Ragam Akal Bulus Peserta UTBK 2026: Aksi Joki hingga Alat THT

Kabar Nasional

Ragam Akal Bulus Peserta UTBK 2026: Aksi Joki hingga Alat THT

Cicin Yulianti - detikJabar
Selasa, 21 Apr 2026 13:44 WIB
Konferensi Pers di Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026).
Konferensi Pers di Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026). (Foto: Cicin Yulianti/detikcom)
Bandung -

Pelaksanaan hari pertama Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 pada Selasa (21/4/2026) tidak hanya diramaikan oleh antusiasme peserta, tetapi juga oleh berbagai temuan kecurangan yang terorganisir.

Sejak sesi pertama dimulai, panitia telah mendeteksi beragam upaya manipulasi, mulai dari penggunaan identitas ganda hingga penanaman perangkat elektronik ke dalam anggota tubuh peserta. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST, MT, mengungkapkan sejak awal pihaknya telah melakukan pemetaan ketat terhadap 2.940 data anomali peserta.

"Nah, pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB, kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan oleh peserta UTBK di beberapa pusat UTBK," ujar Eduart saat konferensi pers di Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026), sebagaimana diberitakan detikEdu (baca selengkapnya di sini).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Modus Joki Lintas Tahun: Satu Wajah, Dua Nama

Temuan kecuranagan UTBK SNBT 2026 hari pertama yang dibeberkan pada konferensi pers  di Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026).Temuan kecurangan UTBK SNBT 2026 hari pertama yang dibeberkan pada konferensi pers di Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026). (Foto: Cicin Yulianti/detikcom)

Praktik perjokian masih menjadi ancaman utama dalam integritas seleksi kali ini. Panitia menemukan modus di mana seorang oknum joki menggunakan identitas peserta tahun lalu untuk kembali "bertarung" di tahun ini dengan nama yang berbeda. Temuan ini tersebar di beberapa titik, mulai dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hingga Universitas Negeri Malang (UM).

ADVERTISEMENT
  • Sistem Pelacakan: Berkat integrasi data lintas tahun, panitia mampu mengendus adanya kesamaan data biometrik meskipun nama yang digunakan berbeda.

"Juga masih di pusat UTBK Unsulbar, itu ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi ini sengaja dilihat, jadi orang yang sama itu mengikuti UTBK di tahun 2025-2026 untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama, ikut ujian 2025-2026 untuk dua nama. Bisa dipahami ya? Jadi itu sudah pasti merupakan joki yang mengganti," tutur Eduart.

Siasat Hijab dan Kegagalan Mengelabui 'Face Recognition'

Di Jawa Timur, tepatnya di UPN Veteran Jawa Timur, peserta mencoba teknik yang lebih halus dengan memanipulasi foto profil pendaftaran. Tujuannya untuk menyamarkan identitas asli joki agar tidak terdeteksi saat proses verifikasi di lokasi ujian.

  • Manipulasi Foto: Peserta mengatur posisi aksesoris seperti jilbab agar sedikit menutupi wajah atau memberikan kesan tampilan yang berbeda dari aslinya.
  • Kecanggihan Sistem: Upaya ini ternyata sia-sia karena sistem face recognition milik panitia tetap mampu mengenali struktur wajah asli peserta tersebut.

"Hal yang sama juga di UPN Jawa Timur, UPN Surabaya itu jokinya fotonya saja dimodifikasi sedikit-sedikitlah. Kalau tahun-tahun kemarin jilbabnya agak turun ke bawah, tahun ini jilbabnya agak ke atas gitu kan, tapi kan tidak merubah orangnya sebenernya. Dan melalui face recognition yang kita lakukan itu tetap saja bisa terlacak," ujar Eduart.

Alat Bantu Dengar yang Tertanam Dalam

Berbagai modus kecurangan yang ditunjukkan pada konferensi pers di Pusat UTBK UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026).Berbagai modus kecurangan yang ditunjukkan pada konferensi pers di Pusat UTBK UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026). (Foto: Cicin Yulianti/detikcom)

Temuan yang paling mengejutkan terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Modus ini tergolong nekat karena melibatkan penanaman alat elektronik berukuran mini jauh ke dalam lubang telinga peserta.

  • Tindakan Medis: Saking dalamnya alat tersebut dimasukkan, panitia tidak berani mengambilnya secara manual dan harus merujuk peserta tersebut ke dokter spesialis.

"Yang berikut juga ada kecurangan di pusat UTBK di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, berupa untuk menggunakan alat bantu dengar. Alat bantu dengarnya sampai masuk ke dalam telinga. Jadi kita harus bawa, oleh panitia pusat UTBK ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas ini," ucap Eduart.

Ancaman Sindikat dan Pemalsuan Dokumen

Kecurangan di UTBK 2026 tidak hanya dilakukan secara personal, tetapi juga terindikasi digerakkan oleh sindikat tertentu. Di Unsulbar, panitia mencium adanya pergerakan kelompok yang secara aktif menawarkan janji kelulusan kepada peserta.

  • Iming-iming Sindikat: Kelompok ini mencoba membujuk calon peserta dengan berbagai jaminan kemudahan ujian.
  • Dokumen Palsu: Bersamaan dengan itu, ditemukan pula penggunaan dokumen-dokumen yang telah dipalsukan untuk memuluskan identitas palsu joki saat memasuki ruang ujian.

"Terima kasih laporan dari Unsulbar. Jadi informasi dari Unsulbar bisa digarisbawahi bahwasanya ditemukan adanya indikasi sindikat kecurangan yang memang berusaha untuk mengiming-imingi calon peserta agar supaya bisa mau melakukan ini," tutur Eduart.

Sebagai langkah antisipasi lebih lanjut, panitia SNPMB telah menjadwalkan seluruh pendaftar program studi Kedokteran secara serentak pada hari pertama dan kedua ujian. Strategi ini sengaja diambil untuk menutup celah bagi joki spesialis kedokteran agar tidak bisa mengikuti ujian di waktu yang berbeda untuk peserta yang berbeda pula.

Meskipun akal bulus terus berkembang, panitia menegaskan bahwa teknologi dan sistem pengawasan saat ini sudah jauh lebih siap untuk menjaga integritas masa depan pendidikan Indonesia.




(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads