Dalam kurun waktu empat hari, empat anak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di sungai hingga saluran irigasi. Peristiwa memilukan itu terjadi di sejumlah wilayah berbeda dan kini menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis Ani Supiani mengaku prihatin atas rentetan kejadian tersebut. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga korban.
"Ini sangat memprihatinkan. Dalam empat hari ada empat anak meninggal dunia akibat tenggelam. Kami dari BPBD Kabupaten Ciamis menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga para korban diterima di sisi-Nya dan keluarga diberikan ketabahan," ujar Ani kepada detikJabar, Selasa (9/6/2026).
Kasus pertama terjadi pada Jumat (5/6/2026) di Sungai Ciseel, Desa Bantardawa, Kecamatan Purwadadi. Dua bocah perempuan berinisial KY dan SO yang masing-masing berusia sekitar 11 tahun dilaporkan tenggelam saat bermain dan mandi di sungai.
Masih di hari yang sama, seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun berinisial LA ditemukan meninggal dunia di saluran irigasi Cibodas, Dusun Citamiang, Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok.
Kemudian pada Senin (8/6/2026), bocah berinisial RR (8) ditemukan meninggal dunia di Bendungan Tangkolo, Sungai Cijolang, perbatasan Kecamatan Rancah, Ciamis dan Kecamatan Subang, Kuningan. Korban diduga tenggelam saat berenang bersama dua temannya.
Ani mengatakan, kejadian beruntun ini menjadi pengingat bahwa lingkungan perairan menyimpan potensi bahaya yang kerap dianggap sepele.
"Potensi bahaya di sungai, bendungan, embung, kolam maupun saluran irigasi harus menjadi perhatian serius bersama. Anak-anak memang senang bermain air, apalagi saat cuaca panas seperti sekarang, tetapi mereka sering kali belum memahami risiko yang ada," katanya.
Menurut Ani, pengawasan terhadap anak-anak perlu diperketat, terutama saat masa libur sekolah. Ia menilai keselamatan anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga lingkungan sekitar.
"Kami mengajak orang tua, keluarga, guru, tokoh masyarakat, hingga pemerintah desa untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak. Keselamatan anak itu tanggung jawab bersama," ungkapnya.
Ani mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi sungai atau saluran air yang terlihat dangkal dan tenang. Sebab, di dasar perairan bisa terdapat arus bawah, lubang dalam, hingga pusaran air yang membahayakan.
"Kadang kelihatannya dangkal, tapi di bawahnya ada arus yang tidak merata, ada bagian dalam atau leuwi yang berbahaya. Itu yang sering tidak disadari anak-anak," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi keselamatan aktivitas air sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
"Anak-anak harus diberi pemahaman bahwa bermain air itu ada risikonya. Kalau belum bisa berenang jangan nekat. Kalau beraktivitas di air sebaiknya menggunakan pelampung dan tetap dalam pengawasan orang dewasa," kata Ani.
BPBD Ciamis pun mengimbau masyarakat segera melapor apabila melihat anak-anak bermain di lokasi perairan yang dinilai berbahaya.
"Lebih baik mencegah daripada menyesal setelah terjadi musibah. Jangan sampai ada lagi anak-anak yang menjadi korban tenggelam," pungkasnya.
(sud/sud)