Penyintas Macet Horor di Rancamanyar, Perjalanan 40 Menit jadi 3 Jam

Penyintas Macet Horor di Rancamanyar, Perjalanan 40 Menit jadi 3 Jam

Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 19 Apr 2026 09:00 WIB
Kemacetan di Rancamanyar, Kabupaten Bandung
Kemacetan di Rancamanyar, Kabupaten Bandung (Foto: Dok Arif Budi)
Bandung -

Pagi di Rancamanyar wilayah Bandung Selatan tak pernah benar-benar tenang, terutama saat musim hujan datang. Jembatan Citarum yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk kawasan itu berubah menjadi jalur penuh sesak.

Banjir yang terjadi di wilayah Baleendah dan Dayeuhkolot mendorong arus kendaraan menumpuk di titik yang sama, sebuah jembatan kecil di Rancamanyar yang menjadi urat nadi mobilitas warga.

Arif Budi, seorang jurnalis televisi di Bandung, sudah akrab dengan situasi itu. Sejak menetap di Rancamanyar pada 2016, ia menjalani rutinitas yang tak mudah, menembus kemacetan demi mengejar waktu liputan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang kalau musim hujan gini kan PR-nya banjir. Nah banyak yang dari Baleendah lewat ke Rancamanyar. Jadi imbas dari banjirnya di Rancamanyar," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Menurut Arif, kondisi semakin pelik karena jalan di kawasan tersebut kecil dan tidak memiliki alternatif lain. Semua kendaraan dari berbagai arah seolah dipaksa bertemu di satu titik.

ADVERTISEMENT

"Udah mah kecil jalannya, cuma satu gak ada akses lain, jadi macetnya di situ di jembatan itu," katanya.

Kemacetan tak hanya terjadi sesekali. Dalam kondisi tertentu, terutama saat hujan deras mengguyur, situasinya bisa berlangsung setiap hari.

"Kalau musim hujan, terus pada banjir dimana-mana ya tiap hari (macet). Kalau hari biasa paling jam-jam tertentu misal jam 7 pagi sampai setengah 9. Sorenya jam 5 sampai setengah 7," ucap Arif.

"Kalau sekarang macetnya makin lama, mulai lengang itu siang, jam 3 udah mulai macet lagi," imbuh dia.

Kemacetan di Rancamanyar, Kabupaten BandungKemacetan di Rancamanyar, Kabupaten Bandung Foto: Dok Arif Budi

Sebagai jurnalis, waktu adalah segalanya. Arif harus memutar strategi agar tidak terlambat bertugas. Ia memilih berangkat lebih pagi untuk menghindari puncak kemacetan.

"Kalau menghindari macet ya berangkat setengah 7, jadi sekalian antar anak sekolah langsung berangkat. Kalau gak ada agenda tugas pagi, nunggu siangan pas gak begitu macet," tuturnya.

Namun, rencana tak selalu berjalan mulus. Waktu tempuh yang normalnya sekitar 40 menit bisa melonjak drastis saat kondisi memburuk, bahkan sampai berjam-jam hanya untuk menembus macetnya Rancamanyar.

"Normal mah 40 menitan ya, kalau macet bisa satu jam kadang lebih. Bahkan kemarin sampai 3 jam, stuck banget," katanya.

Ia menceritakan pengalaman paling melelahkan saat hujan deras mengguyur Bandung beberapa waktu lalu. Jalanan lumpuh total dan membuat macet semakin parah.

"Kemarin hari Selasa itu, sore hujan besar, pulangnya semua jalan macet dari Cibaduyut sudah macet, sampai Rancamanyar itu ada lah 2 jam lebih," ujarnya.

Upaya mencari jalur alternatif pun sering kali sia-sia. Sebab hal itu juga dilakukan banyak pengendara yang membuat kepadatan menyebar ke hampir semua ruas jalan.

"Biasanya cari jalan alternatif, tapi sama itu juga padat kondisinya kemarin. Jadi terpaksa lewat jalan utama, macet-macetan karena cuma satu akses ke Rancamanyar soalnya yang ke Baleendah, Banjaran pada lewat situ semua," jelasnya.

Harga Lebih Murah

Kondisi ini jelas berdampak pada pekerjaannya. Sebagai jurnalis, Arif kerap mendapat tugas mendadak. Hal itulah yang menjadi tantangan tersendiri baginya karena harus mengejar waktu dengan menerobos macet.

"Ya ganggu sih, kalau ada tugas pagi atau mendadak gitu. Kadang suka ditelpon mendadak ya mau gak mau harus berjuang menerobos macet," katanya.

Meski demikian, Arif memahami alasan banyak orang memilih tinggal di kawasan Rancamanyar, termasuk dirinya. Alasan pertama kata Arif adalah harga rumah yang relatif lebih murah dari lokasi lainnya di wilayah Bandung.

"Karena ya harganya yang lebih murah. Karena di sini kan masih terjangkau perumahan itu dibanding di kota walaupun ya harus macet-macetan," ucapnya.

Meski sudah bertahun-tahun dan terbiasa dengan macet Rancamanyar, namun harapan tetap ada dalam benak Arif. Ia ingin ada solusi nyata dari pemerintah untuk mengurai beban di Rancamanyar.

Apalagi kondisi jalan yang kini juga mulai rusak dan terasa semakin sempit, Arif hanya bisa menghela napas setiap kali harus kembali menghadapi rutinitas yang sama.

"Ya inginnya ada akses lain, dibuka yang langsung ke arah Kopo biar gak menumpuk semua di jalur Rancamanyar ini," harapnya.

"Udah mah jalannya rusak sekarang, tambah sempit, ya udah macet parah," tutup Arif.

(bba/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads