Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung tak mau kecolongan lagi. Belajar dari kasus joki yang sempat terungkap tahun lalu, kampus ini memperketat pengawasan secara berlapis dalam pelaksanaan UTBK-SNBT 2026, demi memastikan ujian berjalan jujur dan bebas kecurangan.
Tahun ini, ISBI Bandung memfasilitasi sebanyak 8.247 peserta UTBK-SNBT yang tersebar di dua lokasi, yakni Kampus ISBI Bandung dan Universitas Teknologi Bandung (UTB). Ujian digelar selama 10 hari, mulai 21 hingga 30 April 2026, dengan dua sesi setiap harinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 18 ruang ujian disiapkan, terdiri dari 10 ruang di ISBI dan 8 ruang di UTB. Total kapasitas mencapai 8.400 kursi-meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya diikuti 6.603 peserta.
Namun, meningkatnya jumlah peserta juga dibarengi dengan kewaspadaan tinggi terhadap potensi kecurangan, terutama praktik joki yang sempat terungkap pada pelaksanaan tahun sebelumnya.
Ketua Pelaksana UTBK-SNBT ISBI Bandung, Indra Ridwan, menegaskan bahwa pengalaman tersebut menjadi evaluasi penting bagi seluruh panitia.
"Kejadian tahun lalu jadi evaluasi juga oleh panitia pusat bagaimana antisipasinya karena persoalan joki bukan hanya tahun lalu, sebelum-sebelumnya juga," ujar Indra saat diwawancarai, Selasa (21/4/2026).
Menurut Indra, pelaku kecurangan terus mencari celah baru, sehingga panitia harus berpikir lebih adaptif dalam membaca pola-pola yang mencurigakan.
"Namun begitu kita harus berlomba-lomba dengan orang yang mencoba lolos dengan cara yang tidak baik," katanya.
Salah satu langkah antisipasi yang diterapkan tahun ini adalah perubahan sistem pendaftaran peserta. Jika sebelumnya peserta bisa memilih lokasi ujian secara spesifik, kini hanya memilih kota, sehingga jadwal dan lokasi ujian tidak diketahui sebelumnya.
"Tahun lalu peserta bisa mendaftar sesuai lokasi tujuan, daftar misal di ISBI, kita tahu lokasi dan jadwalnya. Itu bisa mendaftar lagi di tempat lain joki itu karena mereka jadi joki untuk beberapa orang. Makanya kenapa ketahuan waktu itu, ada dua peserta berbeda tapi fotonya sama," jelas Indra.
"Makanya tahun ini peserta mendaftar hanya memilih kota, jadi dia tidak tahu ujian dimana dan waktunya kapan. Jadi bisa saja kalau mendaftar di dua tempat waktunya sama," lanjutnya.
Selain itu, panitia juga meningkatkan verifikasi identitas peserta secara lebih ketat, termasuk mencocokkan data dengan jejak digital.
"Kita diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Jadi tahun ini juga ketika ada nama yang dicurigai misal, kita coba buka media sosialnya, sama tidak nama dan fotonya," ungkapnya.
Bahkan, setiap peserta yang masuk ruang ujian diwajibkan menjalani proses dokumentasi ulang sebagai bentuk validasi tambahan.
"Peserta saat masuk ruangan diwajibkan difoto oleh panitia dengan memperlihatkan wajah yang jelas. Jadi duduk di tempat masing-masing dan pandangannya diarahkan ke kamera. Untuk antisipasi jika besok-besok ditemukan orang yang sama," jelas Indra.
(bba/sud)
