Peluk Rindu di Balik Jeruji Lapas Perempuan Bandung

Peluk Rindu di Balik Jeruji Lapas Perempuan Bandung

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 07 Mei 2026 08:00 WIB
Lapas Perempuan Bandung
Lapas Perempuan Bandung (Foto: Istimewa)
Bandung -

"Mama rindu, cepat pulang". Kalimat itu masih terngiang di kepala Dewiyanti (45) setiap kali mengingat pertemuan pertamanya dengan sang anak di dalam Lapas Perempuan Kelas II A Bandung beberapa waktu lalu.

Ucapan sederhana dari mulut anak kecil itu seperti mengetuk ruang paling sunyi dalam dirinya yang selama dua tahun terpisah jarak dan waktu. Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi, ada rindu yang tak pernah bisa dipenjara. Dan di lapas ini, rindu itu diberi ruang untuk pulang, meski hanya semalam.

Hari itu berbeda dari biasanya. Suasana Lapas Perempuan Kelas II A Bandung terasa lebih hangat, lebih hidup. Tawa anak-anak berlarian di antara langkah para ibu yang tak henti menatap, seolah takut kehilangan satu detik pun kebersamaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Program khusus yang memungkinkan anak-anak warga binaan menginap semalam menjadi momen yang dinanti. Bukan sekadar kunjungan singkat di ruang terbatas, tapi waktu utuh untuk kembali menjadi seorang ibu sepenuhnya, memeluk, mendengar cerita, bahkan menemani tidur.

ADVERTISEMENT

"Mungkin Ibu Kalapas ingin mengobati rasa rindu kita, karena sebelumnya belum pernah ada. Saya sangat menghargai itu. Sangat susah bagi kami untuk bisa memeluk anak kapan saja, bareng-bareng tidur," tutur Dewi saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (6/5/2026).

Ia masih memiliki dua anak yang menunggunya di rumah, yang kecil berusia 4 tahun, dan yang besar 10 tahun. Selama ini, kepada mereka ia hanya bisa mengatakan bahwa dirinya sedang bekerja, padahal tidak.

"Tahunya mereka saya di sini bekerja. Saya bilang ke mereka ini tempat kerja saya. Di sini saya juga berkegiatan, ikut pos kerja, ikut kelas juga. Semuanya saya ikuti," katanya.

Pertemuan semalam itu bukan yang pertama, tapi tetap terasa seperti pertama kali. Dua tahun menjalani masa hukuman membuat setiap detik bersama anak terasa mahal. Hal itulah yang dirasakan Dewi.

"Saya sudah menjalani 2 tahun di sini, baru ketemu di Desember kemarin. Biasanya hanya kunjungan saja, itu pun tidak tiap minggu. Saya juga khawatir, karena anak-anak di rumah. Mereka kurang kasih sayang dari mama," ujarnya lirih.

Namun ketika akhirnya bertemu, yang hadir bukan hanya rindu, tapi juga kebanggaan. "Kemarin itu jadi momen yang sangat hangat buat saya. Bisa tidur bareng, dengar cerita mereka. Selama saya tidak bersama mereka, ternyata mereka bisa menjadi lebih dewasa tanpa bimbingan saya. Saya bangga," kata Dewiyanti.

Sehari itu diisi dengan hal-hal sederhana yang justru terasa luar biasa bagi Dewi dan ibu lainnya yang menjadi warga binaan. Mereka bermain game, mengikuti fashion show kecil, hingga anak-anak tampil memperkenalkan diri dan menyampaikan isi hati mereka.

"Selama sehari itu, kegiatannya ada game, ada fashion show, ada tampil ke depan memperkenalkan diri, lalu menyampaikan apa yang ingin disampaikan untuk ibu. Bagi saya itu sangat menginspirasi. Acara kemarin luar biasa. Full sehari bersama anak," katanya.

Lebih dari itu, selain hal-hal kecil yang bisa dilakukan seperti memandikan anak, memeluk mereka tanpa batas waktu, atau sekadar menemani hingga terlelap, para ibu di Lapas Perempuan ini merasa tetap dihargai bagaimanapun masa lalunya.

"Kami bisa bersama anak, yang selama 2 tahun tidak bisa kami mandikan, peluk, atau rawat langsung. Satu hari itu seperti mengobati rindu 2 tahun. Memberi semangat bahwa ada anak yang menanti kita, bahwa kita masih berharga," ucapnya.

"Harapan itu harus ada untuk semua warga binaan. Jangan putus asa. Kita dibina di sini agar jadi lebih baik. Penyesalan pasti ada, tapi kalau terus disesali kita yang sakit. Saya anggap ini takdir indah dari Allah," kata Dewiyanti.

