Program Sekolah Maung (Manusia Unggul) di Jawa Barat dipastikan segera berjalan pada tahun ajaran baru 2026/2027. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini tengah mengebut penyusunan berbagai aspek teknis untuk memulai program tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengungkapkan bahwa saat ini seluruh perangkat teknis program tersebut tengah digodok, mulai dari pedoman hingga sistem penerimaan siswa.
"Sekolah Maung ini lagi disusun juknisnya, pedomannya, termasuk SPMB-nya. Ini lagi marathon terus tiap hari (persiapannya)," ujar Purwanto, Jumat (24/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total 40 Sekolah Maung: SMA dan SMK
Purwanto merinci, Sekolah Maung akan tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat dengan komposisi jenjang SMA dan SMK. Nantinya, kata dia, ada Sekolah Maung tingkat SMA di tiap daerah dan tingkat SMK di tiap wilayah cabang dinas.
"Sekolah Maung di tiap kabupaten kota satu, Sekolah Maung setara SMA, terus setiap Cabang Dinas 1 Sekolah Maung setara SMK. Jadi SMA 27, SMK 13," jelasnya.
Artinya, total ada 40 Sekolah Maung yang akan menjadi pusat pembinaan siswa berprestasi di berbagai bidang di Jawa Barat.
Kurikulum Fleksibel, Tak Hanya Akademik
Untuk jenjang SMK, pendekatan yang digunakan akan lebih fleksibel dengan menyesuaikan kebutuhan serta potensi daerah. Kurikulum dirancang khusus untuk mengakomodasi berbagai keunggulan siswa.
"Tergantung nanti kebutuhan prodinya. Kita kan keunggulannya nanti akan dibuat lewat kurikulumnya. Ada yang olahraga, ada macam-macam. Sekarang kan rekrutmennya nanti ada yang akademik ada yang non-akademik. Non-akademiknya salah satunya adalah olahraga," katanya.
Seleksi Khusus, Diatur Lewat Pergub
Berbeda dari sistem penerimaan siswa pada umumnya, Sekolah Maung akan memiliki mekanisme seleksi tersendiri yang dipastikan tidak berbenturan dengan aturan pemerintah pusat.
"Terpisah, pakai Peraturan Gubernur," tegas Purwanto.
Hal ini memberi ruang bagi Pemprov Jabar untuk merancang sistem seleksi berbasis potensi, sehingga penilaian tidak sekadar bertumpu pada nilai akademik formal.
Fokus Layani Siswa Berprestasi
Menurut Purwanto, kehadiran Sekolah Maung bukan karena sekolah yang ada saat ini tidak mampu menampung siswa, melainkan untuk memberikan layanan yang lebih spesifik bagi mereka yang memiliki keunggulan tertentu.
"Sekolah Maung ini kan kita pengen melayani mereka yang mempunyai prestasi untuk bisa dilayani sesuai dengan potensi mereka. Potensi akademiknya, potensi non akademiknya," ujarnya.
Ia menambahkan, konsep yang digunakan adalah diferensiasi pembelajaran. Dalam skema ini, siswa akan mendapatkan pola pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.
"Nanti kita dalam konteks diferensiasi pendidikan pembelajaran ya mereka akan dikhususkan di sekolah Maung," ucap Purwanto.
Kelas Kecil, Guru Disiapkan Khusus
Dari sisi teknis pembelajaran, jumlah siswa per kelas akan dibatasi agar proses belajar mengajar lebih optimal. Sementara itu, kualitas tenaga pengajar akan ditingkatkan melalui program khusus.
"Jumlah siswanya sedang dirumuskan nanti per kelas itu 32 orang satu rombel itu 32 orang. Terus gurunya juga nanti akan kita upgrade atau kita penuhi dengan kualitas guru yang cukup," pungkasnya.
Optimalkan Sekolah Favorit
Meski merupakan program baru, Pemprov Jabar tidak akan membangun gedung sekolah baru. Pemerintah akan mengoptimalkan sekolah-sekolah unggulan yang sudah ada di tiap daerah untuk menjalankan program ini.
"Gak dibangun, kita mengupdate sekolah-sekolah yang dulu menjadi unggulan, misalnya Bandung SMAN 3, Subang SMAN 1 misalnya, kan selalu setiap kabupaten ada sekolah favorit," jelas Gubernur Dedi Mulyadi.
Sekolah-sekolah tersebut nantinya akan diperkuat dengan fasilitas tambahan, teknologi pembelajaran mutakhir, hingga sistem seleksi guru yang lebih ketat.
(bba/orb)
