Persoalan sampah di wilayah Bandung Raya jadi sorotan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat. Menteri yang baru dilantik Presiden Prabowo ini bergerak cepat dan menargetkan masalah sampah di Bandung selesai 2 pekan.
Hal itu diungkapkan Jumhur dalam diskusi lintas elemen di Rumah Kebangsaan HD Soetisno, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Minggu (10/5/2026).
Jumhur menyoroti kondisi darurat sampah di wilayah Bandung. Menurutnya, hal itu terjadi karena produksi sampah harian di wilayah Bandung Raya yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi mencapai sekitar 5.000 ton per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kapasitas pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya sekitar 30 persen atau 1.500 ton per hari. Akibatnya, tumpukan sampah muncul di sejumlah ruas jalan di empat daerah tersebut.
"Saya akhir pekan pun turun langsung mengurus sampah bersama pejabat terkait di Bandung Raya. Kami targetkan darurat sampah selesai dua minggu ke depan. Kami juga sudah berkali menindak tegas jadi tersangka ke salah satu kepala dinas di Jabar karena urusan sampah ini. Kami benar-benar serius mengurus lingkungan hidup," ujar Jumhur.
Dalam forum yang dihadiri aktivis, budayawan, tokoh masyarakat, dan pegiat lingkungan itu, Jumhur menyatakan sepakat dengan masukan dari tokoh Sunda yang tergabung dalam Majelis Musyawarah Sunda (MMS). Menurutnya, persoalan sampah yang tak kunjung selesai meski Indonesia telah merdeka lebih dari 80 tahun menjadi ironi yang harus segera dibenahi.
"Kok bisa 80 tahun merdeka urusan sampah tidak selesai. Karena itu harus ada semangat guyub se-Bandung Raya dengan titik berat pada solusi. Kalau tidak, yang paling rugi itu masyarakat Jabar," katanya.
Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup seharusnya dapat menjadi titik temu berbagai kelompok masyarakat lintas agama, etnis, dan pemerintahan.
"Tekad memuliakan bumi itu bisa mempersatukan semua pihak lintas pemerintah, agama, dan etnis. Tidak mungkin tidak ada solusi. If there's a will there's a way. Saya siap berkomitmen memastikan persoalan ini tuntas," tegasnya.
Sementara itu, Pinisepuh MMS, Dindin S. Maolani, mendorong Jumhur sebagai urang Sunda agar berani mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan persoalan lingkungan hidup, khususnya krisis sampah di Bandung Raya dan Jawa Barat.
"Persoalan lingkungan hidup membutuhkan keberanian moral dan keteguhan sikap. Harus ada keinginan kuat berkhidmat. Keharusan untuk tandang dan ludeng (berani berbuat, red). Persoalan lingkungan hidup itu berat karena bukan hanya sampah fisik tapi juga sampah masyarakat yakni oligarki dan investor hitam sang koruptor lingkungan. Karena itu kami mendorong doa agar Menteri Lingkungan Hidup kuat dan berani," ujarnya.
Pinisepuh MMS lainnya, Holil Umar Aksanzen, menilai sosok menteri berlatar aktivis harus tetap membawa semangat perjuangan rakyat di dalam pemerintahan.
"Aktivis adalah mereka yang habis-habisan berjuang untuk rakyat. Kang Jumhur berdarah aktivis, maka spirit itu harus diteruskan di dalam pemerintahan. Termasuk untuk urusan lingkungan hidup di Garut," katanya.
