Penampakan angin puting beliung yang menyedot air di kawasan Tanjungsari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung sempat menghebohkan warga, Jumat (10/4/2026) kemarin. Kejadian ini menimbulkan kerusakan berupa empat pohon tumbang dan satu rumah warga rusak ringan. Dampaknya juga dirasakan hingga wilayah Kecamatan Pameungpeuk dan Banjaran.
Tak hanya wilayah Kabupaten Bandung, cuaca buruk juga terjadi di Kota Bandung, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Subang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Purwakarta.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan bahwa berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, kondisi cuaca di Jawa Barat sangat dipengaruhi suhu muka laut yang hangat di sebagian besar perairan Indonesia. Hal ini memicu tingginya suplai uap air, ditambah adanya area belokan angin dan konvergensi di sekitar wilayah Jawa Barat.
"Kondisi tersebut mendukung potensi pembentukan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat, serta aktifnya gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby di sebagian wilayah Jawa Barat, serta didukung kelembapan udara yang sangat tinggi pada lapisan 850-500 mb (berkisar 60-98%) dan tingkat labilitas atmosfer kategori ringan hingga kuat, yang secara kolektif menjadi pemicu utama meningkatnya potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal yang masif di sebagian besar wilayah Jawa Barat," kata Teguh Rahayu dalam keterangan resmi yang diterima detikJabar, Sabtu (11/4/2026).
Ayu, sapaan karib Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa rangkaian bencana di Jawa Barat pada 10 April 2026 secara visual berkorelasi dengan munculnya sel-sel awan konvektif (Cumulonimbus). Tingkat kematangan SPA < -75°C dan radar > 50dBZ berkorelasi langsung dengan hujan es yang terjadi di Kertajati.
Simak Video "Video: Sayap Pesawat Timpa Atap Rumah Warga di Bogor gegara Puting Beliung"
(wip/mso)