Deretan Tokoh Penting di Balik Hari Kebangkitan Nasional

Deretan Tokoh Penting di Balik Hari Kebangkitan Nasional

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Selasa, 19 Mei 2026 18:00 WIB
Hari Kebangkitan Nasional 2026
Ilustrasi Peringatan ke-118 Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2026
Bandung -

Setiap tanggal 20 Mei, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sebagai momentum lahirnya kesadaran bangsa Indonesia. Hari peringatan ini berkaitan erat dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada masa sebelum Indonesia merdeka.

Peringatan Harkitnas pertama kali diresmikan oleh Presiden Soekarno untuk mengenang lahirnya organisasi pergerakan pemuda. Hari Kebangkitan Nasional sebagai hari peringatan nasional ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959.

Di balik peristiwa besar tersebut, terdapat deretan tokoh dari golongan pemuda yang berperan aktif bagi kemajuan bangsa. Mereka berjuang lewat jalur pendidikan, diplomasi, kesehatan, hingga jurnalisme untuk menentang sistem kolonialisme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut adalah enam tokoh penggerak yang menjadi bagian dari kebangkitan nasional Indonesia.

Tokoh Kebangkitan Nasional

1. Wahidin Soedirohoesodo

Lahir pada 7 Januari 1852, Wahidin Soedirohoesodo dikenal luas sebagai salah satu tokoh utama pendiri organisasi Budi Utomo. Sebelum organisasi tersebut resmi berdiri, ia telah aktif menyuarakan pentingnya pendidikan bagi kaum pribumi melalui surat kabar Retno Dhoemilah. Melalui media tersebut, ia gencar menanamkan kesadaran nasional, martabat bangsa, serta peningkatan budi pekerti.

ADVERTISEMENT

Sebagai seorang dokter, Wahidin tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik rakyat, tetapi juga memberikan layanan kesehatan gratis sebagai wujud nyata pengabdian sosialnya. Ia memiliki visi besar bahwa kemerdekaan hanya bisa dicapai jika bangsa Indonesia cerdas. Oleh karena itu, ia rela berkeliling Pulau Jawa untuk mengajak kaum bangsawan dan masyarakat menyumbang demi mendirikan dana beasiswa bagi pelajar Indonesia yang kurang mampu. Atas jasa besarnya menumbuhkan benih nasionalisme, ia dijuluki sebagai Bapak Kebangkitan Nasional.

2. Dr. Soetomo

Bersama dengan Wahidin Soedirohoesodo, Soetomo menjadi sosok pencetus sekaligus ketua pertama organisasi Budi Utomo. Pria yang lahir di Ngepeh pada 30 Juli 1888 ini juga kerap disebut sebagai Bapak Kebangkitan Nasional karena berhasil mendirikan organisasi yang dianggap sebagai pelopor pergerakan modern di Indonesia.

Serupa dengan Wahidin, Soetomo mendedikasikan hidupnya sebagai dokter dan pendidik untuk memajukan taraf hidup serta kesehatan masyarakat pribumi. Di bidang informasi, ia aktif memimpin beberapa surat kabar untuk menyebarkan gagasan kemerdekaan. Guna mewadahi para kaum terpelajar, Soetomo mendirikan Indonesische Studie Club (ISC). Melalui lembaga studi ini, aksi nyata diwujudkan dengan mendirikan bank kredit, koperasi, hingga sekolah tenun demi kemandirian ekonomi rakyat.

3. Ki Hajar Dewantara

Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, mengawali perjuangannya dari dunia jurnalistik. Keteguhannya dalam membela hak-hak rakyat mempertemukannya dengan Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Perkumpulan tiga tokoh yang dikenal sebagai Tiga Serangkai ini kemudian melahirkan partai politik pertama di Indonesia, yaitu Indische Partij.

Akibat kritikan mereka yang secara konsisten mengkritik pemerintah kolonial Belanda, Ki Hajar Dewantara sempat diasingkan ke Belanda. Namun, pengasingan tidak memadamkan semangatnya. Setelah kembali, ia memilih fokus membangun bangsa lewat jalur edukasi. Semboyan legendarisnya, "Tut Wuri Handayani", hingga kini terus menginspirasi generasi muda dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif di Indonesia. Pada usia 40 tahun, ia sengaja menanggalkan gelar kebangsawanannya dan mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara agar bisa lebih dekat dan menyatu dengan rakyat.

4. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo

Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan sosok dokter yang terkenal dengan keberaniannya dalam mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda secara radikal. Tulisan-tulisannya yang tajam sering kali menghiasi halaman harian De Locomotief dan Bataviaasch Nieuwsblad. Akibat kritik kerasnya yang dianggap mengganggu stabilitas kolonial, Belanda memecatnya dari tugas sebagai dokter pemerintah.

Kehilangan jabatan tidak membuatnya mundur. Bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat, ia memperkuat barisan pendiri Indische Partij. Gerakan politiknya yang dinilai membahayakan kekuasaan asing membuat pemerintah Belanda geram, hingga akhirnya menjatuhkan hukuman pengasingan ke luar negeri bersama kedua rekannya dalam Tiga Serangkai.

5. Douwes Dekker

Dilahirkan pada 8 Oktober 1879 dengan nama lengkap Ernest Douwes Dekker, tokoh yang juga dikenal sebagai Danudirja Setiabudi ini memiliki latar belakang yang unik. Meski merupakan keturunan Eropa-Indo dan cucu dari penulis buku terkenal Max Havelaar, ia justru memilih berdiri di pihak kaum pribumi yang tertindas.

Douwes Dekker merancang Indische Partij sebagai organisasi politik pertama yang secara terang-terangan menyuarakan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Melalui tulisan-tulisannya di berbagai media massa, ia aktif memaparkan fakta ketidakadilan kolonial dan menanamkan jiwa nasionalisme kepada rakyat guna membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Komitmennya bersama Tjipto dan Soewardi dalam Tiga Serangkai menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan bersifat melampaui batas suku dan ras.

6. HOS Tjokroaminoto

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto merupakan pemimpin organisasi Sarekat Islam. Lahir di Ponorogo pada 16 Agustus 1882, Tjokroaminoto memegang peran kunci dalam mengorganisir massa dalam skala besar untuk mendukung gerakan anti-kolonialisme dan menuntut hak-hak kaum pribumi. Perjuangannya mencakup jangkauan yang luas, mulai dari bidang perdagangan, keagamaan, hingga jalur politik.

Lebih dari sekadar penggerak massa, rumah Tjokroaminoto menjadi tempat bagi para pemuda terpelajar. Ia merupakan guru langsung bagi banyak tokoh besar yang di kemudian hari mewarnai sejarah Indonesia, seperti Soekarno, Musso, hingga Kartosuwiryo. Kegigihannya menyuarakan kesetaraan menjadikannya salah satu tokoh penting di era kebangkitan nasional.

Selain keenam tokoh di atas, sejarah juga mencatat peran tokoh lainnya seperti Muhammad Yamin, Mr. Sartono, Kiai Haji Samanhudi, dan Mohammad Hatta yang bersama-sama mematangkan konsep kedaulatan Indonesia.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads