Macet Pasteur Bandung yang Tak Ada Liburnya

Macet Pasteur Bandung yang Tak Ada Liburnya

Rifat Alhamidi - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 17:30 WIB
Suasana arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasteur Bandung.
Suasana arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasteur Bandung (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar).
Bandung -

Bagi banyak orang, kawasan Pasteur adalah gerbang utama menuju Kota Bandung dengan segala pesonanya. Setiap akhir pekan dan musim liburan, ribuan wisatawan melintasi kawasan ini untuk berburu kuliner, berbelanja, hingga mengunjungi beragam destinasi wisata.

Namun, sebelum benar-benar menikmati liburan, mereka lebih dulu harus bersabar di balik kemudi kendaraan. Antrean mobil yang mengular dan arus lalu lintas yang tersendat seolah menjadi pintu pembuka sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan.

Untuk para wisatawan, kemacetan itu mungkin hanya berlangsung sesaat. Ceritanya berbeda dengan warga sekitar. Bagi mereka, macet di kawasan Pasteur bukan sekadar fenomena akhir pekan, melainkan menu sehari-hari yang seolah tak pernah usai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana tidak, kawasan Pasteur yang membentang di Jalan Dr. Djunjunan hampir setiap hari dipadati kendaraan. Pada hari kerja, arus lalu lintas dipenuhi masyarakat yang berangkat ke kantor, mengantar anak ke sekolah, hingga pulang ke rumah. Memasuki akhir pekan, kepadatan itu bertambah oleh kendaraan wisatawan yang datang dari berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

Suasana itulah yang hampir setiap hari disaksikan warga sekitar. Mereka bukan sekadar melihat antrean kendaraan dari kejauhan, melainkan ikut merasakan dampaknya secara signifikan, salah satunya waktu tempuh yang menjadi semakin panjang.

"Kalau harus lewatin Pasteur pas libur mah mending muter saya mah. Ruwet banget soalnya," kata Bagus Ismail (28), salah seorang warga saat berbincang dengan detikJabar.

Apa yang Bagus sampaikan, memang tak berlebihan. Pada Minggu (28/6/2026) siang, detikJabar menjajal langsung bagaimana situasi lalu lintas di Pasteur, saat kendaraan wisatawan mulai meninggalkan Bandung usai menghabiskan waktu liburan di akhir pekan.

Selepas melewati Flyover Mochtar Kusumaatmadja atau Flyover Pasupati, kemacetan langsung terlihat di Jalan Dr Djunjunan. Padahal, jalan ini begitu lebar, namun seolah tak mampu menampung kepadatan mobil wisatawan.

Di tengah padatnya arus kendaraan, terlihat pula sejumlah mobil berhenti di bahu jalan. Kondisi itu, ditambah siklus lampu lalu lintas di simpang Pasteur, membuat antrean kendaraan jadi semakin panjang.

Namun, bagi Bagus, persoalan kemacetan di Pasteur tak bisa semata-mata disalahkan pada kondisi di lapangan. Menurutnya, kemacetan yang terus berulang menunjukkan perlunya langkah yang lebih serius untuk mengendalikan pertumbuhan kendaraan dan mengurai kepadatan lalu lintas.

"Harusnya ditata transportasi massalnya. Biar warga juga dibiasain gitu naik angkutan. Kalau kayak sekarang kan, pasti lebih milih pakai kendaraan pribadi. Soalnya belum ada yang nyaman banget kalau pakai angkot misalnya," ungkapnya.

Berdasarkan data BPS dalam publikasi bertajuk 'Kota Bandung Dalam Angka 2026', menunjukkan dominasi penggunaan kendaraan pribadi di Kota Bandung masih sangat tinggi. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan dalam upaya mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum.

Data BPS menunjukkan potensi kendaraan di Kota Bandung tercatat mencapai 1.527.139 unit. Untuk kendaraan jenis sedan, jeep, minibus, angkutan umumnya mencapai 124.615 unit, angkutan dinas 132.865 unit dan 116.861 sisanya merupakan milik pribadi.

Yang mencengangkan tercatat dalam data kepemilikan sepeda motor dan skuter. Dalam data BPS, 0 kendaraan untuk angkutan umum, 9.518 kendaraan dinas dan 1.073.484 lainnya merupakan milik pribadi.

Karena kondisi ini lah, kadang muncul anekdot di kalangan warga yang menggelitik. Bagaimana tidak, warga Kota Bandung justru memilih menikmati liburan di rumah dibanding harus capek macet-macetan di jalan.

"Ya, emang gitu. Warga Bandung-nya mending di rumah aja kalau libur. Ruwet banget soalnya kalau akhir pekan, jalan macet, panas, jadi mending di rumah aja sama keluarga," pungkasnya.

Pada intinya, kemacetan di Pasteur mungkin tak akan menghalangi orang datang ke Bandung. Namun di balik ramainya wisata dan geliat ekonomi, ada warga yang setiap hari harus membayar ongkos waktu akibat padatnya lalu lintas. Selama solusi belum benar-benar hadir, kemacetan di Pasteur tampaknya masih akan terus menjadi cerita yang berulang.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Efisiensi, ASN Purwakarta Kerja Naik Sepeda, Ojol hingga Angkot"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads