Tiga bocah itu berjalan beriringan menyusuri setiap sudut Grey Art Gallery di Jalan Braga, Kota Bandung. Mata mereka sesekali terpaku pada jersey lawas yang terpajang rapi, lalu beralih ke deretan trofi yang berkilau di balik etalase kaca. Tak jauh dari mereka, sang ayah sesekali berhenti, menunjuk sebuah foto lama, lalu mulai bercerita.
"Itu pemain Persib zaman dulu," ucap Nopi Maulana (42) saat mengajak ketiga buah hatinya berkunjung ke Grey Art Gallery, Sabtu (18/7/2026).
Bagi anak-anak, mungkin benda-benda itu hanya koleksi yang menarik untuk dilihat. Namun bagi Nopi, setiap jersey, foto, dan trofi memiliki cerita yang ingin ia wariskan kepada ketiga buah hatinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Infografis: Mereka yang Minggat dari Persib |
Menjelang Hari Anak Nasional pada 23 Juli, pameran perjalanan sejarah Persib Bandung di Grey Art Gallery menghadirkan pemandangan yang berbeda. Bukan hanya dipenuhi Bobotoh yang ingin bernostalgia, tetapi juga keluarga-keluarga yang sengaja datang untuk memperkenalkan sejarah panjang Maung Bandung kepada anak-anak mereka.
Nopi menjadi salah satunya. Pria asal Cicalengka, Kabupaten Bandung, itu datang bersama istri dan ketiga anaknya. Meski seluruh keluarga ikut datang, justru anak-anaknya yang paling bersemangat masuk ke ruang pameran.
"Ke sini sama keluarga, sama istri, sama anak-anak. Cuma yang masuk ke dalam mah anak-anak aja pengen tahu," kata Nopi.
Rasa penasaran itulah yang mendorongnya datang ke pameran. Ia ingin anak-anaknya mengenal Persib lebih jauh, bukan hanya sebagai tim yang kini sedang berjaya, tetapi juga klub yang dibangun oleh perjalanan panjang selama puluhan tahun.
"Pertama ya mungkin karena penasaran melihat pameran Persib kayak apa gitu. Terus sama selain itu memperkenalkan tentang Persib juga, tentang sejarah-sejarah Persib, oh ini Persib tuh seperti ini gitu," ujarnya.
Di setiap sudut ruangan, cerita demi cerita mengalir. Tentang para legenda yang pernah mengharumkan nama Persib. Tentang trofi-trofi yang diraih lewat perjuangan panjang. Hingga kisah bagaimana klub kebanggaan Jawa Barat itu tumbuh menjadi bagian dari identitas masyarakat Bandung dan sekitarnya.
Bagi Nopi, kecintaan kepada Persib memang bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ia mengaku mewarisinya dari orang tuanya, kemudian diperkuat oleh lingkungan tempat ia tumbuh. Kini giliran dirinya meneruskan kecintaan itu kepada anak-anak.
"Ya sama dari orang tua juga, dari orang tua terus dari lingkungan, faktor lingkungan juga sama," katanya.
Tradisi itu bahkan tidak berhenti di ruang pameran. Hampir setiap kali Persib bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), ketiga anaknya selalu diajak menyaksikan langsung pertandingan.
"Alhamdulillah kalau selama ini mah selalu ikut kalau saya ke stadion pasti mereka ikut. Di GBLA hampir musim sekarang hampir full satu ini (nonton)," ujarnya.
Namun yang diwariskan bukan hanya kebiasaan mengenakan jersey biru atau datang ke stadion. Lebih dari itu, ia ingin anak-anak memahami bahwa sepak bola adalah ruang untuk bermimpi.
Di sela melihat foto-foto pemain Persib yang memenuhi dinding galeri, Nopi mengaku selalu menyampaikan satu pesan sederhana kepada anak-anaknya untuk tak ragu bermimpi menjadi pemain Persib Bandung.
"Kalau saya sih lebih ke pengenalan gitu, ini tuh tim sepak bola dari Jawa Barat. Terus bagaimana suatu saat kalian harus bisa bermimpi jadi pemain Persib gitu," tuturnya.
Baginya, bermain sepak bola bukan sekadar olahraga. Ada kegembiraan, kebanggaan, sekaligus harapan yang ingin ia tanamkan sejak dini.
"Jadi main bola tuh sebenarnya menyenangkan gitu, menyenangkan. Apalagi kalau sampai bisa ditonton sampai banyak orang itu suatu kebanggaan," ucap Nopi.
Harapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di mata seorang ayah seperti Nopi, setiap mimpi layak diperjuangkan, termasuk harapan agar buah hatinya kelak bisa menjadi seperti Beckham Putra, putra daerah yang kini besar bersama Persib Bandung.
"Selalu mengajarkannya seperti itu. Harus main bola, ya main bola, ya mudah-mudahan suatu saat ya anak saya yang ada di sana gitu," ujarnya tersenyum.
(iqk/iqk)
