Kota yang karib disapa Kota Kembang ini memiliki ritme kehidupan yang tak pernah berjeda. Memulai hari dengan balutan udara dingin yang khas, aktivitas masyarakatnya terus berdenyut kencang dari siang, sore, hingga menjelang petang. Bahkan saat matahari terbenam, gemerlap lampu kota seolah menandakan bahwa kehidupan di kota ini tidak pernah tidur.
Namun, di balik gemerlap cahaya dan suasana kota yang tak pernah tidur itu, tersimpan tantangan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Senyap di antara hiruk-pikuk aktivitas warga kota, kasus HIV/AIDS di kota yang berjuluk Parijs van Java ini masih menjadi isu krusial yang membayangi produktivitas masyarakatnya.
Ketua Panel Ahli Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, dr. Agung Firmansyah Sumantri mengatakan, sepanjang tahun 2024 Dinas Kesehatan Kota Bandung telah melakukan pelayanan tes pemeriksaan HIV/AIDS terhadap 113.155 orang. Apa hasilnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, dari 113.155 itu yang positif ada 1.167 kasus HIV. Nah, dari 1.167 itu ada yang 343 masuk kategori AIDS. Kalau kita ketahui HIV ada 4 stadium kan, yang AIDS itu adalah stadiumnya yang terminal atau stadium 4 lah. Jadi dia yang lebih banyak dengan komplikasi-komplikasinya," kata Agung dijumpai di Kantor KPA Kota Bandung belum lama ini.
Merujuk data Dinas Kesehatan Kota Bandung, data kumulatif kasus ODHIV dari tahun 1991 hingga Desember 2024 telah terdeteksi sebanyak 14.107 orang. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan estimasi dari Kementerian Kesehatan RI yang menyebutkan estimasi seharusnya berada di angka 14.426 orang.
"Nah, dari 14.107 orang itu yang di Kota Bandung yang dengan ODHIV yang masih hidup itu ada sekitar 10.171 orang," ujarnya.
Namun menurut Agung, dari 10.171 ODHIV itu, yang mengakses layanan atau yang masih dalam pengobatan Antiretroviral (ARV) hanya sekitar 63 persen atau 6.489 orang.
"Jadi artinya disini ada gap (kesenjangan) dan tantangan utama kita bukan hanya pencegahan, tetapi tadi case finding, lalu linkage to care sama keberlanjutan pengobatannya," ungkapnya.
Akibat Hubungan Seksual
Agung menjelaskan, mayoritas kasus HIV/AIDS di Kota Bandung ditularkan melalui hubungan seksual. Namun, dari sekian banyak kasus tersebut, warga asli Kota Bandung hanya mencakup 53 persen, sementara sisanya merupakan warga pendatang.
"Dari data yang diperoleh 87% kasus ini terdeteksinya karena hubungan seksual dan perlu ditekankan bahwa dari data yang didapatkan di Kota Bandung itu 53%-nya adalah warga Kota Bandung, tapi 47%-nya adalah warga luar Kota Bandung," jelasnya.
Meski terdapat ODHIV yang berasal dari luar kota, pengobatan tetap bisa dilakukan di fasilitas kesehatan milik Kota Bandung karena HIV/AIDS karena merupakan isu kesehatan nasional.
"Iya, dan itu masih menjadi beban kita juga (Kota Bandung), karena kita tidak bisa membedakan warga, terutama untuk kasus HIV ini karena isunya kan isu nasional, tapi dibebankannya kepada wilayah kabupaten/kota," tutur Agung.
Profesi Rentan Terjadi Penularan
Agung tidak merinci banyak profesi dalam sebaran kasus HIV/AIDS di Kota Bandung ini. Namun menurutnya, karyawan swasta menjadi penyumbang tertinggi dalam temuan kasus tersebut.
"Banyaknya profesinya adalah karyawan swasta malah. Karyawan swasta dan ini menunjukkan bahwa pentingnya pendekatan berbasis tempat kerja, sebagai salah satu strategi pencegahan," ujarnya.
Selain itu, hal yang lebih memprihatinkan adalah temuan bahwa ODHIV di Kota Bandung didominasi oleh kelompok usia muda atau usia produktif.
"Dan kasus yang terbanyak pun ditemukan dalam kelompok usia produktif, antara 20 sampai 49 tahun," ujarnya.
Tak hanya masalah kesehatan, HIV/AIDS ini berdampak langsung terhadap produktivitas ekonomi, stabilitas keluarga, serta pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Terkait apakah tingginya angka ODHIV dari kalangan pegawai swasta dipicu pergaulan di lingkungan kerja, Agung enggan memberikan vonis. Begitu pula terkait ODHIV yang berprofesi sebagai pelajar, mahasiswa, hingga ASN. Ia menegaskan data yang ada menunjukkan dominasi pada rentang usia produktif.
"Kalau itu sih kita tidak bisa judgement, cuman kebanyakan profesinya adalah karyawan swasta, cuman yang jelas usia produktifnya, usia yang terdeteksinya antara 20 sampai 49 tahun, artinya dari berbagai jenis profesi ya," terang Agung.
Penanganan HIV/AIDS di Kota Bandung
Guna menekan angka penyebaran kasus HIV/AIDS di Kota Bandung, Pemkot Bandung melalui Dinas Kesehatan dan KPA Kota Bandung menggulirkan berbagai program strategis.
"Jadi KPA sangat aktif juga dalam pemberdayaan masyarakat, dalam mendeteksi-mendeteksi kasus HIV di Kota Bandung. Dari program-program KPA ini, contohnya kita ada program untuk remaja. Program remaja ini jadi pemeriksaannya di institusi kesehatan dan membangun kesadaran sejak dini," ucapnya.
"Lalu ada juga program untuk ibu dan anaknya, jadi berkolaborasi dengan pemerintah sektor untuk screening HIV, sipilis dan hepatitis B pada calon pengantin serta ibu hamil," tambahnya.
Selain itu, terdapat pula program pencegahan transmisi seksual melalui edukasi dan kemitraan dengan dunia usaha serta komunitas. Upaya screening HIV dilakukan di tempat kerja, terminal, tempat hiburan, hingga fasilitas spa. Ada juga program pemberdayaan masyarakat melalui penguatan Warga Peduli AIDS (WPA) di tingkat kecamatan dan kelurahan agar masyarakat dapat menjadi agen informasi dan pencegahan.
"Dan lebihnya di KPA Kota Bandung itu kita memiliki yang namanya program CO atau Community Organizer, jadi di setiap kecamatan ini menggerakkan, fungsinya ini untuk menggerakkan segera stakeholder di kewilayahan agar memberikan kontribusi program pencegahan dan penularan HIV. Dan yang terakhir tentunya program pengobatan HIV, jadi agar mempermudah akses layanan ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh obat antiretroviral, ke puskesmas bisa, ada 31 ya fasilitas kesehatan di Kota Bandung yang bisa pengobatan HIV," terangnya.
Agung memastikan, tingginya angka temuan kasus HIV/AIDS di Kota Bandung membuktikan bahwa upaya penjangkauan dilakukan secara masif dan intensif.
"Ya, jadi dengan adanya KPA ini pemerintah sebenarnya sangat terbantu ya. Jadi program penjangkauan bener-bener intensif lah," pungkasnya.
