Jabar Hari Ini: KDM Tolak Tetapkan Status Bandung Darurat Sampah

Jabar Hari Ini: KDM Tolak Tetapkan Status Bandung Darurat Sampah

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 02 Jun 2026 22:00 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (Foto: Dok. Pemprov Jabar).
Bandung -

Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di Jawa Barat (Jabar) hari ini, Selasa (2/6/2026). Mulai dari aksi pria bertubuh besar yang menggegerkan warga di Jembatan Cirahong, hingga Gubernur Dedi Mulyadi yang menolak buru-buru menetapkan status Bandung darurat sampah.

Berikut rangkuman Jabar Hari Ini:

Pria Bertubuh Besar Bikin Heboh di Jembatan Cirahong

Selalu saja ada hal yang menarik dan jadi perhatian di Jembatan Cirahong perbatasan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Di tengah kesibukan dan lalu lalang sepeda motor yang melintasi Jembatan Cirahong, Selasa (2/6/2026) siang, ada kejadian yang bikin geger.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pria berusia sekitar 35 tahun diduga asal Tasikmalaya, tiba-tiba berteriak di Jembatan Cirahong. Menurut warga yang melihat, ketika berada di tengah jembatan, pria itu memegang pagar pembatas jembatan dan seperti diduga akan melompat.

Pengendara yang kebetulan melintas melihat kejadian itu langsung memberitahu warga dan pedagang sekitar jembatan. Warga yang curiga dan menduga pria itu akan melompat langsung datang membantu. Mereka kemudian menarik bersama-sama pria itu lalu mengamankannya ke tengah.

ADVERTISEMENT

Saat diamankan, pria yang memiliki postur tubuh besar itu meronta-ronta dengan tenaga besar hingga harus ditahan oleh sekitar 10 orang. Bahkan ada seorang pedagang yang terkena tendangan pria itu di bagian dadanya. Setelah berhasil diringkus, warga kemudian berinisiatif mengikat kaki dan tangannya supaya tidak kabur.

Usai diselamatkan dan dibawa ke sisi Tasikmalaya, seorang perempuan paruh baya menghampiri dan memeluk pria itu. Video aksi heroik warga itu pun menyebar di aplikasi perpesanan whatsapp.

"Kejadiannya tadi jam 10 kurang sebelum kereta melintas. Sedang jualan dikasih tahu sama yang melintas di motor katanya ada seorang pria yang mau lompat, jadi saya sama mang Wawan langsung ke Jembatan," ujar Adila saat ditemui di lokasi.

Adila bersama Wawan mengaku ikut membantu mengevakuasi pria bertubuh kekar itu. Menurut Adila, butuh 10 orang untuk menyelamatkan pria itu keluar Jembatan Cirahong itu.

"Tadi saya, kang Wawan, ada juga yang dari Tasik ditambah pemotor yang melintas ikut membantu, ada sekitar 10 orang. Alhamdulillah berhasil dievakuasi. Meskipun tadi saya terkena tendangan di dada karena terus meronta-ronta," ucapnya.

Wawan, pedagang di Jembatan Cirahong yang turut membantu menyelamatkan pria diduga akan lompat di Jembatan Cirahong mengatakan, saat kejadian, di dekat pintu jembatan di wilayah Ciamis baru hanya ada dua pedagang. Namun di tengah jembatan sudah ada warga yang sedang melintas.

"Tadi pria itu gogorowokan (teriak) masuk ke Jembatan Cirahong, diduga akan lompat. Jadi ikut membantu menyelamatkan supaya tidak lompat, saya cari tali supaya tidak kabur," ucapnya.

Wawan pun turut memberi saran dan masukan supaya di bagian pinggir Jembatan Cirahong dipasang jaring. Tujuannya supaya tidak ada lagi orang yang melompat ke Jembatan Cirahong seperti sebelum-sebelumnya yang telah terjadi.