Sementara Siti Uut (49) merasakan hal serupa, meski dengan perjalanan yang berbeda. Ia memilih untuk membawa anaknya mengenal dunia yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, agar tidak tumbuh dengan bayangan yang salah tentang ibunya.

"Alhamdulillah, setiap Ibu Kalapas mengadakan acara, saya selalu ikut. Waktu Hari Anak Nasional juga anak saya ikut lomba. Saya sengaja membawa anak ke sini supaya tahu dan mengenal kondisi ibunya," katanya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia pernah menyaksikan anaknya pulang dalam tangis setelah mendengar cibiran dari lingkungan. "Pernah dia pulang menangis, bilang ke kakaknya, 'Mama sama polisi.' Dari situ saya akhirnya jujur," kenangnya.

Pertemuan pertama di ruang tahanan justru menjadi momen paling berat. "Anak saya melihat jeruji besi, pintu sel dibuka. Itu membuat saya merasa sangat berdosa," katanya.

Namun di Lapas Perempuan Bandung, perlahan pandangan itu berubah. Ia melihat sendiri bagaimana tempat itu tidak hanya menjadi ruang hukuman, tapi juga ruang pembinaan. Ia bahkan menjadikan setiap kunjungan anak sebagai ruang berbagi cerita tentang proses belajar yang ia jalani.

"Mereka suka bertanya, 'Mama kegiatannya apa saja?' Saya jawab ikut kelas bahasa Inggris, bahasa Jerman, kegiatan keagamaan, mengajar ngaji, bahkan kadang jadi imam," katanya.

Bagi Siti Uut, lapas ini adalah "universitas kehidupan", tempat ia belajar memahami ulang makna hidup.

"Anak saya sempat bilang, 'Mam, kenapa masih kelas 2A? Aku sudah kelas 3.' Saya jawab, 'Di sini tidak naik kelas, ini Universitas Kehidupan,'" ujarnya sambil tersenyum.

"Dari pengalaman hidup, saya sadar dulu terlalu mengejar dunia. Itu yang membuat saya sampai di sini. Tapi ini jadi pelajaran berharga," sambung Uut.

Program Khusus

Kepala Lapas Perempuan Kelas II A Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati, menyebut program yang membolehkan anak menginap lahir dari kesadaran sederhana bahwa status sebagai warga binaan tidak menghapus peran seorang ibu dan hak seorang anak.

"Bahwa anak itu kan sebenarnya memiliki hak untuk diasuh oleh seorang ibu, oleh orang tua. Keberadaan warga binaan yang berstatus sebagai seorang ibu di dalam Lapas itu tidak mengurangi di dalam memberikan hak pengasuhan kepada anak," katanya.

"Mereka juga memiliki hak mengunjungi dan hak dikunjungi. Artinya, mereka berhak dikunjungi oleh keluarga," tambahnya.

Lapas Perempuan BandungLapas Perempuan Bandung Foto: Istimewa

Program ini memang difokuskan untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun, usia yang masih sangat membutuhkan kehadiran ibu. Namun tak semua warga binaan bisa mengikuti program ini. Ada syarat yang harus dipenuhi: berkelakuan baik dan aktif mengikuti pembinaan.

"Karena di Lapas itu kegiatannya adalah pembinaan. Ada pembinaan kepribadian, pembinaan kemandirian, yang salah satunya dibuktikan dengan absensi kegiatan mereka," jelas Gayatri.

Selama program berlangsung, suasana dibuat sedekat mungkin dengan kehidupan keluarga. Petugas lapas kemudian menyulap aula menjadi area 'berkemah' dengan tenda-tenda yang memberi ruang privat bagi ibu dan anak.

"Mereka kemah dengan orang tua, sebenarnya di dalam aula, dipasang tenda. Itu memberikan ruang lebih privasi. Satu ibu satu tenda. Bisa membawa satu atau dua anak," katanya.

Kegiatan yang disusun pun dirancang untuk memperkuat ikatan meski hanya berlangsung satu malam. "Ada pentas seni, nonton bareng, kemudian besoknya ada outbound, lomba-lomba yang harus kompak antara ibu dan anak. Jadi semua kegiatan melibatkan keduanya," ujarnya.

Dengan apa yang dilakukan ini, Gayatri berharap warga binaan yang sedang menjalani masa hukuman tetap bisa merasakan dan menjalani tugasnya sebagai seorang ibu.

"Tentunya mempererat hubungan antara ibu dan anak, karena ikatan batin itu tidak bisa diputuskan. Membuat ibu merasa lebih nyaman. Permasalahan yang dihadapi ibu kan sebagian besar adalah kerinduan sama anak, itu terobati," ucapnya.

"Mereka jadi lebih semangat mengikuti pembinaan, menjalani pidananya juga terasa tidak berat," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
[Gambas:Video 20detik] (bba/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads