Hujan deras dan genangan banjir menjadi saksi peristiwa nahas yang terjadi di permukiman padat Kampung Girang Deket, Kecamatan Banjaran. Remaja perempuan yang diketahui bernama Ginasya Lintang (18) hanyut setelah pijakan kakinya ambruk ke sungai.
Ayah remaja tersebut, Hersi Hardiana (43) mengatakan, saat peristiwa mencekam terjadi, anaknya tengah membersihkan genangan air. Bahkan, terdapat anak-anak di sekitar lokasi yang tengah bermain dan merekam video aktivitas anaknya tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, korban berjalan ke area dekat sungai yang kondisi fondasi temboknya telah retak. Hal tersebut diketahui Hersi setelah mendengar informasi dari warga lainnya.
"Saat sedang bersih-bersih, saya mendengar teriakan warga, Itu ada yang hanyut, ada yang hanyut, tolong dibantu. Saya awalnya tidak menyadari bahwa itu anak saya, saya melihat dua kepala (korban dan seorang ibu-ibu) di air dan langsung terjun untuk menolong," ujar Hersi, kepada awak media, Kamis (16/4/2026).
Setelah terombang-ambing derasnya air, Hersi mendengar teriakan "ayah" saat salah satu orang muncul ke permukaan air. Ia langsung berenang sekuat tenaga untuk menarik remaja tersebut yang ternyata adalah putrinya.
"Sempat ke bawa sama yang bantuin, tapi lepas lagi. Saya bilang pas udah dapet, supaya menepi. Tapi malah lepas lagi. Pokonya terakhir dia bilang pas dipermukaan air teh 'kuat nya ayah, kuat'," kata Hersi dengan mata sembab.
Hersi mengaku sempat menepi di jembatan depan SMAN Baleendah. Kemudian, beberapa warga lainnya membantu dirinya untuk naik ke daratan.
"Saya akhirnya menepi di area SMA setelah kelelahan dan berpegangan pada rumput. Setelah saya naik dibantu warga menggunakan tali. Terus katanya ada Pak Agus yang turun bantuin, saya juga nggak tahu turunnya kapan. Saya terus mencari informasi hingga ke daerah Cipaku," ungkapnya.
Setelah itu, dirinya menerima informasi bahwa anaknya telah ditemukan di daerah Cipaku, Banjaran. Hersi langsung menyusul dan membawa jenazah anaknya untuk dibawa pulang ke rumah duka.
"Kami keluarga menyatakan sudah ikhlas dengan kejadian tersebut," jelasnya.
Menurutnya, seminggu sebelum kejadian, anaknya telah memperingatkan bahwa kondisi Tembok Penahan Tanah (TPT) yang berada di pinggir sungai telah retak. Kekhawatiran yang sempat diutarakan sang anak kini benar-benar terjadi.
"Terus anak saya sempat berucap, "Cuma tinggal waktu, cuma tunggu waktu," yang kini dianggap keluarga sebagai firasat," bebernya.
Dia mengaku debit air yang deras pernah terjadi pada tahun 2017 silam. Kemudian, debit air yang besar di Sungai Cibanjaran kembali terjadi pada tahun 2026 ini.
"Karena sudah lama tidak terjadi banjir besar sejak 2017, warga setempat cenderung kurang waspada saat kejadian berlangsung di tahun 2026 ini," tuturnya.
Hersi menambahkan, anaknya tersebut dikenal sebagai sosok yang ceria, baik, dan dekat dengan anak-anak kecil. Sebagai anak semata wayang, keluarga pun merasa sangat kehilangan sosok Gina.
"Anak saya baru saja lulus sekolah dan sedang menunggu pengambilan ijazah. Anak saya berencana untuk bekerja guna membantu ayahnya ya saya," pungkasnya.
Simak Video "Video: Hujan Deras Terus, 154 RT-20 Ruas Jalan di Jakarta Banjir"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
