3 menitan, dua korban yang sebelumnya bernapas itu meninggal. Memang luka-lukanya sangat parah," kata Damet.
Hingga akhirnya, polisi dan TNI tiba di lokasi kejadian guna mengevakuasi korban lalu melakukan olah TKP. Tim Jibom Polda Jawa Barat kemudian datang untuk mengamankan sisa amunisi lainnya.
"Saya enggak tahu pastinya ada berapa terus apakah masih aktif semua atau enggak. Soalnya setelah itu langsung diamankan polisi dan TNI semua, sekarang sudah dipasangi garis polisi," kata Damet.
Damet menuturkan bahwa ketiga korban memang kerap memungut amunisi bekas latihan TNI di area Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif). Padahal, profesi asli para korban adalah petani.
"Iya memang suka memulung peluru bekas latihan, cuma kalau mulung mortir mungkin baru kali ini ya. Kalau saya lihat, memang sepertinya lagi ngebongkar mortir di rumah Ade, soalnya ada palu sama pahat. Cuma berapa mortir sama peluru yang mereka bawa ke rumah saya enggak tahu," kata Damet.
Kepala Departemen Teknik Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Letkol Inf Sunarya mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan jenis dan kepemilikan benda diduga mortir yang meledak hingga menewaskan tiga warga tersebut.
"Saat ini kami menunggu dari tim Gegana Kepolisian untuk menyampaikan hasil uji laboratorium apakah itu granat dari kami (Pusdikif) atau granat dari mana," kata Sunarya saat ditemui di lokasi kejadian.
Sunarya menjelaskan, kesatuan yang menggunakan amunisi mortir bukan hanya Pusdikif, melainkan juga kesatuan lain seperti Pusdikkav. Selain itu, kesatuan yang berlatih di kawasan tersebut bukan hanya Pusdikif.
"Yang di sini latihan kan bukan cuma Pusdikif, ada juga Pusdikkav. Makanya kita tunggu dulu saja kepastian jenis dan kepemilikan granatnya (mortir)," kata Sunarya.
Simak Video "Video: Gudang Amunisi di Madiun Meledak, 6 Luka 1 Meninggal Dunia"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
