Memasuki musim kemarau, sejumlah petani padi di wilayah Kota Tasikmalaya mulai pasang kuda-kuda. Mereka bersiap mengantisipasi ancaman krisis air yang bisa mengganggu kelancaran usaha.
"Sebulan lagi panen padi, mudah-mudahan nggak sampai kekeringan. Sekarang masih aman walau pun mulai surut," kata Wahid (55), salah seorang petani di wilayah Cimerak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Rabu (1/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku waswas karena terancam gagal panen. Selain pasokan air menipis, kondisi saluran irigasi juga banyak yang mengalami kerusakan, sehingga bisa memperparah kondisi akibat kebocoran pada saluran.
"Air sudah menipis, irigasi banyak yang rusak, itu bisa membuat air nggak terbagi rata," kata Wahid.
Sementara itu, merujuk data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) Kota Tasikmalaya, kerusakan saluran irigasi primer dan sekunder di wilayah Kota Tasikmalaya mencapai lebih dari 50 kilometer.
Kerusakan tersebut terdiri dari 24,53 kilometer rusak berat, sepanjang 13,54 kilometer teridentifikasi rusak sedang, dan sekitar 15 kilometer lainnya mengalami kerusakan ringan.
"Total luas daerah irigasi yang menjadi kewenangan kota mencapai 1.749 hektare," kata Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, Rabu (1/7/2026).
Menurut Rino, kerusakan jaringan irigasi saat ini terjadi dalam berbagai tingkatan, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga berat. Pihaknya sangat membutuhkan penanganan walaupun dilakukan secara bertahap.
Langkah pemulihan infrastruktur ini sayangnya harus membentur kendala besar. Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah daerah berdampak langsung pada tersendatnya agenda perbaikan fasilitas pengairan tersebut.
"Program rehabilitasi saluran irigasi secara praktis jadi mandek," kata Rino.
Dia mengakui mandeknya proyek perbaikan ini membuat performa saluran irigasi kian merosot. Hal itu pada akhirnya mengacaukan jalur distribusi air ke sawah warga, terlebih ketika debit air menipis akibat kemarau.
"Saluran tidak optimal, debit air hilang. Sehingga luas areal sawah yang terairi berpotensi berkurang dan fungsi irigasi menjadi terganggu," kata Rino.
Rino berharap pemerintah daerah tetap berkomitmen penuh untuk menyukseskan agenda ketahanan pangan nasional. Hanya saja, ruang gerak mereka terkunci oleh keterbatasan dana yang tersedia.
"Saat ini program tematik pemerintah pusat memang fokus pada swasembada pangan. Kami juga fokus ke sana," katanya.
Meski visi mereka sejalan dengan pusat, kesenjangan antara besarnya biaya pemulihan fisik di lapangan dan kapasitas anggaran daerah yang minim masih menjadi persoalan yang belum menemui titik temu.
"Kami tidak bisa berbuat banyak karena minimnya anggaran untuk pelaksanaan program. Sementara kebutuhan rehabilitasi irigasi juga cukup besar," kata Rino.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
