Bandung punya armada wisata yang selalu diburu pelancong tiap akhir pekan. Namanya Bandung Tour On the Bus (Bandros), sebuah kendaraan modifikasi untuk membawa wisatawan jalan-jalan keliling Kota Kembang.
Bandros punya rute utama di Jalan Diponegoro, tepatnya di depan Museum Geologi, Kota Bandung. Wisatawan kemudian akan dibawa jalan-jalan melewati Balai Kota Bandung, Jalan Asia Afrika dan kembali lagi ke Museum Geologi.
Khusus untuk akhir pekan, Bandros punya rute tambahan yang tak pernah sepi diburu wisatawan. Dari Tugu Maung Braga, penumpang akan dibawa jalan-jalan ke Jalan Dago, memutar ke Taman Lalu Lintas hingga kembali ke Braga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Braga, layanan Bandros pun dibuka hingga pukul 22.00 WIB malam. Wisatawan hanya perlu membayar tarif Rp 20 ribu per orang untuk menikmati jalan-jalan kurang lebih sekitar 45 menit.
Selain menawarkan pengalaman yang tak terlupakan, cerita keseruan Bandros juga datang dari balik kemudinya. Para sopir armada angkutan itu seolah punya kepuasan tersendiri saat membawa para wisatawan jalan-jalan, plus kerap merasa takjub dengan bangunan di Kota Bandung yang mayoritas peninggalan Zaman Kolonial.
Sepenggal cerita ini diutarakan sopir Bandros bernomor 20A yang dikemudikan Agus Rianto (53). Di sela waktu istirahatnya, pria asal Cicaheum, Kota Bandung ini selalu antusias saat mendapat tugas mengemudikan Bandros di akhir pekan.
"Kita mah enjoy aja sih sebenarnya, ngejalanin tugas semaksimal mungkin. Tapi emang suka ngerasa ada kepuasan aja gitu kalau wisatawan yang naek Bandros juga terkesan saat dibawa keliling jalan-jalan," katanya saat berbincang dengan detikJabar.
Menariknya, Bandros bagi Agus ternyata merupakan kerjaan sampingan. Sehari-hari, dia bekerja sebagai sopir bus sekolah koridor 3 dengan rute Leuwipanjang-Dago.
Agus pun pertama kali ditugaskan membawa Bandros saat Braga memberlakukan sistem bebas kendaraan atau Braga Beken pada 2024 yang lalu. Dari sana, Agus kemudian menjadi sopir tetap Bandros untuk rute keberangkatan dari kawasan Braga.
Namun untuk menyesuaikan waktu, Agus biasanya mengambil job itu di shift kedua. Shift ini biasanya dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan berakhir di pukul 22.00 WIB.
"Awalnya kan di bus sekolah dulu, udah gitu diperbantukan ke Bandros pas awal Braga Beken. Jadi kalau Senin-Jumat di bus sekolah, Sabtu-Minggu di sini," ujarnya.
Bekerja Sambil Family Time
Agus menyadari, menjadi sopir Bandros praktis membuat waktu liburan bersama keluarga menjadi berkurang. Namun syukurnya, atasannya kerap memberi izin jika Agus harus meninggalkan tugasnya karena ada keperluan keluarga.
Bahkan tak jarang, Agus kerap mengajak anak bungsunya yang masih berumur 8 tahun ikut berkeliling jalan-jalan naik Bandros. Di momen ini lah Agus merasa tugasnya sebagai seorang ayah masih bisa ia lakukan di tengah kesibukan karena harus bekerja di akhir pekan.
"Namanya tugas kan. Tapi kita kalau misalnya ada keperluan keluarga, itu tinggal izin saja sama atasan. Paling nanti di-rolling tugasnya," ungkap Agus.
"Kalau diprotes sama anak sih enggak, paling yang kecil kalau pengen jalan-jalan naek Bandros ya sekalian diajak nemenin bapaknya kerja. Jadi, kita juga enggak nyampingin keluarga. Kalau mau jalan-jalan, ya udah, biasanya pagi-pagi sebelum narik Bandros kita bawa jalan-jalan dulu," tambahnya.
Sayangnya, perbincangan dengan Agus harus terhenti karena tugasnya sudah menanti. Menutup perbincangannya, Agus mengaku semaksimal mungkin bekerja sebagai sopir Bandros supaya membawa kesan mendalam bagi wisatawan yang berlibur di Kota Bandung.
"Kita mah kan tugasnya nyopir, pemandunya ada lagi. Jadi pemandunya yang nerangin, kita ya jalan aja. Makanya, kita kecepatan juga diatur, enggak bisa kenceng-kenceng. Kalau misalnya ada komplain dari wisatawan, otomatis kan kita kena," katanya.
"Nah, selama ini, kita jalani aja semaksimal mungkin. Yang penting kita enjoy aja supaya wisatawan juga nyaman pas dibawa jalan-jalan," pungkasnya.
(ral/yum)
