Orang-orang Sunda lama percaya sosok hantu penunggu gunung. Semua gunung di Sunda dijaga sosok ini. Nama jenis hantu ini adalah Guriang. Gunung yang dijaga, termasuk Gunung Guntur di Kabupaten Garut.
Baru-baru ini, seorang remaja berinisial MR, warga Garut, ditemukan dalam kondisi linglung tanpa mengenakan pakaian di permukiman warga di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Minggu (29/3) malam. Sebelumnya, MR dilaporkan hilang saat mencari serangga di kawasan kaki Gunung Guntur bersama dua saudaranya.
Saksi mata mengatakan bahwa dia mendengar MR berbicara tentang hantu di perjalanan ke gunung itu. Bahkan, keponakan MR yang merupakan anak Ai, meminta pulang karena ketakutan dengan hantu yang diceritakan MR. Karena ngelantur, MR akhirnya dibawa ke pusat kesehatan untuk diperiksa fisik dan psikisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkikah hantu yang dibicarakan MR itu adalah guriang? Nama Guriang muncul dalam sejumlah sastra lama. Di zaman ini, Guriang juga terceritakan dalam lagu Sunda yang digubah maestro karawitan, Koko Koswara atau Mang Koko.
Makna Kata Guriang
Menurut arti katanya, sebagaimana di dalam kamus Sundadigi, guriang adalah makhluk halus dan kebanyakan diceritakan dalam sastra Sunda lama seperti carita pantun.
Namun, kamus itu juga menyebutkan sifatnya, yaitu 'guntayang' yaitu yang bergelantungan dari pohon ke pohon atau gentayangan. Sementara dari kedekatan katanya, Guriang dekat dengan kata Kuriang yaitu tokoh Sang Kuriang.
Di dalam kamus disebutkan pula bahwa nama Sang Kuriang yang menjadi tokoh utama dalam legenda Tangkuban Parahu, merupakan perubahan dari Sang Guriang.
Guriang dalam Lagu Mang Koko
Mang Koko menggubah lagu berjudul 'Malati di Gunung Guntur' diceritakan bukan hanya satu jumlahnya. Lagu itu menyebutnya 'Para Guriang'.
Lagu itu berkisah tentang tanaman bunga melati yang tumbuh di lereng Gunung Guntur. Sangat cantik melati itu sehingga siapapun ingin menggapainya, termasuk aku liris dalam lagu tersebut ingin memetiknya meski tidak jadi.
Agak sedikit menyesal mengapa melati itu tidak dipetik saja. Tapi, aku liris keburu ingat bahwa melati itu sengaja ditanam oleh para guriang.
"Malati di Gunung Guntur
Hanjakal henteu dipetik
BΓ©ja geus aya nu boga
Ngahaja melak di dinya para guriang."
(Melati di Gunung Guntur
Sayang tidak dipetik
Katanya sudah ada yang punya
Sengaja menanam di situ para guriang)
Sampai selesai lagu ini, aku liris tidak memetik bunga itu. Dia keburu pergi menjauh dari sekitar gunung tersebut. Tetapi, kabar sampai kepadanya bahwa sejauh ini melati tidak ada yang memetiknya. Jadi masih ada di lereng gunung.
Guriang Tujuh dalam Carita Pantun Mundinglaya Dikusumah
Mundinglaya Dikusumah adalah carita pantun yang tidak bisa dilewatkan bagi peminat Kesundaan. Cerita tentang pencarian Lalayang Salaka Domas atau di-Indonesiakan menjadi Layang-layang Kencana oleh Prabu Mundinglaya Dikusumah, mempertmukan tokoh ini dengan Guriang Tujuh.
Lalayang Salaka Domas adalah jimat yang dicari berdasarkan mimpi ibu Mundinglaya, yaitu Nyimas Padmawati yang merupakan salah satu permaisuri Prabu Siliwangi.
Ketika Padmawati mengutarakan mimpinya kepada suaminya itu, selir-selir yang lain punya kesempatan untuk memojokkan Padmawati, yaitu dengan memintanya membuktikan mimpinya. Kalau tidak, Padmawati berarti bohong.
Padmawati meminta bantuan Mundinglaya Dikusumah, anaknya yang lelaki langit lelanang jagat. Dia, dengan doa tulus sang ibu, diharapkan bisa menemukan Lalayang Salaka Domas. Dari sini, kisah dimulai.
Kisah pertualangan ini diwarnai banyak kejadian seru. Termasuk puncaknya melawan Guriang Tujuh yang menjaga Lalayang Salaka Domas itu. Hebatnya, Guriang Tujuh yang semula jumlahnya tujuh, bisa menggabungkan diri menjadi satu dengan kekuatan yang tentu saja lebih mematikan. Guriang Tujuh menjelma Guriang Tunggal.
Makhluk Halus Khas Sunda Lainnya
Sebagai wilayah yang telah punya peradaban sejak sekitar abad ke-4 M, Sunda punya banyak istilah hantu. Selain guriang yang dipercaya orang-orang Sunda lama, ada pula nama-nama hantu yang dikenal di zaman ini.
detikJabar merangkum daftar makhluk halus khas Jawa Barat lainnya. Data ini dikutip dari studi yang dilakukan Thufail Hakim, Aris Kurniawan, dan Wuri Widyani Hapsari berjudul "Pengenalan Jenis Makhluk Halus Dalam Tradisi Sunda Melalui Buku Ilustrasi", di Itenas Bandung (2023).
Studi desain komunikasi visual itu merekam hasil wawancara kepada sejumlah orang dengan kemampuan indigo. Setelah terhimpun deskripsi dari jenis-jenis mahluk halus itu, deskripsi tersebut kemudian dituangkan menjadi gambar. Berikut daftarnya:
Aden-aden : Hantu bermuka rata.
Aul : Manusia serigala dengan posisi kepala terbalik menghadap kebelakang.
Buta Hejo : Jin dengan wujud besar berwarna hijau, biasa dijadikan sebagai media pesugihan.
Budak Hideung : Sosok anak kecil berwarna hitam.
Genderuwo : Jin dengan wujud seperti kera berukuran besar dengan bulu berwarna hitam dan lebat di sekujur tubuhnya.
Gulutuk Sengir : Hantu kepala yang terpisah dari badannya.
Ipri : Jin dengan sosok setengah manusia setengah ular.
Jurig Jarian : Hantu yang menghuni tempat-tempat kotor seperti tempat sampah.
Karuhun : Makhluk halus yang berasal dari sosok yang dihormati semasa hidupnya, tidak jarang dianggap suci.
Kelongwewe : Makhluk halus berwujud wanita dengan sayap seperti kelelawar yang suka menculik anak-anak.
Kuntilanak : Hantu berwujud wanita menggunakan kain berwarna putih.
Lulun Samak : Hantu berwujud tikar yang berada di air.
Maung Bodas : Khodam atau jin penjaga dari Prabu Siliwangi.
Munding Dongkol : Jin dengan wujud setengah kerbau dan setengah manusia yang hidup di air.
Nyi Pohaci : Dewi kesuburan
Nyi Roro Kidul : Ratu Penguasa Pantai Selatan.
Pocong : Makhluk halus yang berwujud manusia dibungkus kain kafan.
Ririwa : Arwah penasaran yang meninggal dengan cara yang tidak wajar.
Sandekala : Jin dengan tubuh besar, bertanduk, memiliki sayap, dan bermata merah yang muncul saat senja dan suka menculik anak-anak.
Tuyul : Makhluk halus dengan sosok anak-anak yang suka dipelihara untuk mendapat kekayaan.
(tya/tya)