Sementara, berdasarkan keterangan polisi aksi pria bertubuh besar yang diduga hendak melompat dari jembatan penghubung Ciamis dan Tasikmalaya itu berhasil digagalkan. Pria inisial M (30) itu berhasil diselamatkan warga dan diamankan.

"Sudah diamankan, Alhamdulillah berhasil diselamatkan. Sekarang sedang kami ajak ngobrol dari hati ke hati," kata Kapolsek Manonjaya, AKP Soni Alamsyah.

Soni menjelaskan pria yang membuat heboh publik Tasikmalaya akibat aksi nekatnya itu, sehari-hari bekerja sebagai penjual cilok. Dia sudah berkeluarga, punya istri dan seorang anak. Pria inisial M itu tinggal di sekitar Kecamatan Manonjaya, lokasinya relatif dekat dengan jembatan ikonik tersebut.

"Motifnya masalah ekonomi, lalu dipicu oleh konsumsi alkohol," kata Soni.

Kronologi kejadiannya berawal sejak tadi malam, ketika M pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Di rumah dia terlibat pertengkaran dengan istrinya. Sehingga dia mengamuk, menghancurkan barang-barang hingga memecahkan kaca rumah.

"Tadi juga masih tercium bau minuman keras. Jadi tadi malam dia pulang ke rumah, mengamuk, barang di rumah dihancurkan, memecahkan kaca juga," kata Soni.

Kemudian sekitar jam 9 pagi tadi, dia pergi dari rumah sambil membawa sepeda motor menuju ke Jembatan Cirahong. Sampai di tengah jembatan dia berhenti dan turun dari sepeda motornya, lalu berjalan ke tepian jembatan. Beruntung gelagat buruk ini, segera diketahui oleh warga, sehingga langsung dicegah.

"Mungkin setelah dari rumah itu dia pusing, langsung mengendarai motor ke jembatan. Berhenti di tengah, sempat "hulang-huleng" (bengong/termenung) diduga mau lompat," kata Soni.

Sebagai langkah antisipasi dia mengaku akan semakin intensif melakukan patroli serta menggalang dukungan masyarakat agar meningkatkan kembali pengawasan di sekitar Jembatan ikonik peninggalan Belanda ini.

"Kemudian kami minta masyarakat setempat lebih proaktif, bila terlihat ada indikasi orang yang mau lompat segera cegah dan melapor kepada kami. Kami juga selalu rutin melakukan patroli di jam rawan. Kalau penjagaan secara terus-menerus, kami tentu butuh bantuan masyarakat, melalui kegiatan Siskamling," kata Soni.

Dedi Mulyadi Tolak Buru-buru Tetapkan Status Bandung Darurat Sampah

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons usulan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terkait penetapan status darurat sampah. Dedi menegaskan pemerintah tidak boleh gegabah menetapkan status tersebut sebelum memastikan langkah penanganan konkret di lapangan.

Menurut Dedi, persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan sekadar label status darurat, melainkan bagaimana menyiapkan solusi agar tumpukan sampah tidak semakin membebani sistem pengelolaan yang ada.

Usulan darurat sampah sebelumnya diajukan Pemkot Bandung menyusul lonjakan volume sampah pasca-libur panjang. Selain itu, tingginya ketergantungan Kota Bandung terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat menjadi alasan utama usulan tersebut.

Di sisi lain, kondisi TPA Sarimukti memang kian kritis. Dedi mengungkapkan kapasitas TPA regional tersebut diprediksi akan mencapai batas maksimal dalam hitungan bulan ke depan.

"Sarimukti enam bulan ke depan sudah close ya, sudah penuh. Saya sudah menyiapkan memitigasi yaitu mendorong alat yang bisa melakukan pengelolaan tiap kelurahan dengan kapasitas 5 ton," kata Dedi saat diwawancarai di Bandung, Selasa (2/6/2026).

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jawa Barat tengah menyiapkan sistem pengolahan sampah berbasis wilayah yang nantinya ditempatkan di setiap kelurahan. Teknologi tersebut telah diuji coba dan dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap TPA secara signifikan.

Dedi menjelaskan, alat pengolahan tersebut mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan sektor industri.

"Uji cobanya sudah berhasil dilakukan di Gedung Sate, ada alat yang merubah sampah jadi bahan bakar, bahan bakarnya bisa jadi pengganti batu bara," ujarnya.

Menurutnya, hasil pengolahan sampah itu bahkan sudah mulai dilirik sejumlah industri di Jawa Barat sebagai sumber energi pengganti. "Di beberapa industri di Jawa Barat bahasa sederhananya briket dan ini berhasil diuji coba di Gedung Sate kapasitas 5 ton sehari," katanya.

Dedi mengatakan teknologi serupa nantinya akan diperluas ke berbagai daerah, termasuk Kota Bandung. Namun, pelaksanaannya membutuhkan kerja sama pembiayaan antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.

"Nanti akan diterapkan di seluruh kelurahan dan nanti saya akan ajak bicara wali kota untuk menentukan pembiayaannya karena gak mungkin ditanggung provinsi semua," ungkapnya.

Terkait usulan status darurat sampah yang diajukan Pemkot Bandung, Dedi memilih bersikap hati-hati. Ia menilai penetapan status darurat tidak boleh dilakukan hanya karena tekanan situasi sesaat.

"Status darurat sampah akan kita lihat dulu, jangan dibikin menjadi buru-buru darurat nanti orang panik," tegasnya.

Bagi Dedi, yang lebih penting saat ini adalah memastikan langkah-langkah penanganan darurat berjalan efektif terlebih dahulu sebelum pemerintah mengambil keputusan formal terkait status kedaruratan.

"Yang harus kita lakukan bukan soal daruratnya tapi langkah penanganan kedaruratan dulu, nanti darurat menjadi panik sampahnya bertumpuk," pungkasnya.

Korban Tertimpa Pohon di Jatinangor Meninggal Dunia

Satu korban tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Bandung-Cirebon, Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dinyatakan meninggal dunia. Korban sendiri sebelumnya diketahui sudah dalam keadaan kritis.

Sebagaimana diketahui, peristiwa pohon tumbang tersebut diduga terjadi karena pohon jenis Flamboyan itu sudah rapuh hingga akhirnya tumbang. Pohon yang berada di lahan Unpad itu pun menimpa lima orang pengendara motor.

Kapolsek Jatinangor Kompol Rogers Thomas mengungkapkan, satu orang korban yang dinyatakan meninggal dunia tersebut atas nama Reza Renaldi yang merupakan warga dari Dusun Bakan Bandung RT 02 RW 05, Desa Situraja Utara, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang.

"Iya benar satu korban atas nama Reza meninggal dunia di Rumah Sakit Unpad. Sebelumnya memang dalam keadaan kritis," ujar Rogers kepada detikJabar, Selasa (2/6/2026).

Menurut Rogers, korban sendiri sebelumnya sudah mendapatkan tindakan medis di Rumah Sakit Unpad. Namun, lanjut dia, nyawa korban tak dapat tertolong usai mengalami luka yang cukup serius pada bagian kepala.

"Dinyatakan meninggal dunia nya 23.30 malam tadi. Korban ini memang mengalami luka yang parah di bagian kepada sama pinggang," katanya.

Sementara, Humas Unpad, Dandi Supriadi menjelaskan berdasarkan informasi dari tim Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup (K3L) Unpad, bahwasannya untuk peta jalan di lokasi kejadian pohon tumbang tidak berada di tanah kampus.

"Iya betul (bukan lahan Unpad), pohonnya bukan di area milik Unpad. Saya sudah komunikasi dengan tim K3L Unpad, dan sudah melihat peta jalannya. Memang pohon itu terkesan masuk ke wilayah Unpad, karena berada di antara Gedung Komunitas dan SPBU yang milik Unpad. Tapi posisi pohonnya berada di tanah di luar tanah Unpad," ujar Dandi kepada detikJabar, Selasa (2/6/2026).

