Bukan Bakteri! Ini Penyebab 63 Balita Keracunan MBG Cianjur

Bukan Bakteri! Ini Penyebab 63 Balita Keracunan MBG Cianjur

Devandra Abi Prasetyo - detikJabar
Selasa, 12 Mei 2026 13:28 WIB
Ilustrasi anak dirawat di rumah sakit
Ilustrasi anak mendapat penanganan medis. (Foto: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff)
Cianjur -

Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi merilis hasil investigasi terkait insiden dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Investigasi ini berhasil mengidentifikasi zat kimia tertentu sebagai penyebab utama puluhan balita dan ibu menyusui mengalami gejala gangguan kesehatan usai menyantap menu yang dibagikan.

Hasil laporan akhir menunjukkan pemicu keracunan bukanlah berasal dari cemaran bakteri, melainkan kandungan zat kimia nitrit yang ditemukan pada salah satu menu sayuran dalam jumlah yang sangat signifikan. Berikut ringkasannya yang dirangkum detikJabar dari pemberitaan detikHealth (baca selengkapnya di sini), Selasa (12/5/2026).

Kronologi Kejadian

Insiden ini bermula dari distribusi makanan bergizi yang ditujukan untuk kelompok rentan di wilayah perdesaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Waktu Kejadian: Gejala keracunan mulai dilaporkan sejak Rabu 15 April hingga Jumat 17 April 2026.
  • Jumlah Korban: Setidaknya sebanyak 63 balita dan ibu menyusui terdampak oleh insiden ini.
  • Lokasi Distribusi: Makanan dibagikan melalui posyandu di dua desa di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
  • Sumber Makanan: Menu disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna.

Temuan Laboratorium: Nitrit 169 Kali Lipat di Atas Batas

Berdasarkan pengujian mendalam oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, ditemukan fakta mengenai kandungan zat kimia pada menu makanan tersebut.

  • Bukan Cemaran Bakteri: Menu pada tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 dinyatakan negatif dari bakteri Salmonella sp, S. aureus, E.Coli, dan B.cereus.
  • Kandungan Nitrit Tinggi: Investigasi menemukan cemaran zat kimia nitrit pada menu tumis pakcoy yang melampaui standar internasional.
  • Perbandingan Standar: Temuan nitrit pada tumis pakcoy mencapai 11,85 mg/kg, sementara batas maksimum JECFA adalah 0,07 mg/kg berat badan per hari. "Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman," kata Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, dalam instagram resmi Sidak BGN.

ADVERTISEMENT

Dugaan Sumber Cemaran dan Dampak Kesehatan

BGN menjelaskan keberadaan nitrit pada sayuran dapat dipicu oleh faktor alamiah maupun faktor eksternal dari lingkungan sekitar lahan pertanian.

  • Aktivitas Bakteri: Nitrit dapat meningkat secara alami akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit pada buah dan sayuran.
  • Penyebab Eksternal: Dugaan sumber cemaran lain meliputi penggunaan pupuk nitrogen berlebihan, air resapan yang tercemar kotoran manusia atau hewan, hingga limbah pabrik kimia di sekitar lahan. "Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian," ujar Arie.
  • Kondisi Methaemoglobinemia: Nitrit memicu kondisi methaemoglobinemia yang menurunkan kemampuan hemoglobin darah dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh.
  • Gejala yang Muncul: Akibat kekurangan oksigen tersebut, tubuh korban akan terasa lemas dan mengalami sesak napas.



(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads