Permintaan sapi kurban di Ciamis tahun ini disebut meningkat cukup tajam. Kenaikannya diperkirakan mencapai 30 persen dibanding tahun sebelumnya.
Hal ini dirasakan oleh peternak Sriwijaya Farm di Desa Cisadap, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. Namun di tengah tingginya minat masyarakat, peternak justru menghadapi tantangan baru, yakni cukup sulit mendapatkan sapi yang terjamin sehat dan berkualitas.
Pegawai Sriwijaya Farm Tahyan mengatakan, saat ini banyak masyarakat mencari sapi di kisaran harga Rp20 juta. Namun harga tersebut sudah sulit ditemukan karena harga pasar ikut berubah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang bukan naik harga, tapi memang ganti harga. Dulu Rp20 juta masih dapat, sekarang paling murah sekitar Rp22 juta sampai Rp23 juta," ujarnya, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, sebagian besar sapi yang tersedia di kandang berada di atas harga Rp23 juta. Sementara stok sapi berkualitas juga mulai terbatas karena peternak lebih selektif dalam mencari hewan kurban.
"Barang sekarang agak susah. Banyak peternak khawatir soal penyakit, jadi kami juga tidak asal beli sapi," katanya.
Tahyan menjelaskan, Sriwijaya Farm lebih memilih membeli sapi langsung dari petani atau peternak dibanding dari pasar hewan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan hewan tetap terjaga.
"Kami belanja langsung ke peternak, bukan ke pasar. Jadi memang lebih susah cari barang, tapi kesehatan sapi lebih terjamin. Di sini juga rutin diperiksa," ucapnya.
Ia menyebutkan, hingga pertengahan Mei ini puluhan ekor sapi sudah terjual. Meski demikian, pembeli masih terus berdatangan sehingga pihak kandang berencana kembali mencari stok tambahan langsung ke peternak.
"Kami tidak mau asal beli karena ini untuk ibadah kurban. Jangan sampai mengecewakan pembeli," tambah Tahyan.
Di kandang tersebut tersedia berbagai jenis sapi kurban, mulai dari Simental, Limosin hingga Peranakan Ongole (PO).
Sementara itu, Pengurus Sriwijaya Farm Yasmin Sambas mengakui permintaan hewan kurban tahun ini meningkat cukup signifikan. Bahkan pasar mereka kini tidak hanya berasal dari Ciamis dan sekitarnya, tetapi juga merambah hingga Jakarta dan Bekasi.
"Alhamdulillah permintaan tahun ini naik dibanding tahun lalu. Pembeli dari luar kota juga mulai banyak," kata Yasmin.
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, pihaknya menerapkan sistem penjualan yang terbuka. Pembeli diperbolehkan memeriksa langsung kondisi fisik, kesehatan, hingga umur sapi sebelum membeli.
"Kami tidak mau jual beli yang membuat pembeli ragu. Di sini ada timbangan elektrik, jadi bobot sapi jelas dan akurat," ujarnya.
Harga sapi di Sriwijaya Farm saat ini berkisar antara Rp23 juta hingga Rp35 juta per ekor, tergantung jenis dan ukuran sapi.
Selain itu, Sriwijaya Farm juga menyediakan layanan penitipan sapi bagi konsumen yang sudah membeli lebih awal. Hewan kurban tetap dirawat dan dipantau kesehatannya hingga waktu pengiriman.
"Setelah dibeli, sapi tetap kami rawat dengan maksimal sampai dikirim. Pengawasan kesehatan juga rutin dibantu Dinas Peternakan," pungkas Yasmin.
Pastikan Sapi Sehat dan Layak
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis mulai melakukan pemeriksaan hewan kurban menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Salah satu pemeriksaan dilakukan di kandang Sriwijaya Farm, Desa Cisadap, Kecamatan Ciamis, Senin (11/5/2026).
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang dijual dalam kondisi sehat, cukup umur, dan memenuhi syarat layak kurban sesuai ketentuan pemerintah serta fatwa keagamaan.
Kabid Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkan Ciamis Asri Kurnia mengatakan, pihaknya kali ini memeriksa 40 sapi.
"Di kandang Sriwijaya Farm total ada 40 ekor sapi. Dari jumlah itu, 33 ekor sudah terjual, sementara tujuh lainnya memang belum cukup umur dan belum akan dijual tahun ini," ujar Asri.
Menurut Asri, Disnakkan Ciamis telah menerjunkan lima tim pemeriksa yang disebar ke 27 kecamatan melalui masing-masing wilayah UPTD. Pemeriksaan berlangsung sejak 5 Mei dan akan terus dilakukan hingga menjelang Hari Raya Iduladha pada 27 Mei 2026.
"Pemeriksaan terus berjalan sampai mendekati hari H. Tim kami turun langsung ke peternak maupun bandar untuk memastikan hewan yang dijual benar-benar sehat dan layak kurban," jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, petugas juga menemukan sejumlah hewan yang sakit maupun belum cukup umur sehingga tidak diberikan surat keterangan sehat.
"Kalau ada ternak sakit tentu tidak kami loloskan. Begitu juga yang belum cukup umur, tidak akan diterbitkan surat keterangan sehat layak kurban," tegas Asri.
Meski demikian, Disnakkan memastikan ketersediaan hewan kurban di Kabupaten Ciamis masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Iduladha.
"Asal kebutuhan tiap tahun memang fluktuatif, tetapi untuk stok hewan kurban kami pastikan aman. Para peternak dan bandar juga sudah menyiapkan pasarnya masing-masing," ucapnya.
Asri juga menyinggung kondisi penyakit mulut dan kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) yang masih ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia. Namun di Kabupaten Ciamis, kasusnya disebut relatif terkendali.
"Kasus PMK di Ciamis tidak terlalu banyak. Pengendalian sudah dilakukan melalui vaksinasi sejak tahun lalu hingga sekarang. Untuk laporan beberapa minggu terakhir hanya sekitar dua ekor," katanya.
Ia mengimbau para peternak dan pedagang hewan kurban agar tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan kualitas ternak yang dijual kepada masyarakat.
"Kami berharap peternak maupun bandar benar-benar menyediakan hewan yang sehat, cukup umur dan tidak cacat. Jangan hanya fokus mencari keuntungan, tapi abaikan syarat layak kurban," pungkasnya.
(dir/dir)
