Ironi Batik Fins Cimaja, Mendunia tapi Belum Tersentuh Modernisasi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Minggu, 31 Mei 2026 10:03 WIB
Ade Rabig (gondrong beruban) bersama sejumlah pelanggannya yang mayoritas berasal dari luar negeri (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Di dunia selancar internasional, nama Batik Fins Cimaja adalah jaminan mutu. Komponen sirip papan selancar (fins) berbahan resin transparan dengan balutan kain batik buatan R. Ilham Santosa (53) atau Ade Rabig, telah membelah ombak di berbagai belahan bumi, mulai dari Australia hingga Prancis.

Namun, di balik gemerlap reputasi global tersebut, tersimpan sebuah ironi yang kontras di sudut Kampung Marinjung Tengah, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Industri rumahan yang mampu menembus pasar dunia ini dijalankan dengan peralatan yang luar biasa bersahaja, nyaris tanpa sentuhan tangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi.

Jika ditarik garis sejarahnya, fondasi awal usaha Ade Rabig justru berdiri berkat apresiasi dari figur nasional, bukan birokrasi lokal. Pada tahun 1998, aktor sekaligus peselancar nasional, Fathir Muchtar, adik kandung dari pelakon Bucek Deep yang kerap menjajal ombak Cimaja, kepincut dengan potensi sirip buatan Ade.

Melihat keterbatasan bahan baku kala itu, Fathir memutuskan untuk menyuntikkan modal awal dengan sistem patungan demi membesarkan kapasitas produksi awal. "Tahun 1998 itu, modal awalnya setengah-setengah, dibantu sama Patir (Fathir Muchtar). Waktu itu harga resin masih sekitar Rp20 ribuan per 10 kilo. Kami beli langsung banyak untuk uji coba formula. Dari sanalah bengkel ini bisa bertahan dan berjalan terus sampai sekarang," kenang Ade Rabig, mengenang masa-masa awal bengkelnya disokong oleh komunitas selancar nasional.

Menjadi 'Produsen Hantu' untuk Merek-Merek Raksasa Dunia

Sokongan modal dari Fathir Muchtar di akhir dekade 90-an itu kini telah berbuah manis secara kualitas. Estetika eksotis batik yang dibungkus kekuatan fiberglass presisi membuat perajin dunia kepincut.

Namun, karena keterbatasan kapasitas produksi yang masih murni mengandalkan tangan (handmade), Ade Rabig kerap berada di posisi yang kurang diuntungkan secara bisnis.

Merek-merek besar dunia memanfaatkan keterbatasan teknologi Ade dengan menerapkan sistem white label atau maklon. Mereka membeli sirip handmade murni karya Ade, lalu membundelnya dan menempelkan merek dagang mereka sendiri di luar negeri.

Sederet perusahaan internasional tercatat rutin menggunakan pasokan produk dari Ade Rabig, di antaranya adalah Crown and Anchor (Australia), WJ Wares (Jepang), Island Lines (Slovenia), hingga Surf Era (Prancis).

Bahkan, raksasa alat selancar asal Amerika Serikat, FCS, sempat mengawasi ketat agar lekukan produk Ade tidak meniru persis paten pola mereka. "Pabrik-pabrik besar di luar negeri itu sebetulnya mengejar nilai handmade-nya karena punya nilai seni tinggi. Mereka beli dari saya, tapi nanti di sana di-bundling atau dikasih merek dagang mereka sendiri," ungkap suami dari Rinda Ayu ini.

'Jauh Keneh', Menanti Sentuhan Nyata Pemerintah Daerah

Sebagai satu-satunya perajin komponen selancar di Sukabumi-bahkan mungkin di Jawa Barat-Ade Rabig mengaku perhatian dari pemerintah daerah setempat masih berjalan di tempat. Dukungan yang datang selama bertahun-tahun ini diakuinya baru sebatas seremonial foto bersama.

Apresiasi dari pejabat daerah yang sempat menumbuhkan secercah harapan terjadi pada tahun 2017 silam, saat Wakil Bupati Sukabumi kala itu, Adjo Sardjono, menyempatkan diri mampir ke workshop-nya.

Namun, setelah momentum jepretan kamera itu berlalu, perhatian dari dinas terkait perlahan surut tak berbekas. "Kalau ditanya soal dukungan pemerintah daerah mah, ya masih jauh keneh (masih jauh). Sejauh ini baru sebatas kunjungan-kunjungan saja. Datang, lihat-lihat, difoto, ya setelah itu tidak tahu bagaimana kelanjutannya," tutur Ade sambil menggelengkan kepala.

Ade Rabig memiliki visi besar. Ia ingin melepaskan diri dari bayang-bayang sistem maklon merek asing. Ia ingin produknya berdiri tegak di pasar global membawa namanya sendiri, bukan sekadar menjadi 'produsen hantu' bagi merek Australia atau Jepang. Langkah besar itu hanya terganjal oleh satu hal, yakni modernisasi teknologi.

"Harapan saya sih besar sekali, karena terus terang produk saya ini sebenarnya sudah dikenal, disukai, dan diminati di luar negeri. Hanya saja, saya pengen produk ini bisa benar-benar bersaing dengan dunia atas nama kita sendiri. Kebutuhan saya sekarang ya modernisasi alat, harapannya pengen punya mesin CNC router wood, CNC laser, sama 3D scanner buat memotong dan ngebentuk lekukan (foil) siripnya secara presisi," cetus Ade Rabig penuh harap.

Untuk mewujudkan digitalisasi workshop-nya tersebut, Ade merinci kebutuhan investasi teknologi yang mendesak, antara lain mesin CNC Router Wood dengan kisaran harga Rp135 juta (untuk memotong lekukan presisi), 3D Scanner kisaran harga Rp17 juta (untuk memetakan akurasi foil), dan CNC Laser dengan kisaran harga Rp7,5 juta.

Dengan total kebutuhan investasi teknologi sekitar Rp159,5 juta (atau digenapkan berkisar Rp160 juta), Ade Rabig optimistis mahakarya pesisir Sukabumi ini bisa diproduksi dengan skala lebih besar, lebih cepat, tanpa kehilangan jiwa seni batiknya.




(iqk/iqk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork