Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat, sejak tahun 1991 kasus HIV/AIDS di Kota Bandung mencapai 14.107 orang. Dari jumlah tersebut, Orang dengan HIV (ODHIV) yang masih hidup sekitar 10.171 orang. Namun, hanya sekitar 63 persen atau 6.489 ODHIV yang mengakses layanan atau masih dalam pengobatan Antiretroviral (ARV).
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung memiliki tugas dalam merumuskan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS, mengampanyekan pencegahan infeksi baru, serta mengikis stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV di lingkungan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mempercepat hal tersebut, KPA Kota Bandung membentuk community organizer (CO) yang tersebar di 30 kecamatan di Kota Bandung. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Sekretariat KPA Kota Bandung, Maya Verasandi.
"Community organizer itu memang program inovatif Kota Bandung. Dulu Kemenkes pernah ngadain program layanan kesehatan berkesinambungan, penanganan dilakukan secara pentahelix di tingkat kota, jadi harus juga sampai masif di tingkat kewilayahan," kata Maya dijumpai di Kantor KPA Kota Bandung belum lama ini.
Maya mengklaim, community organizer atau disingkat CO merupakan program satu-satunya di Indonesia yang dijalankan oleh pemerintah kota.
"Yaitu untuk prinsipnya masyarakat digerakkan oleh community organizer itu dan satu-satunya di Indonesia ada di Kota Bandung, ini dibayar oleh pemerintah, ada satu orang CO di tiap kecamatan," ujarnya.
Tugas dan fungsi CO, menurut Maya, serupa dengan fungsi KPA di tingkat kota, namun mereka bertugas secara spesifik di setiap kecamatan.
"Jadi seperti KPA tapi di tingkat kecamatan. Dia di kewilayahan kan ada berbagai macam pemerintahan, mulai dari camat, kelurahan, ada organisasi-organisasi. Terusnya sampai ke tingkat RT/RW, Poshyandu, kita bagaimana melakukan suluh, temukan, obati, dan pertahankan," tuturnya.
Kepala Sekretariat KPA Kota Bandung, Maya Verasandi. (Foto: Wisma Putra/detikJabar) |
Menurut Maya, setiap CO akan melakukan edukasi secara intensif. CO juga mengajak masyarakat yang rentan dan berisiko untuk melakukan deteksi dini ke fasilitas kesehatan yang tersedia di Kota Bandung.
"Setelah tahu, paham, sadar, bahwa HIV/AIDS itu bisa berbahaya bagi masa depan, sehingga menimbulkan kesadaran dari masyarakat untuk ingin mendeteksi dini kesehatannya secara awal," tuturnya.
"Jadi kita tes HIV di masyarakat tidak lagi ada stigma ketakutan, tapi kita dengan terintegrasi dengan cek kesehatan gratis," tambahnya.
Kolaborasi Antarpihak
Maya menyebut, tugas CO lainnya yakni bekerja sama dengan LSM Peduli AIDS di Kota Bandung. Hal itu dilakukan untuk memudahkan dan memperluas jangkauan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS.
Bagi KPA, penjangkauan lebih difokuskan kepada masyarakat umum hingga ke tingkat RT, RW, kader, remaja, serta berbagai institusi.
"Tapi untuk populasi yang beresiko, yang tadi WPS, sex lelaki, waria, pengguna narkoba suntik, kita ada mitra, mereka juga sebagai anggota KPA, yakni LSM Peduli AIDS. Nah, LSM Peduli AIDS ini, kita ada programnya, mereka itu penjangkauan, misal penjangkauan kepada wanita penjaja seks," jelasnya.
Penjangkauan yang dilakukan LSM Peduli AIDS mencakup edukasi, pembagian kondom, dan pemeriksaan (testing) HIV.
"Dan itu sangat konfidensial, sangat rahasia sekali, tetapi bagaimana kita menciptakan peer educator di sesama populasi itu, sehingga menimbulkan kesadaran untuk menggunakan kondom ketika berhubungan seksual beresiko dan mau untuk tes HIV," pungkasnya.












































