4 Ribuan Warga Terdampak Banjir di Desa Tegalluar Bandung

4 Ribuan Warga Terdampak Banjir di Desa Tegalluar Bandung

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 15 Apr 2026 17:04 WIB
Kondisi banjir di Kampung Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026).
Kondisi banjir di Kampung Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Ribuan warga terdampak banjir di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026). Ketinggian banjir rata-rata sekitar 60 sentimeter hingga 120 sentimeter di area permukiman.

Banjir menggenang Jalan Raya Sapan dan hingga ke permukiman warga. Para area permukiman, warga hanya bisa beraktivitas dengan perahu dan menembus genangan dengan seadanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada area jalan raya, kendaraan yang bisa melintasi jalan tersebut hanya menggunakan truk besar dan mobil bak terbuka. Sehingga warga tidak jarang menumpang kedua kendaraan tersebut untuk menerjang banjir.

Kendaraan roda dua milik warga terpaksa disimpan di pinggir jalan di depan sebuah pabrik yang belum terendam. Banjir di wilayah tersebut merupakan luapan dari Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, dan Sungai Citarum.

ADVERTISEMENT

"Kondisi banjir di Desa Tegalluar sangat memprihatinkan gitu, ya. Hampir kurang lebih sekitar wilayah Desa Tegalluar itu 75 persen ya terdampak banjir, terendam gitu," ujar Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, saat ditemui di lokasi.

Pihaknya mengungkapkan, saat ini sebanyak 4.075 warga terdampak genangan banjir. Data tersebut direkap dari mulai air menggenang sejak Sabtu (11/4/2026) sampai dengan hari ini.

"Dari 6.700 warga, sebanyak 4.075 warga terendam banjir rumahnya," katanya.

Galih menyebutkan, banjir di Desa Tegalluar merupakan kiriman dari Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Air dari drainase tersebut mengalir ke permukiman yang ada di Desa Tegalluar.

"Banjir di sini airnya datang atau kiriman dari baik Kotamadya, dari Sumedang, Jatinangor, termasuk Rancaekek. Nah, itu adalah salah satu air yang mulai masuk contoh dari Ujungberung, Gedebage, itu masuk ke Cinambo. Dan Cinambo itu masuk ke Sungai Cikeruh.Lanjut dari Jatinangor, Rancaekek masuk ke Sungai Cikeruh," jelasnya.

Dia menjelaskan, pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Bandung telah berupaya menangani permasalahan banjir. Salah satunya melakukan normalisasi Sungai Cipamokolan Lama.

"Karena ada Cipamokolan Baru yang pada akhirnya Cipamokolan Lama itu mati. Alhamdulillah kita sudah melaksanakan secara pentahelix, terutama oleh Pemerintah Kabupaten Bandung itu sudah melaksanakan normalisasi," ucapnya.

"Alhamdulillah itu sangat bermanfaat untuk aliran air gitu, mempercepat untuk menurunkan debit air yang ada di wilayah Desa Tegalluar," tambahnya.

Galih mengaku ke depannya jika dalam kondisi kemarau akan kembali melakukan normalisasi saluran anak sungai. Kemudian nantinya anak-anak sungai tersebut akan disatukan ke sungai Cipamokolan Lama.

"Mudah-mudahan ke depannya kita juga sudah diskusi di hari tadi gitu ya, akan coba kita ke depannya manakala sudah kering, kita akan melakukan kembali untuk normalisasi saluran-saluran anak," ungkapnya.

Menurutnya menangani permasalahan banjir harus dilakukan secara bersama-sama se-Bandung Raya dan dikomandoi oleh Pemprov Jabar. Dengan itu akan menghadirkan solusi dan penanganan banjir ke depannya.

"Jadi harus turun ya dari tingkat Provinsi untuk bisa duduk bersama untuk mengkomunikasikan Bandung Raya untuk menghadapi permasalahan bencana banjir yang ada di Kabupaten Bandung. Harapan kami bahwa mudah-mudahan ke depannya ada solusi yang terbaik untuk permasalahan banjir di Desa Tegalluar," pungkasnya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads