Kesadaran akan nasionalisme merupakan keharusan bagi seluruh anak bangsa. Dengan itu, kepedulian terhadap aspek-aspek penting yang berpengaruh pada negara pun ikut meningkat. Mengingat dan sadar kembali akan pentingnya kesadaran kolektif bangsa biasanya tertuang dalam momen-momen tertentu, salah satunya Hari Kebangkitan Nasional.
Hari Kebangkitan Nasional hadir untuk mengingat sejarah awal kesadaran bangsa untuk melawan ketidakadilan. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ternyata memiliki asal usul yang penting dalam terciptanya kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak pihak yang terlibat, tetapi lahirnya Hari Kebangkitan Nasional dimulai dari organisasi bernama Budi Utomo.
Peran Organisasi Budi Utomo
Pada permulaan abad ke-20, masyarakat Hindia Belanda mengalami perubahan signifikan karena munculnya politik etis atau Politik Balas Budi dari pemerintah kolonial Belanda. Kebijakan ini memberikan kesempatan pendidikan bagi sebagian kecil penduduk asli. Dari kelompok terdidik inilah muncul kesadaran baru bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak hanya bisa dilakukan secara lokal, tetapi juga harus melalui organisasi yang modern dan persatuan nasional.
Dalam kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa dari sekolah kedokteran pribumi STOVIA yang berada di Batavia mendirikan organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi ini dipelopori oleh tokoh seperti Dr. Soetomo dan terinspirasi gagasan Wahidin Soedirohoesodo.
Sumpah Pemuda
Hubungan antara Hari Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda sangat dekat karena keduanya merupakan bagian dari perkembangan nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20. Jika Hari Kebangkitan Nasional menandai awal dari kesadaran kebangsaan yang muncul melalui organisasi modern, maka Sumpah Pemuda menjadi puncak dalam memperkuat identitas nasional Indonesia yang melampaui batas suku, daerah, dan organisasi.
Kehadiran Budi Utomo menunjukkan adanya perubahan dalam pola pikir kalangan terpelajar pribumi. Mereka mulai menggunakan organisasi modern, pendidikan, pers dan gagasan persatuan sosial sebagai alat perjuangan melawan ketertinggalan dan penjajahan.
Walaupun demikian, pada tahap ini, kesadaran nasional masih terbatas pada kelompok elit yang terdidik dan belum sepenuhnya menjangkau seluruh daerah di Nusantara.
Penetapan Hari Peringatan oleh Pemerintah Indonesia Tahun 1948
Peringatan hari Kebangkitan Nasional ditetapkan pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno pada tahun 1948. Pada saat itu negara belum sepenuhnya kondusif walaupun telah mengikrarkan kemerdekaan. Pada saat itu, Indonesia sedang mengalami periode Revolusi Fisik (1945-1949), terutama setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I dan menjelang Agresi Militer Belanda II.
Penetapan Hari Kebangkitan Nasional juga bertujuan untuk kepentingan politik dan psikologis. Pada tahun 1948 Indonesia belum sepenuhnya diakui kedaulatannya oleh Belanda. Kondisi ekonomi dan militer sangat sulit. Banyak wilayah mengalami konflik dan ketidakstabilan politik.
Melalui peringatan nasional, pemerintah berupaya untuk memperkuat identitas kebangsaan sehingga masyarakat tetap bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan.
Makna Hari Kebangkitan Nasional
Hari kebangkitan nasional ini memiliki beberapa makna penting untuk kembali meningkatkan kepedulian terhadap negeri. Menumbuhkan semangat persatuan dan nasionalisme. Selain itu, makna peringatan ini mengingatkan lagi kita fakta bahwa Indonesia memiliki sejarah perjuangan yang dilakukan oleh kaum terpelajar dalam membangun kesadaran bangsa.
Hari peringatan kebangkitan nasional ini menjadi dorongan bagi seluruh anak bangsa. Menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui proses panjang organisasi dan perjuangan intelektual.
(yum/yum)