Menurut Dandi, pihaknya juga sudah berkoordinasi dan meminta izin dengan warga sekitar untuk menebang pohon tersebut. Pihaknya pun mengaku rencana pemotongan pohon yang tumbang itu akan dilaksanakan hari ini.

"Masalah koordinasi dengan warga memang benar sudah dilakukan, karena Unpad melihat bagian bawah sudah berlubang dan membahayakan pengguna jalan di depan kampus. Harusnya hari ini dilakukan penebangan. Tapi ternyata sudah keburu tumbang tadi malam," katanya.

"Mengapa koordinasi dengan warga? Karena pohon tersebut bukan milik Unpad makanya tidak bisa langsung kami tebang tanpa izin," pungkasnya.

Ikan Mati Massal di Tanggul Johar Karawang

Fenomena mengejutkan melanda perairan Tanggul Johar, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Pada Selasa (2/6/2026) pagi, warga disuguhi pemandangan ratusan ekor ikan yang mengambang tak bernyawa di sepanjang aliran air tersebut.

Peristiwa ini mendadak viral dan menjadi pusat perhatian warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas. Berbagai jenis ikan air tawar, mulai dari Baung hingga Tawes, tampak memenuhi permukaan air dalam kondisi mati massal.

Kondisi ini memicu dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa aliran sungai telah tercemar limbah, baik dari aktivitas industri maupun domestik.

Berdasarkan kesaksian warga Johar, Kelurahan Karawang Wetan Kabupaten Karawang, Rohendi (35) menuturkan, tanda-tanda air mulai berubah dan ikan mulai mati sebenarnya sudah terdeteksi sejak Senin (1/6/2026) malam.

"Kejadian ini dari tadi malam kita melihat ikan mulai mati dan sampai sekarang ini kita juga mengambil ikan yang mengapung. Tapi di sisi lain, kami bertanya-tanya kenapa ikan ini bisa mati? Apakah ada yang mencemari dari limbah ataupun apa, kita kan tidak tahu," ujar Rohendi, di lokasi kejadian, Selasa (2/6/2026).

Atas kejadian ini, ia berharap pemerintah segera turun tangan. "Mungkin yang lebih tahu adalah, pemerintah, saya harap segera ambil tindakan," tuturnya sembari mengumpulkan ikan-ikan yang masih mengambang di sekitar pintu air irigasi KW 5.

Merespons kegaduhan ini, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dan Perum Jasa Tirta (PJT) untuk segera melakukan uji sampel air di laboratorium.

Langkah cepat ini krusial untuk memastikan apakah kematian massal ini murni faktor alam atau akibat kontaminasi zat kimia berbahaya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang, Luky Matenra Dwiputra Romly, memastikan pihaknya sudah bergerak ke lapangan untuk melakukan investigasi awal.

"Kejadian (kematian ribuan ikan) ini kita sudah terjun ke lokasi, sementara kita cek dengan parameter pH air tadi pagi itu normal di angka 6,0 tapi kita juga sudah amankan sampel air, dan ikan untuk uji lab lebih terperinci," kata Lucky saat dihubungi detikJabar.

Luky menjelaskan, titik awal kematian ikan di irigasi Tarum Utara Barat ini diduga bermuara dari wilayah Leuweung Seureuh, Kecamatan Klari. Ada indikasi kuat bahwa pencemaran ini bukan berasal dari pipa pabrik langsung, melainkan praktik ilegal pembuangan limbah cair.

"Ini diduga cemaran limbah industri, yang awalnya dari pintu air Leuweung Seureuh, tapi kemungkinan dibawa mobil sistemnya kencing (dibuang dari tangki mobil) tidak langsung dari pabrik," ungkapnya.

Saat ini, DLH Karawang bersama Satgas Citarum Harum Sektor 10 tengah memburu pelaku yang nekat membuang limbah tersebut. "Kami bersama dengan Satgas Citarum Harum juga sedang berupaya mencari pelaku pembuang limbah tersebut, karena kemungkinan ini dibuang Senin (1/6) malam, atau Selasa dini hari, jika melihat dari sampel pH air yang sudah normal," tambah Luky.

Di akhir keterangannya, Luky memberikan peringatan keras kepada warga agar tidak tergiur mengonsumsi ikan-ikan hasil "panen dadakan" tersebut demi keselamatan kesehatan.

"Kami juga mengimbau, kami sudah turun ke lapangan mengamankan ikan-ikan itu, kami minta masyarakat agar tidak mengkonsumsinya, sebab kemungkinan ikan itu tercemar zat berbahaya," pungkasnya.

Farhan Emosi gegara Pengusaha Tak Patuh soal Kabel Udara

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meluapkan emosinya saat proses pemotongan kabel udara di Jalan Merdeka. Farhan mengaku kesal lantaran pengusaha telekomunikasi tak bisa mematuhi aturan soal proyek ducting atau penurunan kabel ke bawah tanah.

"Secara teknis mereka belum siap gitu. Makanya saya bilang, kalau teknisnya belum siap, maka harus segera dikasih tahu dong," kata Farhan saat meninjau proses pemotongan kabel udara, Selasa (2/6/2026).

"Saya tuh tadi sebetulnya marah sekali, karena saya ini sebagai Wali Kota terpilih sudah mendapat tanggung jawab sejak tanggal 6 Desember 2024. Tanggal 8 Desember 2025 kita sudah bikin pengumuman di sini. Kemudian pada bulan Januari kita sudah potong di Buahbatu, sudah jalan. Jadi ini nunggu apa lagi sih," ucapnya menambahkan.

Sebagaimana diketahui, Pemkot Bandung menggagendakan pemotongan kabel udara untuk proyek ducting atau penurunan kabel bawah tanah. Titik pertama yang ditargetkan yaitu di kawasan Jalan Asia Afrika hingga Jalan Sunda.

Namun, target yang direncakan ternyata menemui kegagalan. Pemkot Bandung kemudian mengubah rute pemotongan kabel udara itu ke Jalan Merdeka di dekat Balai Kota Bandung.

Ternyata, ada sejumlah alasan yang membuat target pemotongan kabel udara di Jalan Asia Afrika gagal. Faktor terbesarnya masalah blackout internet yang berpotensi mengganggu layanan perbankan hingga proses SPMB 2026.

"Dari 39 (perusahaan telekomunikasi), yang sudah siap itu 18. Jadi ada 21 yang belum siap. Makanya tadi Ketua Umum Apjatel nasional langsung datang. Kalau saya sih tadinya mau main potong aja, tapi pertimbangan saya bukan masalahnya apakah operator siap apa enggak. Tapi masalahnya backup-nya ternyata belum siap untuk layanan publik. Kita tidak mau kita main potong aja tapi ternyata layanan publik terganggu," ungkap Farhan.

Farhan menyatakan, Pemkot Bandung memberi tenggat waktu hingga sore ini untuk proses pemotongan kabel udara. Ia pun memastikan, syarat pemotongan tersebut harus menyediakan back up internet terlebih dahulu sebelum proses ducting dilakukan.

"Udah SP3 juga ke mereka. Sekarang sih pokoknya itu kalau tadi subuh aja saya confidence bahwa backup-nya itu bagus seperti di jalur ini, saya potong, peduli amat. Tapi ternyata sampai tadi subuh itu belum 100 persen," katanya.

"Sekarang saya lagi nunggu laporan dulu. Yang paling penting ini, potong itu mesti ada backup-nya dulu. Kalau masalah penegakan peraturan mah pasti kita akan sangat diprioritaskan. Tapi yg paling penting dampak dari penegakan peraturan, jangan sampai ada blackout," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Dijanjikan Kompensasi oleh KDM, Puluhan Kios Liar Jalur Puncak Dirobohkan"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads