Kisah Eks Napiter: Saat Pintu Penjara Terbuka yang Tersisa Adalah Prasangka

Andry Haryanto - detikJabar
Minggu, 07 Jun 2026 05:00 WIB
Ziad Cholid (Foto: Andry Haryanto/detikJabar).
Bogor -

Bekas luka biasanya perlahan memudar. Kulit yang robek akan menutup, tulang yang patah akan menyambung. Namun ada luka lain yang tidak terlihat oleh mata. Ia menempel pada nama seseorang, mengikuti ke mana pun ia pergi, bahkan setelah masa hukumannya selesai. Luka semacam itulah yang dihadapi Ziad Cholid, seorang mantan narapidana kasus terorisme.

Bagi Ziad, pintu penjara memang sudah terbuka. Namun sebagian pintu lain belum tentu ikut terbuka. Ia dan adiknya, Uzair, pernah menjalani hukuman dalam perkara yang sama yang menyeret keduanya ke dalam pusaran stigma sosial yang panjang. Setelah bebas pada 2023, Ziad menyadari bahwa vonis pengadilan memiliki batas waktu, tetapi cap sosial sering kali tidak mengenal tanggal kedaluwarsa.

"Kalau mantan napi teroris, namanya tetap tercatat," katanya saat berbincang dengan detikJabar.

Kesadaran itulah yang mendorongnya menyusun rencana hidup baru sejak masih berada di dalam lapas.

Di balik tembok penjara, Ziad sering berbincang dengan sesama warga binaan. Topiknya hampir selalu sama. Bukan tentang masa lalu, melainkan masa depan. Apa yang akan dilakukan setelah bebas? Di mana mencari pekerjaan? Siapa yang masih mau menerima?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi bagi mantan narapidana terorisme jawabannya tidak pernah mudah.

Saat itu Ziad juga tengah berjuang melawan dirinya sendiri. Sebelum ditangkap, ia mengaku sedang berada di puncak karier sebagai pengusaha. Bisnis yang dirintis berkembang pesat. Usahanya sedang on fire. Kehidupan keluarganya relatif mapan. Lalu, semuanya berhenti.

"Enam bulan pertama saya enggak terima. Benar-benar enggak terima dengan keadaan," ujarnya mengisahkan.

Hari-hari di penjara dilaluinya dengan kemarahan. Ia menutup diri. Bahkan orang terdekat menjadi sasaran luapan emosinya.

"Saya marahin istri saya terus," kenangnya.

Di tengah kondisi itu, sebuah nasihat dari almarhum ayahnya kembali muncul dalam ingatan. "Kalau hidup sebagai manusia tidak bermanfaat untuk manusia lain, percuma," ujar Ziad menirukan ucapan tersebut.

Kalimat itu perlahan mengubah cara pandangnya.

Sebelum ditangkap, ia mengakui dirinya sangat berorientasi pada keuntungan. Setelah berada di balik jeruji, ia mulai mempertanyakan kembali tujuan hidup dan usahanya.

"Saya dulu memang murni bisnis. Setelah itu saya berpikir yang utama harus bermanfaat untuk masyarakat," ujarnya.

Perubahan itu tidak lahir dari seminar motivasi atau program pembinaan khusus. Ia muncul dari kegelisahan yang dipelihara berbulan-bulan di dalam sel.

Ziad kemudian mulai menyusun konsep usaha yang kelak akan dijalankan ketika bebas. Produknya tidak banyak berubah. Yang berubah adalah tujuan dan cara pandangnya. Maka lahirlah usaha jual beli mobil konsep syariah, Ada Mobil.

Simak Video "Menggugah Selera di Bavarian Haus dengan Kuliner Lezat di Bogor"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB