Ketua DPRD Kota Bogor Ungkap Makna Penting Iduladha

Ketua DPRD Kota Bogor Ungkap Makna Penting Iduladha

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 01 Jun 2026 22:51 WIB
Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil.
Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil. (Foto: Istimewa)
Bogor -

Ketua DPRD Kota Bogor, Dr. Adityawarman Adil, bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah di Taman Cimanggu Boulevard, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, pada Rabu (27/5/2026).

Dalam Salat Id tersebut, Maman Abdurohman bertugas sebagai imam, sementara khotbah Iduladha disampaikan langsung Ketua DPRD Kota Bogor.

Melalui khotbahnya, Adityawarman mengajak ratusan jemaah yang hadir untuk merefleksikan kembali makna berkurban serta meneladani integritas keluarga Nabi Ibrahim AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adityawarman mengingatkan jemaah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT, mulai dari nikmat iman, Islam, kesehatan, hingga eratnya ukhuwah Islamiyah.

Menurutnya, manifestasi utama dari rasa syukur tersebut adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan pengabdian melalui ibadah kurban.

ADVERTISEMENT

"Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai hamba Allah yang bertakwa untuk memperbanyak pengabdian sebagai wujud manifestasi dari rasa syukur tersebut. Salah satunya adalah dengan menunaikan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha," ujar Adityawarman dalam keterangan yang diterima detikJabar, Senin (1/6/2026).

Adityawarman menjelaskan esensi dari seluruh rangkaian ibadah di bulan Zulhijah, baik ibadah haji di Tanah Suci maupun puasa Arafah dan penyembelihan hewan kurban di Tanah Air, memiliki satu tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Ia menekankan momentum Iduladha merupakan saat yang tepat untuk mengambil pelajaran dari figur-figur teladan dalam sejarah Islam, khususnya keteguhan hati Siti Hajar serta pola komunikasi yang dibangun Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS.

Ia mengisahkan bagaimana Siti Hajar memberikan teladan nyata mengenai pentingnya ikhtiar yang suci melalui peristiwa sa'i, yakni prosesi berjalan dan berlari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.

Selain itu, Adityawarman menyoroti aspek menarik dalam pola asuh Nabi Ibrahim saat menerima perintah berat untuk menyembelih Nabi Ismail. "Nabi Ibrahim AS adalah sosok ayah yang membangun komunikasi yang baik dengan putranya. Beliau mendahulukan diskusi ketimbang eksekusi," tuturnya.

Kutipan dialog penuh kasih sayang antara sapaan "Ya bunayya" (wahai anakku) yang diucapkan Nabi Ibrahim dan jawaban takzim "Ya abati" (wahai ayahku) dari Nabi Ismail, menurut Adityawarman, harus menjadi cerminan bagi para orang tua masa kini dalam membangun hubungan keluarga yang harmonis dan penuh kesantunan.

Berkat kepatuhan total dan keikhlasan tersebut, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar.

Adityawarman secara tidak langsung mengajak seluruh masyarakat Kota Bogor untuk mengikis sikap acuh tak acuh dan berani mengambil peran dalam berkorban demi kebaikan bersama.

Ia menekankan bahwa kemajuan sebuah daerah dan bangsa sangat bergantung pada kerelaan warganya dalam menekan ego kepentingan pribadi demi kemaslahatan keluarga, lingkungan, serta negara.

Sebagai penutup, Adityawarman memimpin doa bersama agar seluruh ibadah kurban masyarakat diterima oleh Allah SWT, dosa-dosa diampuni, serta Kota Bogor senantiasa dilimpahi perlindungan dan keberkahan.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads