Jeritan Pedagang Singaparna: Harga Bawang hingga Minyak Melejit

Jeritan Pedagang Singaparna: Harga Bawang hingga Minyak Melejit

Deden Rahadian - detikJabar
Senin, 11 Mei 2026 14:30 WIB
Pedagang di pasar tradisional di Tasikmalaya.
Pedagang di pasar tradisional di Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian/detikJabar)
Tasikmalaya -

Bau amis telur bercampur aroma bawang yang baru disiram air menyambut pagi di Pasar Tradisional Singaparna. Lampu neon berkedip-kedip di atas lapak, menerpa wajah Kokom yang sudah bersimbah keringat sejak pukul 05.00 WIB.

Di usia 54 tahun, Kokom sudah 20 tahun berjualan telur. Tangannya terampil menata peti, tapi matanya tak lepas dari pandangan hilir mudik pembeli. Kokom berharap pembeli mampir untuk memilih dan memilah telur ayam jualannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sini bu, telurnya bu bagus bagus ini," teriak Kokom.

Kokom masih berharap harga telur stabil mendekati Iduladha. Kini harganya mencapai Rp27 ribu per kilogram.

ADVERTISEMENT

"Telur masih stabil, tapi potensi naik ada jelang Idul Adha. Jadi memang sekarang Rp27 ribuan. Bisa jadi nanti sampai Rp29 ribuan," kata Kokom kepada detikJabar, Senin (11/5).

Kokom tahu, naik sedikit saja, ibu-ibu bisa langsung putar balik. Ia bersyukur pasokan masih banyak karena peternak di kampung-kampung sekitar ramai beternak.

Akan tetapi, ia juga tahu, Iduladha selalu menjadi ujian. Permintaan naik, harga ikut naik. Dan yang paling takut ia dengar adalah kalimat, 'mahal, nanti aja saja belinya'.

Tak jauh dari lapaknya, Ai sibuk melayani tiga pembeli sekaligus. Tangan kanannya menimbang bawang, tangan kirinya mencari plastik. Wajahnya tampak lelah padahal fajar baru saja menyingsing.

Ya, harga bawang naik. Bahkan bawang Jawa tak lagi dia jual karena harganya melonjak.

"Bawang merah naik dari Rp28 (ribu) jadi Rp 34 ribuan per kilogram, itu bawang merah Garut. Bawang Jawa makin mahal, Rp44 ribu per kilogram dari asalnya Rp34 per kilogram," keluhnya.

Ai berhenti sejenak, mengusap peluh. Yang membuatnya makin pusing bukan cuma bawang. Harga plastik pembungkus naik. Minyak goreng pun naik.

"Kami malahan repot lagi adanya plastik naik. Minyak kita yang akan naik, kini naik dari Rp20 ribu jadi Rp22 ribu per kilogram," ujarnya.

Ai bercerita, dulu ia bisa memberikan plastik gratis kepada pembeli. Sekarang, harga satu kilogram plastik sudah hampir menyamai keuntungan dari satu kilogram bawang. Namun, ia tak berani menarik biaya plastik.

"Nanti orangnya kabur. Bilang, di pasar lain gratis," katanya.

Di sudut lapak sayur, Mimin berdiri menenteng keranjang kosong. Ia bolak-balik melihat harga, lalu menghela napas panjang. Mimin membeli bawang hanya setengah kilogram saja. Dia berharap jumlah itu cukup untuk sepekan.

"Turunkan pak atuh harganya teh. Naek wae. Lieur (pusing) kami mah. Ya, beli aja da gimana (butuh)," ucap Mimin.

Menjelang Iduladha, pasar memang selalu ramai. Namun kali ini, keramaian itu seolah diselimuti kecemasan. Pedagang berharap pembeli tetap datang, sementara pembeli berharap harga turun meski sedikit.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads