Memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran vs Israel dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap rute penerbangan haji 2026. Meski demikian, pengelola Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati memastikan kesiapan operasional tetap berjalan normal.
Direktur Utama PT BIJB Ronald H. Sinaga menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai instansi terkait guna mengantisipasi dinamika situasi di kawasan tersebut.
"Memang ini menjadi pertanyaan di awal. Tim teknis kami sudah rapat dengan pihak-pihak berkompeten, mulai dari Airnav, operator, hingga Kemenhaj (Kementrian Haji dan Umrah) Kami selalu melakukan briefing," kata Ronald kepada detikJabar, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil briefing terakhir, jadwal penerbangan haji masih berjalan sesuai rencana. Namun, perubahan tetap dimungkinkan mengingat situasi di Timur Tengah yang berkembang sangat cepat.
"Briefing terakhir itu menyampaikan bahwa saat ini sesuai dengan schedule. Tapi kita tidak tahu karena perubahannya sangat cepat. Kalau nanti ada alternatif rute atau pemindahan, kami ikut saja," ujarnya.
Ronald menegaskan keputusan terkait rute penerbangan sepenuhnya berada di tangan otoritas Arab Saudi dan kementerian terkait. BIJB, kata dia, hanya berperan sebagai operator bandara yang memastikan kesiapan keberangkatan dan kepulangan jemaah.
"Kalau misalnya dipindahkan ke mana, ya itu adalah kebijakan yang dilakukan oleh Kemenhaj sama otoritas yang ada di Saudi. Kami siap menerbangkan dari sini dan siap menerima kepulangan. Itu yang paling penting," tegasnya.
Sementara itu, Plt Commercial Manager PT BIJB Erwan Susilo menambahkan pihaknya telah mengikuti rapat lintas instansi yang melibatkan operator penerbangan, Airnav, hingga unsur keamanan.
Dalam rapat tersebut, dibahas berbagai skenario menghadapi potensi gangguan akibat konflik di Timur Tengah. Meski begitu, hasil kesepakatan sementara menyatakan layanan haji tetap berjalan normal. "Fase pertama tetap menuju Madinah untuk 20 kloter, lalu fase berikutnya 20 kloter langsung ke Jeddah," jelas Erwan.
Ia juga menyebut maskapai pengangkut, yakni Saudi Arabian Airlines (Saudia), telah menyiapkan sejumlah opsi bandara alternatif jika kondisi di Arab Saudi tidak memungkinkan.
"Kalau kondisinya tidak bagus, pihak pengangkut (Saudi Airline) sudah punya rencana alternatif bandara. Bahkan kemungkinan di luar Arab Saudi juga sudah diantisipasi," ungkapnya.
Baca juga: Duh! 3 ASN Pemkot Bandung Keluyuran Saat WFH |
Terkait penjadwalan, Erwan menegaskan hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab maskapai. Sementara BIJB fokus memastikan kesiapan aspek keselamatan dan kelayakan penerbangan.
"Kami memastikan jemaah steril, pesawat aman, dan seluruh prosedur terpenuhi. Jadi layak untuk diberangkatkan. Itu sesuai kapasitas kami sebagai operator bandara," pungkasnya.
(iqk/iqk)
